Memilih untuk menempuh studi di jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem bukan sekadar belajar cara mengolah bahan mentah menjadi makanan jadi, melainkan belajar menjadi “detektif” bagi keamanan dan kesehatan pangan masyarakat. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa dididik untuk memiliki ketelitian tinggi dan kemampuan analisis yang tajam terhadap setiap produk yang beredar di pasar.
Kampus yang berlokasi strategis di Jatinangor-Cipacing ini sangat menekankan pentingnya kemandirian mahasiswa dalam mengedukasi diri sendiri dan orang lain mengenai apa yang sebenarnya mereka konsumsi. Melalui kurikulum yang aplikatif, Universitas Ma’soem mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga profesional yang tidak hanya jago di laboratorium, tetapi juga mahir membaca data di balik kemasan. Memahami Informasi Nilai Gizi (ING) adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki, karena di balik angka-angka rumit tersebut, tersimpan informasi krusial yang menentukan kualitas hidup seorang konsumen.
Bagi orang awam, label di belakang kemasan mungkin hanya deretan angka yang membingungkan. Namun, bagi mahasiswa Teknologi Pangan (Tekpang), label tersebut adalah “KTP” dari sebuah produk. Yuk, kita bedah bagaimana cara membaca label makanan dengan cerdas ala anak Tekpang!
1. Perhatikan Takaran Saji, Bukan Satu Kemasan
Banyak orang terkecoh saat membaca angka kalori yang terlihat kecil. Rahasia anak Tekpang adalah selalu melihat Takaran Saji (Serving Size) terlebih dahulu.
- Faktanya: Jika satu bungkus keripik bertuliskan “Kalori: 100 kkal”, namun di bawahnya tertulis “Jumlah Sajian per Kemasan: 4”, itu artinya jika kamu menghabiskan seluruh isinya, kamu telah mengonsumsi 400 kkal, bukan 100 kkal.
- Tips: Selalu kalikan jumlah gizi dengan total sajian per kemasan untuk mendapatkan angka yang jujur bagi tubuhmu.
2. Pahami Urutan Daftar Komposisi (Ingredients List)
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa urutan bahan di label berbeda-beda? Di Universitas Ma’soem, kamu akan belajar tentang regulasi pelabelan pangan.
- Aturan Main: Bahan yang tertulis di urutan pertama adalah bahan dengan berat atau konsentrasi paling banyak.
- Cek Gula: Jika “Gula”, “Sukrosa”, atau “Sirup Jagung” berada di tiga urutan pertama, maka produk tersebut didominasi oleh pemanis. Mahasiswa Tekpang yang mandiri dan disiplin akan sangat waspada terhadap urutan ini demi menjaga kesehatan.
Mengapa Edukasi Label Pangan Sangat Penting di Universitas Ma’soem?
Pendidikan di Universitas Ma’soem tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral.
- Kemandirian Konsumen: Mahasiswa diajarkan untuk tidak mudah termakan iklan “Sehat” atau “Rendah Lemak” di bagian depan kemasan tanpa memvalidasi datanya di bagian belakang label.
- Tanggung Jawab Profesional: Sebagai calon teknolog pangan dari Ma’soem, mahasiswa dilatih untuk bisa menyusun label gizi yang jujur dan akurat saat nanti bekerja di industri atau membangun bisnis mandiri.
- Karakter Disiplin: Ketelitian dalam membaca angka desimal pada label pangan adalah bentuk kedisiplinan ilmu yang selalu dipraktikkan mahasiswa Ma’soem di laboratorium.
3. Waspadai “Hidden Sugar” (Gula Tersembunyi)
Industri pangan sering kali menggunakan berbagai nama untuk gula agar tidak terlihat mencolok di label. Sebagai anak Tekpang, kamu harus mengenali istilah-istilah seperti:
- Maltodextrin, Dekstrosa, Fruktosa, Agave Nectar, hingga High Fructose Corn Syrup (HFCS).
- Tips: Semakin banyak istilah berakhiran “-osa” yang kamu temukan, semakin tinggi kandungan gula total dalam produk tersebut.
4. Cek Angka Kecukupan Gizi (% AKG)
Angka Kecukupan Gizi (% AKG) menunjukkan seberapa besar kontribusi satu sajian produk tersebut terhadap total kebutuhan gizi harianmu (berdasarkan standar 2150 kkal).
- Aturan 5/20: Jika persentasenya di bawah 5%, maka kandungan tersebut dianggap rendah. Jika di atas 20%, maka dianggap tinggi.
- Mana yang Harus Tinggi? Serat pangan, vitamin, dan mineral.
- Mana yang Harus Rendah? Lemak jenuh, kolesterol, dan natrium (garam).
5. Perhatikan Batas Lemak Jenuh dan Natrium
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem sangat teliti terhadap dua poin ini karena dampaknya pada penyakit degeneratif seperti hipertensi dan jantung.
- Natrium (Garam): Konsumsi natrium yang disarankan tidak lebih dari 2000 mg per hari. Jika satu snack mengandung 500 mg natrium, kamu sudah menghabiskan seperempat jatah harianmu hanya dari satu camilan!
Tips Singkat ala Mahasiswa Tekpang Saat Belanja:
- Abaikan Klaim Depan: Tulisan “Alami”, “Gandum Utuh”, atau “Organik” di depan kemasan seringkali merupakan strategi pemasaran. Tetap cek tabel gizi di belakang.
- Bandingkan Dua Produk: Jika ragu, ambil dua produk sejenis dan bandingkan mana yang memiliki natrium dan gula lebih rendah.
- Cek Tanggal Kedaluwarsa: Pastikan bukan hanya harinya, tapi perhatikan juga cara penyimpanannya (misal: “simpan di suhu beku”) karena gizi produk bisa rusak jika penyimpanan salah.
Membaca Informasi Nilai Gizi adalah langkah awal untuk hidup lebih sehat dan mandiri. Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, memiliki literasi label pangan adalah sebuah keharusan. Ilmu yang didapat di kampus Ma’soem memberikan kekuatan untuk membedah mana produk yang benar-benar bernutrisi dan mana yang hanya sekadar tipuan pemasaran.
Jangan biarkan label makanan membingungkanmu. Gunakan kecerdasanmu sebagai teknolog pangan masa depan untuk memilah apa yang masuk ke dalam tubuhmu. Karena sehat atau tidaknya masyarakat Indonesia, salah satunya dimulai dari kejujuran label gizi yang kamu pelajari dan kamu buat nantinya.





