Teacher Belief dan Pengaruhnya terhadap Praktik Mengajar

Kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, metode, atau media pembelajaran yang digunakan. Salah satu faktor penting yang sering luput dari perhatian adalah teacher belief atau keyakinan guru. Teacher belief merujuk pada pandangan, asumsi, dan keyakinan yang dimiliki guru mengenai proses belajar-mengajar, peserta didik, serta peran guru itu sendiri. Keyakinan ini terbentuk melalui pengalaman pribadi, latar belakang pendidikan, budaya sekolah, hingga interaksi sosial dalam lingkungan profesional. Tanpa disadari, teacher belief memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap praktik mengajar di kelas.

Pengertian Teacher Belief

Teacher belief dapat didefinisikan sebagai sistem kepercayaan yang memengaruhi cara guru memahami pembelajaran dan mengambil keputusan pedagogis. Keyakinan ini mencakup pandangan guru tentang bagaimana siswa belajar, strategi mengajar yang dianggap efektif, serta bagaimana peran guru dalam membimbing peserta didik. Misalnya, guru yang meyakini bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa cenderung menggunakan metode diskusi, proyek, dan kerja kelompok. Sebaliknya, guru yang percaya bahwa pengetahuan harus ditransfer secara langsung akan lebih sering menggunakan metode ceramah.

Keyakinan tersebut tidak selalu bersifat eksplisit. Banyak guru menjalankan praktik mengajar berdasarkan kebiasaan dan pengalaman masa lalu tanpa menyadari bahwa tindakan mereka dipengaruhi oleh teacher belief yang telah tertanam sejak lama.

Faktor Pembentuk Teacher Belief

Teacher belief tidak muncul secara instan. Ada beberapa faktor yang membentuk keyakinan guru, di antaranya pengalaman belajar saat menjadi siswa, pendidikan formal di perguruan tinggi, pengalaman mengajar, serta budaya institusi pendidikan tempat guru bekerja. Pengalaman negatif atau positif di masa lalu dapat membentuk persepsi tertentu terhadap siswa dan proses pembelajaran.

Selain itu, pendidikan keguruan memiliki peran penting dalam membangun teacher belief yang profesional. Mahasiswa calon guru yang dibekali teori pendidikan, praktik mengajar, dan refleksi pedagogis akan memiliki keyakinan yang lebih terbuka dan adaptif. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tenaga kependidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk teacher belief yang selaras dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.

Pengaruh Teacher Belief terhadap Praktik Mengajar

Teacher belief berpengaruh langsung terhadap berbagai aspek praktik mengajar di kelas. Pertama, keyakinan guru memengaruhi pemilihan metode dan strategi pembelajaran. Guru yang percaya bahwa siswa aktif akan belajar lebih efektif cenderung menerapkan pembelajaran berbasis masalah atau proyek. Sebaliknya, guru yang memandang siswa sebagai penerima pasif informasi akan lebih fokus pada penjelasan satu arah.

Kedua, teacher belief memengaruhi cara guru berinteraksi dengan siswa. Guru yang memiliki keyakinan positif terhadap kemampuan siswa akan memberikan dukungan, umpan balik konstruktif, dan kesempatan berkembang. Hal ini dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa. Sebaliknya, keyakinan negatif dapat menyebabkan guru membatasi partisipasi siswa dan menurunkan kualitas interaksi pembelajaran.

Ketiga, teacher belief berpengaruh terhadap penilaian hasil belajar. Guru yang meyakini bahwa proses belajar sama pentingnya dengan hasil akan menggunakan penilaian autentik, seperti portofolio dan penilaian kinerja. Sementara itu, guru yang lebih berorientasi pada hasil akhir cenderung mengandalkan tes tertulis semata.

Teacher Belief dan Profesionalisme Guru

Dalam konteks profesionalisme, teacher belief berperan sebagai landasan refleksi dan pengembangan diri guru. Guru profesional tidak hanya menguasai materi dan metode mengajar, tetapi juga mampu merefleksikan keyakinannya sendiri. Dengan refleksi yang berkelanjutan, guru dapat menyesuaikan keyakinan yang dimiliki dengan perkembangan ilmu pendidikan dan karakteristik peserta didik.

Perubahan kurikulum, kemajuan teknologi, serta keberagaman latar belakang siswa menuntut guru untuk memiliki teacher belief yang fleksibel dan terbuka. Guru yang mampu menyesuaikan keyakinannya akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan modern.

Peran Pendidikan Keguruan dalam Membentuk Teacher Belief

Pendidikan keguruan memiliki peran strategis dalam membentuk teacher belief calon guru. Melalui perkuliahan, microteaching, dan praktik pengalaman lapangan, mahasiswa calon guru dilatih untuk memahami teori pembelajaran sekaligus menerapkannya secara kontekstual. Proses ini membantu mahasiswa membangun keyakinan profesional yang tidak hanya berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi juga landasan ilmiah.

Di Indonesia, perguruan tinggi dengan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan berperan penting dalam mencetak guru yang kompeten dan reflektif. Salah satunya adalah Ma’soem University melalui FKIP Ma’soem University yang berkomitmen mengembangkan calon pendidik berkualitas. Melalui kurikulum yang relevan, praktik mengajar terarah, serta penanaman nilai profesionalisme, mahasiswa FKIP dibekali pemahaman bahwa teacher belief yang positif akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di sekolah.

Implikasi Teacher Belief bagi Peningkatan Mutu Pendidikan

Memahami teacher belief dan pengaruhnya terhadap praktik mengajar memberikan implikasi penting bagi peningkatan mutu pendidikan. Guru perlu diberi ruang untuk refleksi dan pengembangan profesional berkelanjutan agar mampu mengevaluasi dan memperbarui keyakinannya. Selain itu, sekolah dan lembaga pendidikan tinggi perlu menciptakan budaya akademik yang mendukung pertumbuhan teacher belief yang konstruktif.

Dengan teacher belief yang tepat, guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga fasilitator, motivator, dan pembimbing bagi peserta didik. Hal ini akan menciptakan proses pembelajaran yang bermakna dan berorientasi pada pengembangan potensi siswa secara holistik.