People Pleasing pada Remaja dan Kaitannya dengan Kepercayaan Diri

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai membentuk identitas diri, mengenali kemampuan pribadi, dan mencari penerimaan dari lingkungan sosial. Pada tahap ini, pendapat teman sebaya, hubungan pertemanan, serta penilaian orang lain sering kali memiliki pengaruh besar terhadap cara remaja memandang dirinya sendiri. Keinginan untuk diterima sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ketika seseorang terus-menerus berusaha menyenangkan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan dan perasaannya sendiri, perilaku tersebut dapat mengarah pada people pleasing.

People pleasing pada remaja menjadi perhatian karena kebiasaan ini dapat berkaitan dengan rendahnya kepercayaan diri. Remaja mungkin merasa harus selalu disukai, sulit menolak permintaan teman, atau takut dianggap buruk ketika memiliki pendapat berbeda. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi perkembangan kepribadian, hubungan sosial, dan kesehatan emosional.

Apa Itu People Pleasing pada Remaja?

People pleasing merupakan kecenderungan seseorang untuk berusaha menyenangkan orang lain secara berlebihan demi memperoleh penerimaan, menghindari konflik, atau mendapatkan penilaian positif. Seseorang yang memiliki kecenderungan ini biasanya lebih mengutamakan keinginan orang lain daripada kebutuhan dirinya sendiri.

Pada remaja, perilaku people pleasing dapat muncul dalam berbagai situasi sehari-hari. Misalnya, seorang siswa selalu mengikuti keputusan kelompok meskipun sebenarnya tidak setuju. Ada pula remaja yang bersedia membantu teman mengerjakan tugas meskipun dirinya sedang kewalahan karena takut hubungan pertemanan menjadi renggang.

Perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang memiliki masalah. Bersikap ramah, membantu, dan mempertimbangkan perasaan orang lain merupakan bagian penting dari hubungan sosial. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika keinginan untuk menyenangkan orang lain membuat remaja kehilangan kemampuan untuk menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, dan menjaga batasan pribadi.

Ciri-Ciri People Pleasing yang Sering Dialami Remaja

Kecenderungan people pleasing terkadang sulit dikenali karena sering dianggap sebagai sikap baik atau bentuk kepedulian terhadap orang lain. Padahal, terdapat perbedaan antara membantu secara sukarela dan membantu karena merasa takut ditolak.

Berikut beberapa ciri people pleasing yang dapat ditemukan pada remaja:

1. Sulit Mengatakan Tidak

Remaja yang memiliki kecenderungan people pleasing sering merasa tidak nyaman ketika harus menolak permintaan orang lain. Mereka khawatir dianggap egois, tidak peduli, atau tidak bisa diajak berteman.

Akibatnya, mereka sering menerima berbagai permintaan meskipun sedang lelah atau memiliki tanggung jawab lain.

2. Takut Mendapatkan Penilaian Negatif

Pendapat orang lain dapat menjadi pertimbangan yang terlalu dominan dalam mengambil keputusan. Remaja mungkin mengubah cara berpakaian, pilihan kegiatan, bahkan pendapat pribadi hanya agar sesuai dengan harapan lingkungan pertemanannya.

3. Selalu Menghindari Konflik

Perbedaan pendapat dianggap sebagai sesuatu yang mengancam hubungan sosial. Karena itu, remaja memilih diam meskipun merasa tidak nyaman atau diperlakukan kurang adil.

4. Terlalu Sering Meminta Maaf

Meminta maaf merupakan bentuk tanggung jawab ketika seseorang melakukan kesalahan. Namun, pada people pleasing, permintaan maaf dapat muncul secara berlebihan, bahkan ketika seseorang tidak melakukan sesuatu yang keliru.

5. Sulit Mengutamakan Kebutuhan Diri Sendiri

Remaja mungkin merasa bersalah ketika menggunakan waktu untuk beristirahat atau melakukan kegiatan yang disukai. Mereka terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain hingga melupakan kebutuhan pribadi.

Hubungan People Pleasing dengan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan, nilai, dan kapasitas dirinya dalam menghadapi berbagai situasi. Remaja yang memiliki kepercayaan diri sehat cenderung mampu mengenali kelebihan dan kekurangan, menyampaikan pendapat, serta mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada persetujuan orang lain.

People pleasing dapat berkaitan dengan kepercayaan diri karena seseorang mulai menjadikan penilaian eksternal sebagai ukuran utama untuk menentukan harga dirinya.

Beberapa hubungan yang dapat terlihat antara keduanya meliputi:

1. Ketergantungan pada validasi orang lain

Remaja merasa dirinya berharga ketika mendapatkan pujian, perhatian, atau persetujuan. Sebaliknya, kritik dan penolakan dapat membuat mereka meragukan kemampuan maupun nilai dirinya.

2. Kesulitan mengenali identitas diri

Keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan membuat remaja kesulitan mengenali apa yang sebenarnya disukai, diyakini, dan diinginkan. Mereka lebih sering mengikuti pilihan orang lain daripada menentukan keputusan berdasarkan pertimbangan pribadi.

