Sains di Balik Keripik yang Renyah: Apa yang Dipelajari Mahasiswa Teknologi Pangan?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa keripik kentang dalam kemasan bisa tetap renyah selama berbulan-bulan, sementara keripik yang kita goreng sendiri di rumah seringkali cepat melempem? Atau, mengapa warna keripik pisang bisa tetap kuning cerah dan tidak berubah menjadi cokelat gelap saat digoreng? Jawabannya bukan sekadar “resep rahasia”, melainkan ada sains yang sangat mendalam di baliknya.

Di jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, fenomena sehari-hari seperti kerenyahan keripik ini dibedah secara ilmiah. Menjadi mahasiswa teknologi pangan berarti Anda akan belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal struktur molekul, reaksi kimia, dan kontrol mikrobiologi.


Mengapa Sains Sangat Penting dalam Membuat Keripik?

Kerenyahan (crispiness) pada keripik adalah hasil dari pengaturan kadar air dan suhu yang sangat presisi. Sebagai mahasiswa teknologi pangan, Anda akan mempelajari beberapa disiplin ilmu kunci untuk menghasilkan keripik yang sempurna:

1. Kimia Pangan: Reaksi Maillard dan Kadar Air

Salah satu topik utama adalah Kimia Pangan. Saat keripik digoreng, terjadi Reaksi Maillard, yaitu reaksi antara asam amino dan gula pereduksi yang menciptakan warna cokelat keemasan dan aroma khas yang menggugah selera. Namun, jika suhu terlalu tinggi, reaksi ini bisa menghasilkan akrilamida yang kurang baik untuk kesehatan. Mahasiswa diajarkan cara mengontrol suhu dan waktu agar hasil gorengan tetap aman dan menggoda.

Selain itu, kunci utama kerenyahan adalah aktivitas air ($a_w$). Mahasiswa belajar bagaimana cara menurunkan kadar air hingga titik tertentu sehingga tekstur menjadi kaku dan renyah, namun tetap stabil saat disimpan.

2. Teknik Proses Pangan: Metode Penggorengan Vakum

Tidak semua keripik digoreng dengan wajan biasa. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diperkenalkan dengan teknologi Vacuum Frying (penggorengan vakum). Teknik ini memungkinkan buah dan sayur digoreng pada suhu yang lebih rendah agar nutrisi, warna, dan rasanya tidak rusak, namun tetap menghasilkan tekstur yang renyah. Ini adalah solusi untuk buah-buahan tinggi gula seperti nangka atau mangga yang akan gosong jika digoreng dengan metode biasa.

3. Teknologi Pengemasan: Atmosfer Terkendali

Mengapa bungkus keripik terlihat “kembung”? Itu bukan sekadar trik pemasaran, melainkan teknik Modified Atmosphere Packaging (MAP). Udara di dalam kemasan digantikan dengan nitrogen untuk mencegah oksidasi lemak yang bisa menyebabkan bau tengik. Mahasiswa teknologi pangan belajar memilih jenis plastik kemasan yang memiliki daya hambat (barrier) tinggi terhadap uap air dan oksigen agar keripik tetap renyah hingga ke tangan konsumen.


Membangun Karier Ahli Pangan di Universitas Ma’soem

Memahami sains di balik keripik hanyalah sebagian kecil dari luasnya ilmu yang dipelajari di Universitas Ma’soem (Masoem University). Kampus yang terletak di kawasan pendidikan Jatinangor-Sumedang ini memiliki komitmen kuat untuk mencetak lulusan yang mahir secara teknis dan unggul secara karakter.

Berikut adalah alasan mengapa Universitas Ma’soem menjadi tempat yang ideal untuk mendalami Teknologi Pangan:

  • Laboratorium yang Mendukung Riset Praktis: Sains butuh pembuktian. Universitas Ma’soem menyediakan fasilitas laboratorium mikrobiologi dan kimia pangan yang memadai. Mahasiswa tidak hanya menghafal teori, tetapi mempraktikkan langsung cara menguji mutu produk pangan, mulai dari uji kadar lemak hingga analisis sensorik untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen.
  • Kurikulum Berbasis Solusi Lokal: Universitas Ma’soem mendorong mahasiswa untuk melakukan inovasi pada komoditas pertanian lokal. Jawa Barat kaya akan singkong, pisang, dan umbi-umbian. Di sini, mahasiswa diajarkan cara meningkatkan nilai jual hasil tani tersebut menjadi produk olahan bermutu tinggi menggunakan sentuhan teknologi pangan terkini.
  • Pendidikan Karakter “Cageur, Bageur, Pinter”: Sejalan dengan filosofi Yayasan Al Ma’soem, mahasiswa dididik menjadi pribadi yang jujur dan disiplin. Dalam industri pangan, integritas adalah hal paling utama. Ahli pangan harus jujur dalam menggunakan bahan baku dan menjaga kebersihan proses produksi demi keselamatan konsumen.
  • Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan: Universitas Ma’soem sangat mendukung mahasiswanya menjadi foodpreneur. Jika Anda memiliki ide untuk membuat merek keripik inovatif yang sehat, kampus memberikan pembekalan mengenai manajemen bisnis, pengurusan izin edar (P-IRT/MD), hingga strategi pemasaran digital.

Menjadi mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem adalah tentang belajar cara memberikan nilai tambah pada bahan pangan sederhana melalui sains. Kerenyahan sebuah keripik mungkin terlihat sepele, namun di baliknya ada perhitungan kimia dan fisik yang memastikan makanan tersebut aman, awet, dan layak konsumsi.

Jika Anda memiliki minat pada sains dan ingin berkontribusi dalam memajukan industri pangan Indonesia, Universitas Ma’soem adalah pilihan yang tepat. Dengan lingkungan kampus yang asri, fasilitas modern, dan budaya santun, Anda akan disiapkan menjadi ahli pangan yang kompeten dan siap menjawab tantangan global.