Sikap yang Harus Dihindari oleh Seorang Guru Siapapun Itu: Panduan untuk Menciptakan Kelas yang Positif

Menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Peran seorang pendidik melibatkan kemampuan membimbing, memahami karakter siswa, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Namun, ada beberapa sikap yang sering tidak disadari guru dan justru bisa merusak proses belajar. Sikap-sikap ini harus dihindari siapa pun guru itu, baik di jenjang SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi.

Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP Ma’soem University), mahasiswa calon guru, khususnya dari jurusan Bimbingan Konseling (BK) dan Pendidikan Bahasa Inggris, diajarkan pentingnya etika profesional dan empati dalam mengajar. Pengetahuan teori ini sebaiknya diterapkan langsung saat praktik mengajar atau microteaching agar terbiasa mengelola kelas secara efektif.

1. Sikap Otokratis dan Tidak Fleksibel

Sikap otokratis muncul ketika guru terlalu menekankan peraturan tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau situasi siswa. Misalnya, menuntut seluruh siswa mengikuti metode menghafal tertentu tanpa memberi ruang untuk kreativitas atau penyesuaian gaya belajar.

Akibatnya, siswa cenderung merasa tertekan, kehilangan motivasi, dan tidak nyaman bertanya atau mengekspresikan pendapat. Guru sebaiknya belajar menyeimbangkan disiplin dan fleksibilitas. Teknik pengajaran adaptif, seperti memberi alternatif cara belajar, bisa meningkatkan keterlibatan siswa.

Mahasiswa FKIP Ma’soem University, khususnya jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, kerap belajar strategi mengajar interaktif yang menekankan keterlibatan aktif siswa, sehingga calon guru terlatih menghindari sikap otokratis ini.

2. Kurangnya Empati terhadap Siswa

Empati merupakan fondasi penting dalam pendidikan. Guru yang kurang empati sulit memahami kesulitan siswa, baik akademik maupun non-akademik. Contohnya, mengabaikan siswa yang kesulitan mengikuti materi atau memperlakukan semua siswa seolah memiliki kemampuan yang sama.

Sikap ini dapat membuat siswa merasa tidak diperhatikan, menurunkan rasa percaya diri, dan bahkan menimbulkan stres. Sebaliknya, guru yang empatik mampu menyesuaikan metode pembelajaran, memberi dorongan positif, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

Dalam praktiknya, mahasiswa BK di FKIP Ma’soem University belajar bagaimana memberikan bimbingan personal dan konseling ringan agar siswa merasa didengar dan didukung. Sikap empati ini menjadi landasan penting bagi seorang guru yang profesional.

3. Komunikasi yang Buruk

Komunikasi menjadi jembatan antara guru dan siswa. Guru yang menyampaikan instruksi tidak jelas, menggunakan bahasa terlalu teknis, atau sering mengkritik siswa secara verbal dapat menimbulkan kebingungan dan demotivasi.

Sebuah kelas yang komunikatif mendorong siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan berpartisipasi aktif. Guru sebaiknya menyesuaikan bahasa, nada, dan cara menyampaikan materi agar dapat diterima oleh berbagai tipe siswa.

Di FKIP, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dilatih membuat materi pembelajaran menarik, jelas, dan mudah dipahami. Latihan ini sekaligus membiasakan mereka menghindari komunikasi yang buruk saat mengajar.

4. Sikap Tidak Konsisten

Konsistensi sangat penting dalam menciptakan aturan dan harapan di kelas. Guru yang sering berubah-ubah dalam memberi instruksi, evaluasi, atau disiplin dapat membingungkan siswa. Misalnya, suatu hari guru menekankan ketepatan waktu, namun hari berikutnya tidak menegakkan hal itu sama sekali.

Ketidakonsistenan ini membuat siswa kesulitan memahami prioritas dan menurunkan rasa percaya terhadap guru. Sebagai solusi, guru perlu merancang aturan dan standar yang jelas, serta menerapkannya secara konsisten, namun tetap fleksibel bila kondisi mendesak.

FKIP Ma’soem University mendorong calon guru mengembangkan rencana pembelajaran yang jelas, termasuk aturan kelas dan strategi evaluasi. Hal ini membantu mahasiswa memahami pentingnya konsistensi sebelum terjun langsung ke dunia mengajar.

5. Menghakimi atau Membandingkan Siswa

Guru yang sering menghakimi atau membandingkan siswa secara negatif dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius. Misalnya, mengatakan, “Siswa A lebih pintar, kamu harus belajar lebih keras,” atau menertawakan kesalahan siswa di depan kelas.

Sikap ini tidak hanya merusak kepercayaan diri, tetapi juga memengaruhi motivasi belajar. Alternatif yang lebih efektif adalah memberikan umpan balik konstruktif, menekankan pencapaian individu, dan mendorong siswa belajar sesuai kemampuan masing-masing.

Calon guru di jurusan BK FKIP Ma’soem University dilatih memahami karakter siswa secara individual sehingga mampu menghindari perilaku menghakimi dan lebih fokus pada perkembangan positif siswa.

6. Kurangnya Profesionalisme

Profesionalisme tidak hanya soal penampilan, tetapi juga tanggung jawab dalam mengelola kelas dan menyampaikan materi. Guru yang datang terlambat, menyiapkan materi secara seadanya, atau tidak serius mengelola kelas akan kehilangan kredibilitas.

Siswa lebih mudah menghormati guru yang menunjukkan profesionalisme, disiplin, dan komitmen terhadap pembelajaran. Mahasiswa FKIP Ma’soem University diajarkan pentingnya etika mengajar, termasuk persiapan materi dan pengelolaan kelas secara profesional, sebagai bekal menghadapi dunia pendidikan nyata.

7. Tidak Mendorong Partisipasi Aktif

Beberapa guru cenderung mendominasi pembelajaran, sehingga siswa hanya menjadi pendengar pasif. Akibatnya, kreativitas, inisiatif, dan kemampuan berpikir kritis siswa tidak berkembang.

Seorang guru harus mampu memfasilitasi diskusi, kerja kelompok, dan aktivitas interaktif yang melibatkan semua siswa. Dengan begitu, suasana kelas menjadi lebih dinamis dan siswa lebih mudah memahami materi.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di FKIP sering diberikan latihan microteaching untuk menciptakan suasana kelas interaktif, sebagai cara melatih mereka menghindari perilaku dominasi berlebihan saat mengajar.