Food waste atau limbah makanan menjadi salah satu persoalan penting dalam sistem pangan modern. Makanan yang terbuang bukan hanya berarti kehilangan bahan pangan, tetapi juga menunjukkan adanya pemborosan sumber daya seperti air, energi, tenaga kerja, lahan, hingga biaya distribusi. Di Indonesia, persoalan kehilangan dan pemborosan pangan juga memiliki dampak ekonomi yang besar. Data yang dikutip FAO dari kajian Bappenas menunjukkan food loss and waste di Indonesia mencapai sekitar 115–184 kg per kapita per tahun, dengan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun.
Persoalan tersebut membuat teknologi pangan memiliki peran yang semakin penting. Melalui ilmu pengolahan, pengawetan, keamanan pangan, pengendalian mutu, hingga pengembangan produk, teknologi pangan dapat membantu memperpanjang masa simpan dan meningkatkan pemanfaatan bahan pangan.
Apa Itu Food Waste dan Mengapa Menjadi Masalah?
Food waste merupakan makanan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan tetapi akhirnya dibuang pada tahap tertentu, terutama pada tingkat ritel, jasa makanan, maupun rumah tangga. Food waste perlu dibedakan dengan food loss yang dapat terjadi sepanjang rantai produksi dan distribusi pangan.
Masalahnya tidak berhenti pada makanan yang masuk tempat sampah. Ketika makanan terbuang, sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut juga ikut terbuang.
Beberapa dampak food waste antara lain:
- Meningkatkan volume sampah.
- Memboroskan sumber daya produksi pangan.
- Menambah beban pengelolaan sampah.
- Menyebabkan kerugian ekonomi.
- Mengurangi efisiensi rantai pasok pangan.
- Berpotensi meningkatkan dampak lingkungan.
Kajian mengenai teknologi pengelolaan food waste di Indonesia juga menunjukkan bahwa food waste menjadi bagian besar dari sampah domestik. Berbagai pendekatan seperti pengomposan, anaerobic digestion, pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF), hingga teknologi termal menjadi beberapa alternatif pengelolaan yang terus dikembangkan. (DOI)
Teknologi Pangan Bisa Mengurangi Food Waste dari Sumbernya
Salah satu cara mengatasi food waste bukan hanya mengolah sampah setelah makanan terbuang, tetapi mencegah makanan menjadi limbah sejak awal. Di sinilah teknologi pangan mempunyai peranan strategis.
Mahasiswa Teknologi Pangan mempelajari bagaimana bahan pangan dapat diolah dan dipertahankan kualitasnya melalui berbagai metode. Proses pengawetan, pengeringan, pengemasan, pengolahan, hingga pengendalian mutu dapat membantu memperpanjang umur simpan suatu produk.
Semakin panjang masa simpan produk yang aman dan berkualitas, semakin besar pula peluang makanan dikonsumsi sebelum mengalami kerusakan.
Inovasi Pengolahan Membuat Bahan Pangan Lebih Bernilai
Bahan pangan yang memiliki umur simpan pendek dapat dikembangkan menjadi produk dengan daya simpan lebih lama. Buah yang terlalu matang, misalnya, dapat dikembangkan menjadi produk olahan tertentu selama bahan tersebut masih memenuhi persyaratan keamanan dan mutu.
Konsep seperti ini membutuhkan pengetahuan mengenai karakteristik bahan, proses pengolahan, keamanan pangan, formulasi produk, serta pengendalian kualitas.
Karena itu, teknologi pangan tidak sekadar mempelajari cara membuat makanan. Bidang ini juga berhubungan dengan bagaimana menghasilkan produk yang aman, berkualitas, efisien, dan memiliki nilai tambah.
Peran Teknologi Pangan dalam Pengemasan dan Penyimpanan
Kemasan memiliki peran penting dalam mempertahankan kualitas makanan. Pemilihan material kemasan, metode pengemasan, kondisi penyimpanan, serta karakteristik produk harus dipertimbangkan agar makanan tidak cepat mengalami kerusakan.
Teknologi pangan mempelajari berbagai faktor yang dapat memengaruhi umur simpan produk. Dengan pendekatan yang tepat, kerusakan pangan dapat ditekan sehingga produk memiliki kesempatan lebih besar untuk sampai kepada konsumen dalam kondisi baik.
Selain itu, pengembangan sistem penyimpanan dan distribusi yang tepat juga dapat membantu mengurangi kehilangan pangan pada rantai pasok.
Belajar Teknologi Pangan di Ma’soem University
Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan isu food waste, inovasi makanan, dan industri pangan, Ma’soem University dapat menjadi pilihan untuk mendalami bidang tersebut.
Fakultas Pertanian Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu S1 Teknologi Pangan dan S1 Agribisnis. (Masoem University)
Program Studi Teknologi Pangan Ma’soem University secara khusus membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai pengolahan dan pengembangan pangan. Materi yang dipelajari mencakup Analisis Pangan, Biokimia Pangan, Teknologi Pengolahan Nabati dan Hewani, Keamanan Pangan, HACCP, serta Pengawasan dan Pengendalian Mutu. (Masoem University)
Pembelajaran tersebut sangat berkaitan dengan kebutuhan industri pangan yang membutuhkan tenaga profesional untuk menjaga kualitas produk sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan dalam pengolahan pangan.
Pembelajaran Praktis untuk Menghadapi Industri Pangan
Teknologi pangan merupakan bidang yang membutuhkan pemahaman teori sekaligus kemampuan menerapkannya. Karena itu, pengalaman praktik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Di Ma’soem University, mahasiswa Teknologi Pangan diarahkan untuk memahami penerapan ilmu pangan secara nyata. Kompetensi tersebut dapat mendukung mahasiswa yang ingin berkarier sebagai Quality Assurance, Product Development, pengusaha kuliner, maupun akademisi. (Masoem University)
Kemampuan tersebut juga dapat diterapkan untuk menciptakan inovasi produk yang memanfaatkan bahan secara lebih optimal dan membantu mengurangi potensi pangan terbuang.
Pendaftaran Ma’soem University
Bagi calon mahasiswa yang tertarik mempelajari teknologi pangan sekaligus ingin memahami bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam industri, Ma’soem University menyediakan pilihan pendidikan melalui Program Studi Teknologi Pangan dan Agribisnis di Fakultas Pertanian.
Informasi mengenai pendaftaran Ma’soem University dapat diperoleh melalui WhatsApp:
+62 851 8563 4253
Teknologi Pangan dan Masa Depan Sistem Pangan
Pengurangan food waste membutuhkan kerja sama dari banyak pihak, mulai dari produsen, industri, distributor, pelaku usaha, hingga konsumen. Namun, inovasi teknologi tetap menjadi salah satu bagian penting untuk membuat sistem pangan lebih efisien.
Melalui teknologi pengolahan, pengawetan, pengemasan, pengendalian mutu, dan pengembangan produk, lulusan Teknologi Pangan dapat berkontribusi dalam menciptakan produk yang lebih tahan simpan dan memiliki nilai tambah.
Di Ma’soem University, bidang Teknologi Pangan menjadi salah satu pilihan pendidikan di Fakultas Pertanian yang dapat mengantarkan mahasiswa untuk memahami tantangan industri pangan sekaligus mengembangkan kemampuan dalam menciptakan inovasi pangan yang aman, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Masoem University)




