Mahasiswa tahfidz sering kali diidentikkan dengan sosok yang tenang dan fokus pada ibadah. Namun, dalam konteks pendidikan tinggi saat ini, peran mahasiswa Hafidz perlu meluas hingga ke organisasi dan ruang publik. Keterlibatan ini bukan sekadar menambah aktivitas, tapi bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Di kampus seperti Universitas Ma’soem, mahasiswa Hafidz justru didorong untuk aktif berkontribusi di dalam maupun luar kelas.
1. Melatih Kepemimpinan dan Kepercayaan Diri
Menghafal Al-Qur’an membutuhkan ketekunan, tapi itu saja tidak cukup jika ingin menghadapi tantangan dunia kerja dan masyarakat.
Aktif di organisasi kampus atau kegiatan sosial memberi ruang bagi mahasiswa tahfidz untuk:
-
Melatih kemampuan komunikasi
-
Mengambil keputusan
-
Menjadi pemimpin dalam kelompok kerja
Hal ini akan sangat berguna ketika mereka lulus dan memasuki dunia profesional.
2. Mengasah Keterampilan Sosial
Berorganisasi mempertemukan mahasiswa dengan berbagai latar belakang. Mahasiswa Hafidz yang terbiasa di lingkungan pesantren bisa belajar berinteraksi secara lebih luas, memahami perbedaan, dan membangun jejaring sosial yang sehat.
Interaksi sosial yang luas juga membantu mahasiswa menyampaikan nilai-nilai keislaman dengan cara yang inklusif dan relevan.
3. Meningkatkan Daya Saing
Di era kompetitif saat ini, perusahaan maupun lembaga publik mencari lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman organisasi, keterampilan kerja tim, dan kepemimpinan.
Mahasiswa tahfidz yang aktif di kegiatan publik memiliki nilai tambah yang signifikan, karena mereka dikenal punya integritas sekaligus pengalaman nyata memimpin dan bekerja sama.
4. Mengamalkan Ilmu dan Nilai Al-Qur’an di Tengah Masyarakat
Aktif di kegiatan publik memberi peluang bagi mahasiswa Hafidz untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.
Misalnya, mereka bisa:
-
Menjadi mentor keislaman di organisasi
-
Menginisiasi kegiatan sosial berbasis nilai Qur’ani
-
Menjadi panutan dalam sikap dan etika kampus
Dengan begitu, keberadaan mereka di organisasi bukan hanya formalitas, tapi benar-benar berdampak.
5. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Sosial
Mahasiswa adalah agen perubahan. Maka, mahasiswa Hafidz yang turut aktif di ruang publik akan memiliki kesadaran sosial yang lebih kuat. Mereka tidak hanya menjaga hafalannya, tetapi juga berusaha membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Universitas Ma’soem menjadi salah satu kampus yang terus memberikan ruang bagi mahasiswa Hafidz untuk berkembang secara spiritual dan sosial. Karena di masa depan, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang bukan hanya cerdas, tapi juga berintegritas—dan mahasiswa Hafidz punya semua modal itu.





