Teaching practice atau praktik mengajar merupakan fase krusial dalam proses pembentukan calon guru profesional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa pendidikan tidak hanya menerapkan teori pedagogik yang dipelajari di kampus, tetapi juga berhadapan langsung dengan realitas kelas yang kompleks. Salah satu realitas yang paling sering ditemui adalah kondisi sekolah dengan tingkat disiplin siswa yang rendah. Situasi ini kerap menjadi tantangan utama, terutama bagi mahasiswa yang baru pertama kali terjun ke dunia pengajaran.
Disiplin rendah di sekolah dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti keterlambatan siswa masuk kelas, kurangnya perhatian saat pembelajaran berlangsung, pelanggaran tata tertib, hingga perilaku tidak menghargai guru. Bagi mahasiswa teaching practice, kondisi tersebut tidak hanya menguji kemampuan mengajar, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan profesionalisme sebagai pendidik pemula.
Makna Teaching Practice dalam Pendidikan Guru
Teaching practice bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan sarana pembelajaran kontekstual yang menuntut mahasiswa memahami dinamika nyata di sekolah. Pada tahap ini, calon guru belajar mengelola kelas, menyusun strategi pembelajaran, berkomunikasi dengan siswa, serta beradaptasi dengan budaya sekolah. Pengalaman tersebut menjadi jembatan antara teori pendidikan di bangku kuliah dan praktik lapangan yang sesungguhnya.
Institusi pendidikan tenaga kependidikan, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), menempatkan teaching practice sebagai mata kuliah inti. Di lingkungan Ma’soem University, khususnya FKIP Ma’soem University, praktik mengajar dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara seimbang.
Disiplin Rendah sebagai Tantangan Utama
Sekolah dengan disiplin rendah menghadirkan situasi kelas yang kurang kondusif. Kondisi tersebut sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari latar belakang keluarga siswa, budaya sekolah yang longgar, hingga kurang konsistennya penegakan aturan. Mahasiswa teaching practice, yang belum memiliki otoritas penuh seperti guru tetap, sering kali merasa kesulitan mengendalikan kelas.
Ketidakteraturan kelas dapat mengganggu alur pembelajaran, menurunkan efektivitas penyampaian materi, dan memicu stres pada mahasiswa praktikan. Rasa gugup yang awalnya wajar dapat berkembang menjadi kecemasan berlebihan apabila tidak diimbangi dengan strategi pengelolaan kelas yang tepat.
Dampak terhadap Proses Pembelajaran
Disiplin yang rendah berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Siswa menjadi kurang fokus, interaksi belajar tidak berjalan optimal, serta tujuan pembelajaran sulit tercapai. Dalam konteks teaching practice, kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan diri mahasiswa dan memengaruhi penilaian kinerja mengajar.
Namun, situasi tersebut juga dapat menjadi sarana pembelajaran yang bernilai tinggi. Mahasiswa belajar bahwa mengajar bukan hanya soal penguasaan materi, melainkan juga kemampuan membangun relasi, menciptakan iklim kelas yang positif, dan menegakkan aturan secara humanis.
Strategi Menghadapi Kelas dengan Disiplin Rendah
Pengelolaan kelas menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan disiplin. Mahasiswa teaching practice perlu menetapkan aturan kelas sejak awal pembelajaran, meskipun dalam skala sederhana. Penyampaian aturan sebaiknya dilakukan secara tegas namun tetap komunikatif agar siswa merasa dihargai.
Pendekatan pembelajaran yang variatif juga berperan penting. Aktivitas interaktif, penggunaan media visual, serta metode diskusi dapat meningkatkan keterlibatan siswa. Kelas yang aktif cenderung lebih mudah dikendalikan dibandingkan pembelajaran satu arah yang monoton.
Komunikasi interpersonal tidak kalah penting. Mahasiswa praktikan perlu membangun kedekatan emosional dengan siswa tanpa menghilangkan batas profesional. Sikap empatik, konsisten, dan adil akan membantu menciptakan rasa saling menghormati di dalam kelas.
Peran Guru Pamong dan Sekolah
Keberhasilan teaching practice tidak terlepas dari peran guru pamong dan pihak sekolah. Bimbingan yang intensif, masukan konstruktif, serta contoh nyata pengelolaan kelas sangat membantu mahasiswa dalam menghadapi situasi sulit. Sekolah yang terbuka terhadap mahasiswa praktikan akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif.
Kolaborasi antara kampus dan sekolah menjadi aspek penting dalam meminimalkan hambatan disiplin. Melalui komunikasi yang baik, mahasiswa dapat memahami karakter siswa dan budaya sekolah sejak awal praktik.
Kontribusi FKIP dalam Menyiapkan Mahasiswa
FKIP memiliki tanggung jawab besar dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan menghadapi kelas nyata. Pembekalan sebelum teaching practice, seperti pelatihan manajemen kelas, microteaching, dan simulasi pembelajaran, menjadi fondasi penting. Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki ketangguhan mental dan fleksibilitas pedagogik.
Pendekatan ini membantu mahasiswa melihat tantangan disiplin bukan sebagai hambatan semata, melainkan sebagai peluang pengembangan diri. Pengalaman mengajar di sekolah dengan disiplin rendah justru dapat membentuk karakter guru yang adaptif, sabar, dan solutif.
Tantangan teaching practice di sekolah dengan disiplin rendah merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Situasi tersebut menuntut mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan manajemen kelas, komunikasi efektif, dan ketahanan emosional. Melalui dukungan institusi pendidikan, bimbingan guru pamong, serta refleksi berkelanjutan, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal berharga bagi calon guru.





