Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pada bidang pendidikan guru. Calon guru tidak lagi cukup dibekali pemahaman pedagogik secara teoritis, tetapi juga dituntut mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang efektif dan relevan. Salah satu teknologi yang mulai banyak dibahas dan diterapkan dalam konteks pendidikan adalah Augmented Reality (AR). Teknologi ini dinilai mampu menjembatani konsep abstrak menjadi pengalaman belajar yang lebih konkret dan interaktif, khususnya dalam proses pendidikan dan pelatihan guru.
Konsep Dasar Augmented Reality dalam Pendidikan
Augmented Reality merupakan teknologi yang menggabungkan objek virtual ke dalam lingkungan nyata secara real-time melalui perangkat digital seperti ponsel pintar atau tablet. Berbeda dari virtual reality yang sepenuhnya membawa pengguna ke dunia maya, AR tetap mempertahankan konteks dunia nyata sehingga lebih mudah diadaptasi dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam pendidikan, AR berfungsi sebagai media pembelajaran interaktif yang mampu menampilkan visual tiga dimensi, animasi, maupun simulasi tertentu. Pemanfaatannya dapat membantu mahasiswa pendidikan memahami materi yang sulit dijelaskan hanya melalui teks atau gambar dua dimensi. Oleh karena itu, AR menjadi salah satu alternatif media pembelajaran inovatif yang relevan bagi pendidikan guru.
Relevansi Augmented Reality bagi Pendidikan Guru
Pendidikan guru memiliki karakteristik khusus karena tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga kompetensi pedagogik dan profesional. Augmented Reality menawarkan potensi besar dalam mendukung proses tersebut. Melalui AR, calon guru dapat mempelajari konsep pembelajaran secara lebih aplikatif, misalnya simulasi kelas, visualisasi alat peraga, atau demonstrasi fenomena tertentu.
Teknologi ini juga membantu calon guru memahami cara menyajikan materi secara menarik dan kontekstual. Pengalaman belajar yang interaktif akan membentuk pola pikir inovatif sehingga calon guru tidak terpaku pada metode konvensional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Peningkatan Kompetensi Pedagogik Calon Guru
Salah satu manfaat utama pemanfaatan Augmented Reality dalam pendidikan guru terletak pada pengembangan kompetensi pedagogik. AR memungkinkan mahasiswa pendidikan untuk mengamati, menganalisis, dan mengevaluasi proses pembelajaran secara visual. Contohnya, simulasi pembelajaran berbasis AR dapat membantu mahasiswa memahami alur kegiatan belajar, interaksi guru dan siswa, serta penggunaan media pembelajaran.
Melalui pendekatan ini, calon guru tidak hanya belajar “apa yang diajarkan”, tetapi juga “bagaimana cara mengajarkannya”. Proses refleksi menjadi lebih optimal karena mahasiswa dapat mengaitkan teori pedagogik dengan pengalaman visual yang konkret.
Dukungan terhadap Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menjadi salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam kurikulum pendidikan. Augmented Reality mendukung pendekatan ini karena mampu menghadirkan konteks nyata ke dalam ruang belajar. Calon guru dapat mempelajari materi sesuai situasi kehidupan sehari-hari yang relevan dengan peserta didik.
Misalnya, dalam pendidikan IPA atau IPS, AR dapat menampilkan objek atau peristiwa yang sulit diamati secara langsung. Hal ini membantu calon guru memahami bagaimana menciptakan pembelajaran yang bermakna dan tidak terlepas dari realitas sosial maupun lingkungan sekitar.
Tantangan Implementasi Augmented Reality
Meskipun memiliki banyak potensi, penerapan Augmented Reality dalam pendidikan guru masih menghadapi beberapa tantangan. Ketersediaan perangkat dan infrastruktur teknologi menjadi salah satu kendala utama. Tidak semua institusi pendidikan memiliki fasilitas yang memadai untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis AR secara optimal.
Selain itu, kesiapan sumber daya manusia juga perlu diperhatikan. Calon guru dan dosen pembimbing memerlukan pelatihan agar mampu menggunakan serta mengintegrasikan teknologi ini secara efektif. Tanpa pendampingan yang tepat, AR berisiko hanya menjadi media pendukung tanpa dampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran.
Peran LPTK dan FKIP dalam Inovasi Pembelajaran
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), termasuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Integrasi Augmented Reality ke dalam perkuliahan dapat dilakukan secara bertahap melalui mata kuliah media pembelajaran, microteaching, maupun pengembangan bahan ajar.
Sebagai salah satu institusi yang bergerak di bidang pendidikan guru, Ma’soem University melalui FKIP berpotensi mengarahkan mahasiswa agar peka terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Pendekatan ini tidak harus selalu berbentuk implementasi besar, tetapi dapat dimulai dari pengenalan konsep, studi kasus, dan pemanfaatan media digital sederhana yang relevan.
Dampak terhadap Profesionalisme Guru Masa Depan
Penguasaan teknologi seperti Augmented Reality akan menjadi nilai tambah bagi guru di masa depan. Guru yang terbiasa memanfaatkan media inovatif cenderung lebih adaptif terhadap perubahan kurikulum dan kebutuhan peserta didik. Pendidikan guru yang mengenalkan AR sejak awal akan membentuk sikap profesional yang terbuka terhadap inovasi.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, penggunaan AR juga menumbuhkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis calon guru. Mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menilai kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.





