Teacher Emotional Regulation Strategy merujuk pada kemampuan guru mengelola emosi secara sadar saat menjalankan peran profesional di kelas. Strategi ini bukan sekadar soal menahan marah atau terlihat tenang, melainkan proses reflektif yang membantu guru merespons situasi belajar secara proporsional. Dunia pendidikan saat ini menuntut guru berhadapan pada keragaman karakter peserta didik, tekanan administratif, tuntutan kurikulum, serta ekspektasi orang tua dan institusi. Kondisi tersebut menjadikan regulasi emosi sebagai kompetensi penting yang memengaruhi kualitas pembelajaran sekaligus kesehatan mental guru.
Konsep Dasar Regulasi Emosi pada Guru
Regulasi emosi adalah kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi agar respons yang muncul tetap adaptif. Dalam konteks keguruan, emosi guru sering dipicu oleh perilaku siswa, keterbatasan waktu, hingga dinamika kelas yang tidak terduga. Guru yang memiliki regulasi emosi baik mampu membedakan antara reaksi spontan dan respons pedagogis. Kesadaran ini membantu guru memilih tindakan yang mendukung tujuan belajar, bukan sekadar melampiaskan perasaan sesaat.
Tantangan Emosional di Lingkungan Kelas
Ruang kelas merupakan arena sosial yang kompleks. Guru menghadapi siswa aktif, pasif, bahkan disruptif dalam satu waktu. Situasi seperti ketidaksiapan siswa, keterlambatan tugas, atau perbedaan kemampuan akademik kerap memicu frustrasi. Tanpa strategi regulasi emosi, guru berisiko bersikap reaktif, misalnya menaikkan nada suara atau memberi sanksi berlebihan. Dampak jangka panjangnya dapat mengganggu iklim kelas dan relasi guru–siswa.
Strategi Kognitif dalam Mengelola Emosi
Pendekatan kognitif menekankan cara berpikir guru terhadap suatu peristiwa. Reappraisal atau penilaian ulang kognitif menjadi strategi utama. Guru diajak memaknai ulang perilaku siswa sebagai bagian dari proses belajar, bukan serangan personal. Pola pikir ini membantu menurunkan intensitas emosi negatif dan membuka ruang respons yang lebih edukatif. Selain itu, self-talk positif dapat digunakan untuk menjaga fokus dan kepercayaan diri saat situasi kelas terasa menekan.
Strategi Perilaku yang Relevan
Regulasi emosi juga tercermin pada tindakan nyata. Teknik jeda sejenak sebelum merespons, pengaturan bahasa tubuh, serta penggunaan nada suara yang stabil merupakan bentuk strategi perilaku. Guru dapat memilih untuk mengalihkan perhatian kelas, mengubah metode pembelajaran, atau memberikan waktu refleksi singkat. Tindakan tersebut menunjukkan kontrol diri sekaligus memberi contoh nyata kepada siswa tentang cara mengelola emosi secara sehat.
Peran Kesadaran Diri dan Refleksi
Kesadaran diri menjadi fondasi utama regulasi emosi. Guru yang terbiasa melakukan refleksi pascapembelajaran cenderung lebih peka terhadap pemicu emosionalnya. Proses refleksi membantu guru mengevaluasi respons yang sudah dilakukan dan merancang strategi perbaikan. Kebiasaan ini memperkuat profesionalisme karena guru tidak hanya fokus pada materi, tetapi juga pada kualitas interaksi pedagogis.
Dampak Regulasi Emosi terhadap Pembelajaran
Teacher Emotional Regulation Strategy berdampak langsung pada suasana kelas. Iklim belajar yang aman secara emosional mendorong siswa lebih berani bertanya dan berpendapat. Guru yang mampu mengelola emosi juga lebih konsisten dalam menerapkan aturan kelas, sehingga siswa merasakan keadilan. Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa stabilitas emosi guru berkontribusi pada peningkatan motivasi belajar dan keterlibatan siswa.
Regulasi Emosi sebagai Kompetensi Profesional
Kompetensi guru tidak hanya diukur dari penguasaan materi dan metode, tetapi juga dari kematangan emosional. Regulasi emosi mencerminkan etika profesi dan tanggung jawab moral guru. Kemampuan ini membantu guru menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan kebutuhan psikologis siswa. Oleh karena itu, pengembangan regulasi emosi perlu dipandang sebagai bagian integral dari pendidikan keguruan.
Konteks Pendidikan Guru di Indonesia
Di Indonesia, pendidikan calon guru mulai menaruh perhatian pada aspek afektif dan sosial-emosional. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan mendorong mahasiswa calon guru memahami dinamika psikologis kelas. Di lingkungan seperti FKIP pada Ma’soem University, pembentukan sikap profesional, termasuk kesadaran emosi, menjadi bagian dari proses akademik dan praktik kependidikan. Pendekatan ini membantu calon guru mempersiapkan diri menghadapi realitas sekolah tanpa mengada-ngada atau berjarak dari konteks lapangan.
Implikasi bagi Pengembangan Guru
Penerapan Teacher Emotional Regulation Strategy menuntut dukungan institusional. Pelatihan, diskusi reflektif, serta supervisi yang bersifat suportif dapat membantu guru mengasah keterampilan ini. Lingkungan kerja yang sehat juga berperan penting dalam menjaga stabilitas emosi guru. Ketika guru merasa dihargai dan didukung, kemampuan regulasi emosi cenderung meningkat secara alami.
Teacher Emotional Regulation Strategy bukan keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar dalam praktik keguruan. Strategi ini membantu guru merespons tantangan kelas secara bijak, membangun relasi positif, dan menciptakan iklim belajar yang kondusif.