3. Munculnya keraguan dalam mengambil keputusan

Remaja yang terbiasa mencari persetujuan orang lain mungkin merasa tidak yakin ketika harus menentukan pilihan sendiri. Bahkan, keputusan sederhana dapat menjadi sumber kecemasan karena takut mendapatkan tanggapan negatif.

4. Mengabaikan penghargaan terhadap diri sendiri

Ketika kebutuhan orang lain selalu ditempatkan di posisi pertama, remaja dapat menganggap perasaan dan kepentingannya sendiri tidak terlalu penting. Kebiasaan tersebut berpotensi menghambat perkembangan penghargaan terhadap diri sendiri.

Meski demikian, people pleasing bukan satu-satunya penyebab rendahnya kepercayaan diri. Pengalaman keluarga, pola asuh, lingkungan pertemanan, perundungan, dan pengalaman sosial lainnya juga dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya.

Faktor yang Mendorong People Pleasing pada Remaja

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi munculnya kecenderungan people pleasing selama masa perkembangan remaja.

Pengaruh Lingkungan Pertemanan

Kelompok pertemanan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial remaja. Keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok dapat membuat seseorang berusaha menyesuaikan diri secara berlebihan, bahkan ketika harus mengorbankan prinsip pribadi.

Pola Asuh dan Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga turut membentuk cara anak memahami penerimaan dan penghargaan. Jika anak terbiasa mendapatkan perhatian hanya ketika memenuhi harapan tertentu, ia mungkin mengembangkan keyakinan bahwa dirinya harus selalu menyenangkan orang lain agar dianggap baik.

Pengalaman Penolakan atau Perundungan

Pengalaman pernah ditolak, diejek, atau dikucilkan dapat membuat remaja lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan. Sebagian mungkin berusaha menghindari pengalaman serupa melalui perilaku yang selalu mengikuti keinginan orang lain.

Pengaruh Media Sosial

Media sosial membuat remaja lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Jumlah suka, komentar, dan respons terhadap unggahan terkadang dijadikan ukuran penerimaan sosial. Jika terlalu bergantung pada respons tersebut, remaja dapat merasa perlu mempertahankan citra tertentu agar tetap disukai.

Cara Mengatasi People Pleasing dan Membangun Kepercayaan Diri

Mengurangi kebiasaan people pleasing membutuhkan proses. Remaja perlu belajar memahami kebutuhan pribadi sekaligus mengembangkan kemampuan menjalin hubungan sosial yang sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Belajar mengatakan tidak. Mulailah menolak permintaan sederhana yang tidak sesuai dengan kemampuan atau kondisi diri. Penolakan dapat disampaikan secara sopan tanpa harus memberikan penjelasan panjang.
  • Mengenali kebutuhan dan perasaan pribadi. Luangkan waktu untuk memahami hal-hal yang disukai, tidak disukai, serta nilai yang dianggap penting.
  • Berani menyampaikan pendapat. Mulailah mengungkapkan pandangan dalam diskusi sederhana. Perbedaan pendapat tidak selalu berarti hubungan pertemanan akan berakhir.
  • Mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Setiap orang memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Pencapaian orang lain tidak menentukan nilai diri sendiri.
  • Menghargai usaha pribadi. Kepercayaan diri dapat dibangun melalui pengakuan terhadap perkembangan kecil, termasuk keberanian mencoba dan mengambil keputusan.
  • Membangun batasan yang sehat. Memahami batasan pribadi membantu remaja mengetahui kapan harus membantu orang lain dan kapan perlu memprioritaskan kebutuhan sendiri.

Jika kebiasaan tersebut sudah menimbulkan tekanan emosional, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat remaja kesulitan menjalin hubungan yang sehat, berbicara dengan orang tua, guru BK, atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Peran Keluarga dan Guru BK dalam Menghadapi People Pleasing

Keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membantu remaja mengembangkan kepercayaan diri. Orang tua dapat menciptakan lingkungan yang terbuka agar anak merasa aman menyampaikan pendapat tanpa takut langsung disalahkan.

Guru juga dapat membantu melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil keputusan secara mandiri. Remaja perlu mendapatkan pemahaman bahwa setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, menetapkan batasan, dan membuat pilihan selama tetap menghargai orang lain.

Dalam hal ini, guru Bimbingan dan Konseling (BK) dapat memberikan pendampingan melalui layanan konseling individual maupun kelompok. Pendekatan tersebut membantu siswa mengenali pola perilaku, memahami perasaan, serta mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan mengambil keputusan.

Pentingnya Pendidikan Bimbingan dan Konseling dalam Memahami Perkembangan Remaja

Fenomena people pleasing menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga perkembangan emosional dan sosial peserta didik. Pemahaman mengenai kepercayaan diri, konsep diri, hubungan interpersonal, dan perkembangan psikologis remaja menjadi bekal penting bagi calon tenaga pendidik maupun konselor.

Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari pendampingan individu, perkembangan peserta didik, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sosial maupun emosional. Pemahaman tersebut dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan kepercayaan diri dan potensi peserta didik.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253

Instagram: @masoem_university

Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com