Self regulation atau regulasi diri adalah kemampuan siswa untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku agar dapat mencapai tujuan belajar secara efektif. Kemampuan ini tidak hanya berpengaruh pada prestasi akademik, tetapi juga pada keterampilan sosial, motivasi, dan disiplin diri.
Di era pendidikan modern, guru dan institusi pendidikan semakin menekankan pentingnya pengembangan self regulation siswa agar mereka mampu belajar secara mandiri, berpikir kritis, dan menghadapi tantangan secara adaptif.
FKIP Ma’soem University menyediakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan kemampuan ini melalui pendekatan pembelajaran aktif dan pengalaman praktik. Mahasiswa calon guru dibekali pengetahuan dan strategi yang dapat mereka terapkan saat mengajar di sekolah, termasuk cara menstimulasi self regulation pada siswa.
Apa Itu Self Regulation Siswa?
Self regulation adalah proses internal yang membantu siswa mengontrol perilaku, emosi, dan perhatian agar selaras dengan tujuan belajar mereka. Ada beberapa komponen utama dalam self regulation:
- Perencanaan – siswa mampu menetapkan tujuan, menentukan langkah-langkah belajar, dan mempersiapkan diri menghadapi materi atau tugas.
- Pemantauan Diri – kemampuan untuk memeriksa apakah strategi belajar yang digunakan efektif dan menyesuaikan bila perlu.
- Pengendalian Emosi – menjaga motivasi dan fokus meskipun menghadapi hambatan atau kesulitan.
- Evaluasi Diri – menilai hasil belajar dan mencari cara untuk meningkatkan kinerja di masa depan.
Kemampuan ini bukan bawaan lahir, melainkan harus dilatih sejak dini melalui pembelajaran yang tepat.
Pentingnya Self Regulation dalam Pembelajaran
Siswa yang memiliki self regulation tinggi biasanya menunjukkan:
- Kemampuan belajar mandiri tanpa harus selalu diarahkan guru.
- Disiplin dalam mengatur waktu dan prioritas belajar.
- Kemampuan menghadapi kegagalan atau tantangan dengan sikap positif.
- Keterampilan sosial yang baik, karena mampu menahan impuls negatif dan berinteraksi secara bijak dengan teman sebaya.
FKIP Ma’soem University menekankan pentingnya aspek ini dalam kurikulum pendidikan guru. Mahasiswa didorong untuk memahami teori pembelajaran dan psikologi pendidikan sekaligus mempraktikkannya melalui kegiatan observasi dan microteaching di sekolah mitra.
Strategi Mengembangkan Self Regulation Siswa
1. Memberikan Tujuan Belajar yang Jelas
Siswa perlu memahami apa yang harus dicapai dalam setiap kegiatan belajar. Guru dapat membantu dengan memberikan tujuan yang spesifik, terukur, dan realistis. Misalnya, “Hari ini kalian akan bisa menjelaskan tiga konsep utama dalam materi ekosistem.”
2. Mengajarkan Perencanaan dan Manajemen Waktu
Kemampuan merencanakan belajar adalah inti dari self regulation. Guru dapat memberikan panduan bagaimana menyusun jadwal belajar, membagi tugas besar menjadi bagian kecil, serta menetapkan prioritas. Di FKIP Ma’soem University, calon guru belajar merancang lesson plan yang memperhatikan strategi pengembangan self regulation siswa.
3. Memperkenalkan Teknik Pemantauan Diri
Siswa perlu belajar mengevaluasi proses belajarnya sendiri. Guru dapat mengenalkan teknik sederhana seperti catatan harian belajar, checklist tugas, atau refleksi singkat setelah kegiatan belajar. Teknik ini membantu siswa menyadari kemajuan mereka dan menyesuaikan strategi jika diperlukan.
4. Mengelola Emosi dan Motivasi
Keterampilan mengendalikan emosi sangat penting. Guru dapat mengajarkan cara mengatasi rasa frustrasi atau bosan, misalnya dengan teknik relaksasi singkat, berpikir positif, atau berbagi pengalaman dengan teman. Motivasi juga bisa ditingkatkan dengan memberikan pujian yang tepat dan menekankan pencapaian kecil sebagai keberhasilan.
5. Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif
Umpan balik bukan hanya sekadar nilai atau skor, tetapi informasi yang membantu siswa memperbaiki strategi belajar. Mahasiswa FKIP Ma’soem University dilatih memberikan feedback yang memotivasi siswa untuk terus mencoba, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan kemampuan regulasi diri mereka.
Peran Guru dan Lingkungan Sekolah
Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator pengembangan self regulation. Lingkungan sekolah yang mendukung mencakup:
- Kebebasan belajar terbimbing: Siswa diberi kesempatan memilih strategi belajar mereka sendiri dengan bimbingan guru.
- Kolaborasi antar siswa: Diskusi kelompok atau proyek bersama mengajarkan tanggung jawab dan pengendalian diri.
- Kegiatan refleksi rutin: Mengajak siswa mengevaluasi proses dan hasil belajar meningkatkan kesadaran diri.
FKIP Ma’soem University menekankan bahwa calon guru harus memahami hubungan antara metode pengajaran, motivasi, dan self regulation siswa. Mahasiswa diajak mengeksplorasi berbagai model pembelajaran yang menumbuhkan kemandirian, misalnya Project-Based Learning dan Problem-Based Learning.
Tantangan dalam Mengembangkan Self Regulation
Meskipun penting, mengembangkan self regulation bukan tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang sering ditemui antara lain:
- Kurangnya motivasi internal siswa untuk belajar.
- Gangguan lingkungan, seperti kebisingan atau distraksi digital.
- Perbedaan kemampuan dan kecepatan belajar antar siswa.
- Tekanan akademik yang membuat siswa stres dan sulit mengelola emosi.
FKIP Ma’soem University menyiapkan mahasiswa calon guru untuk menghadapi tantangan ini melalui simulasi kelas dan bimbingan praktik. Mahasiswa belajar strategi adaptif agar dapat membimbing siswa mengembangkan self regulation secara efektif.





