Setiap guru pasti pernah menghadapi siswa yang sulit duduk diam, sering berbicara di luar konteks pelajaran, mudah teralihkan, dan terlihat selalu “kehabisan energi”. Siswa seperti ini kerap disebut sebagai siswa hiperaktif. Dalam dunia pendidikan, keberadaan siswa hiperaktif bukanlah masalah yang harus dihindari, melainkan tantangan yang perlu dikelola dengan strategi yang tepat.
Tanpa pendekatan yang sesuai, siswa hiperaktif berisiko mengalami kesulitan akademik, masalah sosial, bahkan penurunan kepercayaan diri. Oleh karena itu, guru perlu memahami karakteristik siswa hiperaktif serta menerapkan strategi pembelajaran yang efektif, manusiawi, dan berorientasi pada perkembangan anak.
Memahami Karakteristik Siswa Hiperaktif
Langkah awal dalam menerapkan strategi menghadapi siswa hiperaktif adalah memahami karakteristik mereka. Siswa hiperaktif umumnya memiliki tingkat aktivitas yang tinggi, kesulitan memusatkan perhatian dalam waktu lama, serta cenderung impulsif dalam bertindak maupun berbicara. Namun, penting disadari bahwa mereka bukan anak “nakal” atau sengaja mengganggu proses belajar.
Banyak siswa hiperaktif justru memiliki potensi besar, seperti kreativitas tinggi, rasa ingin tahu yang kuat, dan kemampuan berpikir cepat. Tantangannya terletak pada bagaimana guru dapat mengarahkan energi tersebut ke arah yang positif dan produktif.
Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif
Strategi menghadapi siswa hiperaktif dimulai dari pengelolaan lingkungan kelas. Ruang belajar yang terlalu ramai, penuh distraksi visual, atau tidak terstruktur dapat memperburuk perilaku hiperaktif. Guru sebaiknya menata kelas dengan rapi, sederhana, dan memiliki aturan yang jelas.
Penempatan tempat duduk juga berpengaruh. Siswa hiperaktif sebaiknya duduk di area yang mudah dijangkau guru, jauh dari sumber gangguan seperti jendela atau pintu. Dengan demikian, guru dapat lebih mudah memberikan arahan dan pengawasan tanpa harus sering menegur secara terbuka.
Menerapkan Aturan Kelas yang Konsisten
Aturan kelas yang jelas dan konsisten sangat penting bagi siswa hiperaktif. Guru perlu menyampaikan aturan secara sederhana, konkret, dan mudah dipahami. Hindari aturan yang terlalu banyak, karena dapat membingungkan siswa.
Konsistensi menjadi kunci utama. Ketika aturan dilanggar, guru perlu memberikan konsekuensi yang telah disepakati sebelumnya, bukan hukuman yang bersifat emosional. Pendekatan ini membantu siswa hiperaktif memahami batasan perilaku tanpa merasa tertekan atau disudutkan.
Menggunakan Metode Pembelajaran Aktif
Salah satu strategi menghadapi siswa hiperaktif yang paling efektif adalah menerapkan metode pembelajaran aktif. Siswa hiperaktif cenderung sulit mengikuti pembelajaran yang monoton dan pasif. Oleh karena itu, guru dapat memanfaatkan diskusi kelompok, simulasi, permainan edukatif, eksperimen, atau pembelajaran berbasis proyek.
Aktivitas fisik ringan yang terintegrasi dalam pembelajaran juga dapat membantu menyalurkan energi siswa. Misalnya, mengajak siswa bergerak saat menjawab pertanyaan, menulis di papan tulis, atau melakukan ice breaking singkat di sela-sela pelajaran.
Memberikan Penguatan Positif
Penguatan positif merupakan strategi penting dalam menghadapi siswa hiperaktif. Ketika siswa menunjukkan perilaku yang sesuai, sekecil apa pun, guru sebaiknya memberikan apresiasi. Pujian yang tulus, isyarat nonverbal seperti senyuman, atau poin penghargaan dapat meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri siswa.
Sebaliknya, terlalu sering menegur atau memarahi siswa hiperaktif justru dapat memperburuk perilaku mereka. Pendekatan yang menghargai usaha siswa akan membantu membangun hubungan emosional yang sehat antara guru dan peserta didik.
Membangun Komunikasi dengan Orang Tua
Strategi menghadapi siswa hiperaktif tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh guru. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan agar penanganan siswa berjalan konsisten antara rumah dan sekolah. Guru dapat berdiskusi dengan orang tua mengenai kebiasaan anak, cara belajar yang efektif, serta pola pengasuhan yang diterapkan di rumah.
Komunikasi yang baik akan membantu guru memahami latar belakang siswa secara lebih menyeluruh, sehingga strategi yang diterapkan di kelas menjadi lebih tepat sasaran.
Peran Guru Profesional dan Lembaga Pendidikan
Keberhasilan strategi menghadapi siswa hiperaktif sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru. Guru yang memiliki pemahaman psikologi pendidikan, manajemen kelas, dan pendekatan pedagogis yang tepat akan lebih siap menghadapi keberagaman karakter siswa.
Hal inilah yang menjadi perhatian utama lembaga pendidikan keguruan, termasuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Ma’soem University. Melalui FKIP Ma’soem University, calon guru dibekali tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis dalam menangani siswa dengan kebutuhan khusus, termasuk siswa hiperaktif.
Mahasiswa FKIP Ma’soem University dilatih untuk menerapkan strategi pembelajaran inklusif, pendekatan humanis, serta teknik manajemen kelas berbasis karakter. Pembekalan ini menjadikan lulusan FKIP Ma’soem University lebih siap menghadapi dinamika nyata di dunia pendidikan.





