Kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan individu, baik dalam dunia pendidikan maupun karier profesional. Salah satu aspek yang sering dibahas dalam linguistik dan psikologi komunikasi adalah interactional confidence. Istilah ini merujuk pada keyakinan seseorang saat berinteraksi dengan orang lain, baik secara verbal maupun non-verbal. Interactional confidence tidak hanya penting bagi mahasiswa dan pekerja, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin membangun hubungan sosial yang efektif.
Apa Itu Interactional Confidence?
Interactional confidence bisa dipahami sebagai kepercayaan diri seseorang dalam menjalani percakapan, mengekspresikan ide, serta memahami lawan bicara. Orang yang memiliki interactional confidence cenderung lebih mudah membangun hubungan interpersonal, menyampaikan pendapat secara jelas, dan menghadapi situasi sosial yang kompleks. Sebaliknya, individu yang kurang percaya diri dalam berinteraksi sering mengalami kecanggungan sosial, kesulitan dalam mengekspresikan ide, atau bahkan menghindari komunikasi penting.
Penelitian menunjukkan bahwa interactional confidence bukan hanya soal kemampuan bahasa atau keterampilan verbal. Faktor psikologis, pengalaman sosial, dan pemahaman budaya juga memengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang saat berinteraksi. Di dunia pendidikan, misalnya, mahasiswa yang memiliki interactional confidence lebih aktif bertanya, berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan mampu membangun jaringan akademik maupun profesional.
Pentingnya Interactional Confidence di Lingkungan Akademik
Di lingkungan akademik seperti FKIP Ma’soem University, interactional confidence memegang peranan penting. Mahasiswa pendidikan tidak hanya dituntut untuk menguasai teori, tetapi juga mampu menyampaikan materi dengan percaya diri saat praktik mengajar atau presentasi. Misalnya, calon guru bahasa Inggris perlu memiliki confidence saat memimpin diskusi kelas atau menjelaskan materi kepada siswa, agar proses belajar mengajar menjadi lebih efektif.
Lebih dari itu, interactional confidence membantu mahasiswa FKIP mengembangkan soft skills, seperti kemampuan mendengarkan, empati, dan negosiasi. Soft skills ini menjadi nilai tambah saat mahasiswa memasuki dunia kerja, terutama di bidang pendidikan yang membutuhkan interaksi langsung dengan siswa, orang tua, dan kolega.
Faktor yang Mempengaruhi Interactional Confidence
Beberapa faktor berperan dalam membentuk interactional confidence:
- Penguasaan Materi
Memahami topik secara mendalam meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara. Mahasiswa FKIP yang mempersiapkan materi pengajaran dengan baik cenderung lebih percaya diri menghadapi pertanyaan siswa. - Pengalaman Sosial
Semakin sering seseorang berinteraksi dalam berbagai situasi sosial, semakin tinggi kemampuannya untuk beradaptasi. Kegiatan organisasi, diskusi kelas, atau volunteer teaching menjadi sarana penting untuk membangun interactional confidence. - Kemampuan Bahasa
Bagi mahasiswa yang belajar bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, kefasihan dan penguasaan kosakata menjadi kunci. Interactional confidence akan meningkat ketika mahasiswa mampu menyampaikan ide tanpa takut salah. - Sikap Mental Positif
Percaya diri juga dipengaruhi oleh mindset. Mahasiswa yang percaya bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar lebih mudah beradaptasi dan berinteraksi secara efektif.
Strategi Meningkatkan Interactional Confidence
Interactional confidence bukan sesuatu yang tetap, melainkan bisa dikembangkan melalui latihan dan pengalaman. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:
1. Latihan Berbicara di Depan Publik
Mengikuti kegiatan presentasi atau debat dapat membantu mahasiswa FKIP Ma’soem University terbiasa berbicara di depan audiens. Rasa cemas biasanya berkurang seiring seringnya latihan.
2. Membangun Kesadaran Diri
Refleksi diri penting untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan komunikasi. Menulis jurnal komunikasi atau merekam diri saat berbicara bisa menjadi metode efektif untuk evaluasi.
3. Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler
Bergabung dengan organisasi kampus, komunitas bahasa, atau kegiatan sosial meningkatkan exposure mahasiswa pada situasi sosial beragam. Hal ini secara alami meningkatkan interactional confidence.
4. Praktik Pengajaran Simulasi
Bagi calon guru, praktik mengajar di depan teman atau mentor menjadi latihan penting. Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa dapat memanfaatkan laboratorium pendidikan atau mini teaching session untuk meningkatkan rasa percaya diri.
5. Pembelajaran Peer-to-Peer
Diskusi kelompok atau study group memberi kesempatan untuk berinteraksi dalam suasana santai dan mendukung. Mahasiswa bisa belajar mengekspresikan pendapat tanpa takut dinilai negatif.
Interactional Confidence dan Dunia Profesional
Interactional confidence memiliki dampak besar pada karier profesional. Guru yang percaya diri mampu memotivasi siswa, membangun hubungan yang harmonis dengan orang tua, dan mengelola kelas dengan efektif. Selain itu, kemampuan berinteraksi dengan kolega atau atasan menjadi faktor penting dalam kemajuan karier.
Mahasiswa FKIP yang mengembangkan interactional confidence selama masa studi akan memiliki keunggulan kompetitif saat lulus. Mereka tidak hanya menguasai teori pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, yang sangat dibutuhkan di dunia kerja maupun dalam membangun jejaring profesional.





