Mengapa Permintaan Jengkol Tetap Tinggi dari Tahun ke Tahun?

Oleh Samsul Arifin, SPi., MM.

Jengkol (Archidendron pauciflorum) adalah komoditas pangan yang unik. Aromanya yang tajam dan menyengat seringkali menjadi bahan perdebatan, namun di balik kontroversi tersebut, jengkol memiliki basis konsumen yang setia dan permintaan yang tidak pernah surut. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap komoditas ini justru terus meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional. Artikel ini akan mengupas faktor-faktor utama yang menyebabkan permintaan jengkol tetap tinggi dari tahun ke tahun.

Tren Produksi yang Terus Meningkat: Cerminan Permintaan yang Kuat

Indikator paling jelas dari tingginya permintaan jengkol adalah tren produksinya yang terus meningkat tanpa pernah mengalami penurunan selama lima tahun terakhir . Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, produksi jengkol tercatat sebesar 1,29 juta kuintal. Angka ini melonjak sekitar 18 persen pada tahun 2021 menjadi 1,53 juta kuintal. Peningkatan signifikan kembali terjadi pada tahun 2023 ke 2024, dari 1,57 juta kuintal menjadi hampir 1,7 juta kuintal .

Peningkatan produksi yang konsisten ini bukanlah kebetulan. Ini mencerminkan respons petani terhadap permintaan pasar yang terus menguat. Provinsi dengan produksi terbesar pada tahun 2023 meliputi Sumatera Barat (21.295 ton), Jawa Barat (19.763 ton), dan Lampung (18.836 ton) . Ketiga provinsi ini menjadi tulang punggung pasokan jengkol bagi pasar domestik maupun ekspor.

Harga yang Fluktuatif namun Menjanjikan

Salah satu fenomena paling menarik yang menunjukkan tingginya permintaan jengkol adalah fluktuasi harganya yang ekstrem. Ketika pasokan terbatas, harga jengkol bisa melonjak drastis. Pada Agustus 2025, harga jengkol di pasar tradisional Bekasi mencapai Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram, hampir setara dengan harga daging sapi yang saat itu dijual Rp130.000 per kilogram . Kepala Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta menyatakan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh peningkatan permintaan sementara pasokan terbatas karena petani belum memasuki musim panen .

Menariknya, bagi masyarakat Bekasi, jengkol memiliki posisi yang sangat penting—bahkan bisa disejajarkan dengan daging. Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok pada Dinas Perdagangan Bekasi menyatakan bahwa jengkol sama pentingnya dengan daging bagi warga setempat, terutama karena kebiasaan sarapan nasi uduk atau nasi kuning dengan sambal jengkol . Ketika harga jengkol turun dari Rp100.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, hal ini disambut lega oleh masyarakat karena permintaan terhadap komoditas ini sangat besar .

Basis Konsumen yang Kuat dengan Daya Beli Nyata

Data pengeluaran konsumen memberikan gambaran lebih konkret tentang besarnya permintaan jengkol. Rata-rata pengeluaran per kapita secara nasional untuk membeli jengkol mencapai Rp236,5 per kapita per minggu . Beberapa kabupaten/kota bahkan mencatat angka yang jauh lebih tinggi:

  • Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung: Rp2.834 per kapita per minggu
  • Kabupaten Dharmasraya: Rp2.374 per kapita per minggu
  • Kota Sawahlunto: Rp2.032 per kapita per minggu 

Angka-angka ini menunjukkan bahwa jengkol bukan sekadar makanan pinggiran, melainkan komoditas yang memiliki basis konsumen setia dengan daya beli yang nyata. Tingginya pengeluaran untuk membeli jengkol di berbagai daerah mencerminkan bahwa komoditas ini telah menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat.

Manfaat Kesehatan: Nilai Tambah yang Mendorong Permintaan

Permintaan jengkol yang tinggi tidak hanya didorong oleh cita rasanya yang khas, tetapi juga oleh manfaat kesehatan yang dipercaya masyarakat. Jengkol kaya akan karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanim, dan saponin . Kandungan vitamin C pada 100 gram biji jengkol mencapai 80 mg.

Penelitian menunjukkan bahwa jengkol memiliki berbagai khasiat kesehatan. Kulit buah jengkol mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tanin, kuinon, polifenol, saponin, glikosida, dan steroid (triterpenoid) . Beberapa manfaat kesehatan yang dikaitkan dengan jengkol antara lain:

  • Mencegah diabetes: Ekstrak kulit buah jengkol dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah
  • Menjaga kesehatan jantung: Kandungan fenol dalam jengkol memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan jantung
  • Antibakteri: Terpenoid dalam jengkol dapat menghambat pertumbuhan bakteri 

Tren global yang semakin mengarah pada konsumsi makanan sehat dan berbasis nabati turut mendorong permintaan terhadap jengkol, menjadikannya relevan dengan preferensi konsumen modern .

Pasar Ekspor yang Terus Berkembang

Permintaan jengkol tidak hanya tinggi di pasar domestik, tetapi juga di pasar internasional. Malaysia tercatat sebagai pasar utama ekspor jengkol Indonesia, dengan volume ekspor yang terus meningkat dari 723.934 kg pada 2022 menjadi 947.710,54 kg pada 2024 .

Negara lain seperti Jepang, Hong Kong, dan Singapura juga menunjukkan antusiasme yang tinggi, terutama dari komunitas diaspora Indonesia dan Malaysia yang tersebar di berbagai belahan dunia . Pada tahun 2021, Sumatera Barat berhasil menembus pasar Jepang dengan pengiriman perdana 100 kg jengkol yang lolos uji karantina, membuktikan bahwa jengkol Indonesia mampu memenuhi standar kualitas internasional .

Keberhasilan ekspor ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix—melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media—yang terbukti efektif mendukung pemberdayaan UMKM menuju globalisasi . PT Asha Nouva International, misalnya, berhasil mengekspor 5,4 ton komoditas pertanian termasuk jengkol ke Jepang dengan nilai hampir Rp300 juta pada Desember 2024, dan kembali mengekspor 4,7 ton pada Maret 2025 .

Kesimpulan

Permintaan jengkol tetap tinggi dari tahun ke tahun karena kombinasi beberapa faktor kunci. Pertama, basis konsumen yang kuat dengan preferensi kuliner yang sudah mengakar dan daya beli yang nyata. Kedua, nilai kesehatan yang melekat pada jengkol, menjadikannya relevan dengan tren konsumsi sehat global. Ketiga, pasar ekspor yang terus berkembang, terutama di Malaysia dan Jepang, yang membuka peluang lebih luas bagi komoditas ini.

Fluktuasi harga yang ekstrem—dari Rp35.000 hingga Rp120.000 per kilogram—justru menjadi cerminan betapa tingginya permintaan terhadap jengkol ketika pasokan terbatas. Bagi sebagian masyarakat, seperti di Bekasi, jengkol bahkan memiliki posisi yang sama pentingnya dengan daging dalam keseharian mereka .

Dengan produksi yang terus meningkat, pasar domestik yang stabil, dan pasar ekspor yang semakin terbuka, prospek permintaan jengkol ke depan tetap cerah. Transformasi jengkol dari makanan tradisional menjadi komoditas yang diperdagangkan secara global menunjukkan bahwa komoditas lokal ini memiliki daya tahan dan daya saing yang luar biasa di pasar modern.