Peran Guru dalam Mengurangi Ketergantungan Siswa pada AI di Era Digital

Perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Siswa kini memiliki akses cepat ke berbagai sumber informasi dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas secara otomatis. Namun, fenomena ini juga menimbulkan tantangan baru bagi guru: bagaimana memastikan siswa tetap mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian belajar tanpa bergantung sepenuhnya pada AI.

FKIP Ma’soem University, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi di bidang keguruan, memiliki perhatian khusus terhadap isu ini. Mahasiswa calon guru di sini tidak hanya dibekali teori pendidikan, tetapi juga praktik pembelajaran yang menekankan pentingnya integritas akademik dan kemandirian siswa.


Mengapa Ketergantungan pada AI Bisa Menjadi Masalah

Salah satu risiko terbesar ketergantungan siswa pada AI adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis. AI mampu memberikan jawaban instan, namun tidak selalu melatih siswa untuk memahami proses, menganalisis informasi, dan mengambil kesimpulan sendiri.

Selain itu, kreativitas siswa bisa terhambat. Banyak pekerjaan rumah atau tugas proyek yang kini mudah diselesaikan menggunakan AI, sehingga siswa cenderung mencari jalan pintas daripada mencoba bereksperimen, berinovasi, atau menemukan solusi unik.

Di FKIP Ma’soem University, calon guru diajarkan untuk mengenali fenomena ini sejak dini, agar ketika mereka berada di kelas nanti, mereka mampu mengelola penggunaan teknologi dengan bijak.


Peran Guru dalam Mendorong Kemandirian Belajar

1. Memberikan Tantangan yang Memerlukan Pemikiran Mendalam

Guru dapat merancang tugas yang menuntut proses berpikir, analisis, dan refleksi, bukan sekadar jawaban cepat. Misalnya, proyek berbasis penelitian atau diskusi kelompok yang memerlukan argumentasi dan pemecahan masalah.

Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa calon guru dilatih untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menekankan keterlibatan aktif siswa. Hal ini memastikan bahwa siswa belajar tidak hanya untuk mendapatkan jawaban, tetapi juga memahami prosesnya.

2. Mengajarkan Strategi Belajar Efektif

Kemandirian belajar muncul ketika siswa memahami strategi yang tepat. Guru dapat membimbing siswa untuk membuat catatan efektif, peta konsep, dan teknik bertanya yang mendorong eksplorasi lebih dalam.

Program pengembangan guru di FKIP Ma’soem University menekankan pendekatan ini melalui microteaching dan simulasi kelas. Mahasiswa diajak mempraktikkan cara menstimulasi rasa ingin tahu siswa sambil tetap membatasi penggunaan AI sebagai “jalan pintas.”

3. Mengintegrasikan AI sebagai Alat Bantu, Bukan Jawaban

Alih-alih melarang AI sepenuhnya, guru dapat mengajarkannya sebagai alat bantu. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mencari referensi atau meninjau struktur tulisan, tetapi siswa tetap harus membuat analisis dan kesimpulan sendiri.

FKIP Ma’soem University menekankan penggunaan teknologi sebagai pendukung pembelajaran, bukan pengganti kemampuan dasar siswa. Dengan pendekatan ini, calon guru memahami pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kemandirian belajar.

4. Memberikan Umpan Balik yang Membangun

Umpan balik guru memiliki peran penting untuk mendorong kemandirian. Guru yang memberikan arahan, pertanyaan reflektif, dan saran pengembangan membuat siswa berpikir lebih dalam dan belajar dari kesalahan.

Di lingkungan praktik FKIP Ma’soem University, mahasiswa calon guru terbiasa memberikan evaluasi mendetail kepada teman sebaya saat simulasi pembelajaran. Hal ini melatih kemampuan menilai dan mendorong siswa lain agar tidak sekadar mengandalkan AI.


Strategi Praktis di Kelas

Aktivitas Berbasis Proyek

Memberikan tugas proyek yang memerlukan riset, kolaborasi, dan presentasi membuat siswa lebih aktif berpikir. AI bisa digunakan untuk mendukung data, tetapi interpretasi, analisis, dan presentasi tetap harus dilakukan secara mandiri.

Diskusi dan Debat

Debat kelas mendorong siswa menyusun argumen, menanggapi pertanyaan lawan, dan berpikir kritis. AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman interaktif ini.

Penilaian Portofolio

Portofolio memungkinkan guru menilai proses belajar siswa, bukan sekadar hasil akhir. FKIP Ma’soem University juga mengajarkan mahasiswa calon guru pentingnya dokumentasi belajar ini, karena dapat menunjukkan kemajuan dan kreativitas siswa dari waktu ke waktu.


Mengembangkan Karakter Siswa

Selain kemampuan akademik, guru juga berperan dalam membentuk karakter siswa agar mandiri. Kesadaran akan pentingnya belajar aktif, disiplin, dan etika akademik membuat siswa lebih jarang mencari jalan pintas melalui AI.

FKIP Ma’soem University mengintegrasikan pelatihan karakter ini dalam kurikulum. Mahasiswa calon guru belajar bagaimana menanamkan nilai-nilai integritas dan tanggung jawab, sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi siswa.