Penulis: Eva Meiliana

Dalam dunia bisnis digital yang bergerak dengan sangat cepat, memahami bagaimana sebuah produk “hidup” di pasar bukan lagi sekadar teori—melainkan kunci untuk bertahan dan berkembang. Salah satu konsep penting
yang wajib dikuasai adalah Product Life Cycle (Siklus Kehidupan Produk). Konsep ini menjelaskan perjalanan sebuah produk sejak pertama kali diluncurkan, berkurang, hingga akhirnya ditinggalkan oleh pasar.
Menurut Kotler dan Keller (2016), siklus kehidupan produk menggambarkan tahapan penjualan dan laba produk dari awal hingga penurunan. Artinya, setiap produk tidak akan selamanya berada di puncak—ada fase naik, stabil, hingga turun. Boone dan Kurtz (2017) juga menegaskan bahwa meskipun pola setiap produk bisa
berbeda, umumnya semua produk melewati empat tahap utama: perkenalan, pertumbuhan, kedewasaan, dan penurunan.
Lalu, bagaimana konsep ini relevan dengan jurusan Bisnis Digital?
Di era digital, siklus hidup produk cenderung lebih cepat dibandingkan bisnis konvensional. Tren bisa berubah dalam hitungan bulanan, hingga bahkan mingguan. Oleh karena itu, mahasiswa dan pelaku bisnis digital perlu lebih adaptif dalam membaca setiap tahap dan menentukan strategi yang tepat.
Berdasarkan konsep Product Life Cycle, setiap produk akan melalui beberapa tahapan utama dalam perjalanannya di pasar. Tahapan tersebut meliputi:
1. Tahap Perkenalan: Membangun Awareness di Era Digital
Pada tahap ini, produk baru saja diluncurkan. Penjualan masih rendah, dan biaya promosi biasanya sangat
tinggi. Dalam konteks bisnis digital, strategi yang umum digunakan adalah digital marketing seperti iklan di media sosial, influencer, hingga content marketing.
Contohnya adalah kacamata VR. Produk ini masih dalam tahap perkenalan karena belum digunakan secara luas. Di sini, tantangan terbesar adalah edukasi pasar—membuat orang paham “kenapa mereka butuh produk ini”.
Bagi pelaku bisnis digital, ini berarti:
- Fokus pada branding dan awareness
- Menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube
- Membuat konten edukatif dan menarik
2. Tahap Pertumbuhan: Scale Up dan Optimasi
Ketika produk mulai diterima pasar, penjualan juga ikut meningkat pesat. Namun, di saat yang sama, kompetitor juga mulai bermunculan.
Sepeda listrik sebagai contoh yang sedang berada di tahap ini. Permintaan produk meningkat, terutama di kota besar, dan banyak brand mulai bersaing.
Dalam bisnis digital, strategi yang dilakukan biasanya:
- Optimasi iklan (ads scaling)
- Memperluas pasar melalui e-commerce
- Meningkatkan pengalaman pelanggan (UX/UI)
Di tahap ini, data menjadi sangat penting. Mahasiswa bisnis digital harus mampu membaca data analytics untuk menentukan strategi yang tepat.
3. Tahap Kedewasaan: Bertahan di Tengah Persaingan Ketat
Di tahap ini, pasar sudah mulai jenuh. Produk seperti laptop sudah menjadi kebutuhan umum, sehingga persaingan sangat tinggi.
Perusahaan tidak lagi fokus pada “menjual produk baru”, tetapi:
- Diferensiasi (“apa yang bikin produk ini berbeda?”)
- Loyalitas pelanggan
- Inovasi kecil namun tetap konsisten Dalam bisnis digital, ini bisa berupa:
- Program membership atau loyalty
- Branding yang kuat
- Upgrade fitur secara berkala
Kalau tidak berinovasi, produk akan cepat tergeser oleh competitor yang menawarkan “nilai” lebih tinggi bagi konsumen.
4. Tahap Penurunan: Adaptasi atau Tinggalkan
Tidak ada produk yang dapat bertahan selamanya. Ketika teknologi berubah, perilaku konsumen juga ikut berubah.
Pemutar DVD sebagai contoh nyata. Dulu benda ini sangat popular bahkan hampir setiap rumah mungkin memilikinya, tapi sekarang hampir tidak digunakan karena tergantikan oleh platform streaming.
Di tahap ini, perusahaan punya dua pilihan:
- Rebranding atau inovasi ulang produk, atau
- Menghentikan produk dan fokus ke produk yang baru
Dalam bisnis digital, ini sering terjadi pada aplikasi, platform, atau tren yang “mati” karena sudahtidak relevan lagi.
Kenapa Ini Penting untuk Mahasiswa Bisnis Digital?
Memahami siklus hidup produk bukan hanya teori, tapi skill strategis. Dengan memahami ini, mahasiswa bisa:
- Menentukan kapan harus dilakukan promosi secara besar-besaran
- Mengetahui kapan harus dilakukan inovasi
- Menghindari kerugian akibat mempertahankan produk yang sudah “mati”
Di dunia digital yang serba cepat, yang menang bukan hanya yang punya produk bagus—tapi yang tahu kapan harus bergerak dan bagaimana caranya. Jadi, kalau ingin sukses di bidang bisnis digital, jangan hanya fokus pada ide produk saja. Tapi pahami juga “umur” produk di pasar, dan siapkan strategi yang tepat untuk setiap fasenya.




