Pendidikan modern menuntut metode pengajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kemandirian siswa. Salah satu pendekatan yang semakin populer di dunia pendidikan adalah mengajar berbasis inquiry. Metode ini menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran, mendorong mereka untuk aktif mencari jawaban dan mengembangkan pengetahuan melalui pertanyaan, eksplorasi, dan refleksi.
Di Indonesia, konsep ini mulai diterapkan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi, termasuk di FKIP Ma’soem University, yang konsisten mempersiapkan calon guru dengan pemahaman mendalam tentang metode pembelajaran inovatif.
Apa Itu Mengajar Berbasis Inquiry?
Mengajar berbasis inquiry adalah pendekatan di mana guru bertindak sebagai fasilitator, sementara siswa aktif dalam proses belajar. Alih-alih menerima informasi secara pasif, siswa diajak untuk:
- Mengajukan pertanyaan – Siswa didorong untuk bertanya tentang fenomena yang mereka temui, baik di kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
- Meneliti dan mengeksplorasi – Melalui eksperimen, diskusi, atau observasi, siswa mencari jawaban sendiri atau melalui sumber yang relevan.
- Menganalisis dan menyimpulkan – Setelah mengumpulkan informasi, siswa mengevaluasi temuan mereka dan membuat kesimpulan yang logis.
- Mempresentasikan hasil – Siswa belajar menyampaikan temuan secara sistematis, meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.
Metode ini bukan hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah yang akan berguna sepanjang hidup siswa.
Manfaat Mengajar Berbasis Inquiry
Pendekatan inquiry menawarkan berbagai keuntungan yang membuat proses belajar lebih bermakna dan menyenangkan:
1. Mendorong Kemandirian Siswa
Siswa belajar untuk mencari informasi sendiri, bukan hanya mengandalkan jawaban dari guru. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan belajar mandiri.
2. Mengembangkan Berpikir Kritis
Dengan membiasakan siswa mengajukan pertanyaan, menganalisis data, dan mengevaluasi informasi, kemampuan berpikir kritis berkembang secara alami.
3. Meningkatkan Kreativitas
Inquiry mendorong siswa untuk menemukan solusi unik terhadap masalah. Mereka belajar berpikir out-of-the-box dan mencoba pendekatan baru dalam memecahkan masalah.
4. Membuat Pembelajaran Lebih Menarik
Proses eksplorasi membuat siswa lebih terlibat. Pembelajaran tidak lagi membosankan karena siswa aktif mencari jawaban sendiri dan terlibat langsung dalam kegiatan praktis.
Implementasi Mengajar Berbasis Inquiry di FKIP Ma’soem University
FKIP Ma’soem University memandang pentingnya pembekalan metode inovatif bagi calon guru. Dalam mata kuliah pedagogik dan praktik mengajar, mahasiswa diajarkan berbagai strategi mengajar berbasis inquiry yang dapat diterapkan di sekolah.
Beberapa kegiatan yang dijalankan antara lain:
- Microteaching Berbasis Inquiry
Mahasiswa melakukan simulasi mengajar di kelas mini, di mana mereka harus merancang pertanyaan yang memicu siswa berpikir kritis dan mengeksplorasi konsep secara mandiri. - Project-Based Learning
Mahasiswa merancang proyek pembelajaran berbasis penelitian kecil untuk siswa, seperti eksperimen sains sederhana atau studi kasus sosial. Hal ini melatih mahasiswa mengintegrasikan teori dan praktik secara langsung. - Observasi dan Refleksi
Setelah praktik mengajar, mahasiswa melakukan refleksi bersama dosen dan teman sejawat, menilai keefektifan metode inquiry, serta merumuskan perbaikan.
FKIP Ma’soem University menekankan bahwa guru masa depan tidak hanya pengajar, tetapi juga fasilitator yang mampu membimbing siswa belajar melalui pengalaman dan penelitian. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya di lapangan.
Strategi Mengajar Berbasis Inquiry di Kelas
Guru dapat menerapkan beberapa strategi agar metode inquiry berjalan efektif:
- Pertanyaan Terbuka
Gunakan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal, sehingga siswa terdorong berpikir lebih luas. Contohnya, “Mengapa tanaman membutuhkan cahaya matahari untuk tumbuh?” bukan hanya “Apa yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh?” - Kegiatan Eksploratif
Libatkan siswa dalam eksperimen atau pengamatan langsung. Misalnya, praktik sains, studi lapangan, atau analisis kasus sosial. - Diskusi dan Kolaborasi
Fasilitasi diskusi kelompok agar siswa saling bertukar ide. Kolaborasi memperluas perspektif dan memperkuat keterampilan sosial. - Refleksi
Dorong siswa menulis jurnal refleksi atau mempresentasikan hasil temuan. Refleksi membantu mereka menginternalisasi pengetahuan dan memahami proses berpikir mereka sendiri. - Penggunaan Teknologi
Pemanfaatan media digital, seperti simulasi interaktif, video, atau platform pembelajaran online, dapat memperkaya proses inquiry dan membuatnya lebih menarik.
Tantangan dan Solusi dalam Mengajar Berbasis Inquiry
Meskipun banyak manfaat, metode ini tidak lepas dari tantangan:
- Keterbatasan waktu: Proses eksplorasi bisa memakan waktu lebih lama dibanding ceramah tradisional.
Solusi: Gabungkan inquiry dengan metode lain secara fleksibel. - Variasi kemampuan siswa: Tidak semua siswa nyaman dengan pembelajaran mandiri.
Solusi: Berikan bimbingan dan scaffolding, mulai dari pertanyaan sederhana hingga kompleks. - Fasilitas dan media terbatas: Tidak semua sekolah memiliki laboratorium atau bahan eksperimen lengkap.
Solusi: Gunakan sumber daya yang tersedia, lakukan observasi di lingkungan sekitar, atau manfaatkan teknologi.
Dengan perencanaan matang, tantangan ini dapat diatasi dan proses mengajar berbasis inquiry tetap efektif.





