Mahasiswa Teknologi Pangan Harus Tahu: 4 Syarat Utama Agar Makanan Bisa Menjadi Makanan Pokok

Di Indonesia, kita sering mendengar seloroh “kalau belum makan nasi, artinya belum makan.” Pernyataan ini menunjukkan betapa kuatnya posisi nasi sebagai makanan pokok di negeri kita. Namun, secara global, makanan pokok tidak selalu nasi. Ada masyarakat yang mengonsumsi gandum, jagung, kentang, hingga singkong sebagai sumber energi utama mereka.

Pernahkah Anda bertanya, kenapa harus bahan-bahan tersebut? Kenapa bukan apel atau cokelat yang dijadikan makanan pokok? Ternyata, dalam dunia Teknologi Pangan, ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi agar sebuah komoditas bisa menyandang status sebagai makanan pokok.

Di Universitas Ma’soem, pemahaman mengenai ketahanan pangan dan diversifikasi pangan pokok menjadi salah satu topik diskusi yang menarik. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis mengenai bagaimana kita bisa mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pangan saja.


4 Syarat Utama Makanan Pokok

Agar suatu bahan pangan bisa dikategorikan sebagai makanan pokok oleh suatu masyarakat, setidaknya harus memenuhi empat syarat berikut:

1. Mengandung Karbohidrat Tinggi sebagai Sumber Energi

Syarat paling mendasar adalah kandungan nutrisinya. Makanan pokok harus mampu memberikan energi yang cukup untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, makanan pokok umumnya didominasi oleh kelompok serealia atau umbi-umbian yang kaya akan karbohidrat kompleks. Energi ini penting karena makanan pokok dikonsumsi dalam jumlah besar secara rutin.

2. Mudah Didapat dan Dibudidayakan (Availability)

Sebuah bahan pangan tidak bisa menjadi makanan pokok jika keberadaannya langka atau hanya muncul di musim tertentu secara singkat. Makanan pokok haruslah komoditas yang mudah ditanam di lingkungan setempat dan tersedia sepanjang waktu. Itulah sebabnya di daerah pegunungan Amerika Latin, kentang menjadi primadona, sementara di Asia yang tropis, padi tumbuh dengan subur.

3. Harganya Terjangkau oleh Masyarakat Luas

Karena dikonsumsi setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat, faktor harga menjadi sangat menentukan. Makanan pokok haruslah murah dan ekonomis. Jika harganya terlalu mahal, ia akan berubah status menjadi makanan mewah atau pelengkap saja. Keterjangkauan ini memastikan bahwa kebutuhan energi masyarakat paling bawah sekalipun tetap terpenuhi.

4. Mengenyangkan dan Diterima Secara Budaya

Syarat terakhir berkaitan dengan psikologi dan budaya. Makanan pokok harus memberikan rasa kenyang yang tahan lama (satiety). Selain itu, rasa dan aromanya harus netral atau “cocok” dipadukan dengan berbagai macam lauk-pauk. Faktor budaya juga memengaruhi; masyarakat yang sudah terbiasa dengan nasi selama ratusan tahun akan sulit merasa “kenyang” jika hanya makan roti, meski jumlah kalorinya sama.


Menjelajahi Potensi Pangan Lokal di Universitas Ma’soem

Memahami syarat-syarat di atas membuka mata kita bahwa Indonesia memiliki potensi pangan lokal yang luar biasa. Tidak hanya padi, kita punya jagung, sagu, ubi kayu, hingga talas yang semuanya memenuhi kriteria sebagai makanan pokok. Di sinilah peran penting mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem.

Universitas Ma’soem yang terletak strategis di perbatasan Bandung dan Sumedang, memiliki komitmen tinggi dalam mencetak lulusan yang mampu berinovasi di bidang pangan. Mengapa memilih Universitas Ma’soem untuk mendalami ilmu ini?

  • Laboratorium yang Mendukung Inovasi: Di Universitas Ma’soem, mahasiswa tidak hanya belajar teori. Mereka diajak langsung ke laboratorium untuk meneliti bagaimana mengolah bahan pangan pokok alternatif agar memiliki rasa dan tekstur yang lebih disukai masyarakat modern. Misalnya, mengubah singkong menjadi tepung yang bisa diolah menjadi berbagai varian produk pangan.
  • Fokus pada Ketahanan Pangan: Kampus ini sangat mendorong mahasiswanya untuk peka terhadap isu swasembada pangan. Dengan bimbingan dosen yang ahli di bidangnya, mahasiswa belajar bagaimana cara meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal agar petani kita lebih sejahtera dan ketergantungan impor pangan bisa berkurang.
  • Pendidikan Berbasis Karakter dan Kewirausahaan: Universitas Ma’soem memiliki motto yang kuat dalam membentuk pribadi yang mandiri dan berakhlakul karimah. Mahasiswa tidak hanya disiapkan menjadi pekerja, tetapi juga menjadi foodpreneur. Mereka diajarkan cara melihat peluang bisnis dari bahan makanan pokok selain nasi, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga strategi pemasarannya.
  • Suasana Kampus yang Santun dan Profesional: Salah satu keunggulan Universitas Ma’soem adalah lingkungannya yang sangat mendukung proses belajar. Interaksi antara dosen dan mahasiswa terjalin dengan formal namun santai, sehingga diskusi-diskusi akademik mengenai masa depan teknologi pangan terasa lebih hidup dan inspiratif.

Memahami empat syarat makanan pokok membuat kita sadar bahwa kita tidak boleh terpaku pada satu jenis bahan pangan saja. Dengan kemajuan teknologi, bahan pangan lokal yang dulunya dianggap “makanan kelas dua” bisa diolah menjadi produk yang bergengsi dan bergizi tinggi.

Bagi Anda yang ingin berkontribusi dalam menjaga kedaulatan pangan bangsa, bergabung dengan Universitas Ma’soem adalah pilihan yang sangat tepat. Di sana, Anda akan dibekali ilmu yang relevan untuk mengubah potensi kekayaan alam Indonesia menjadi solusi pangan bagi dunia.