Pernah penasaran bagaimana sebuah camilan bisa tetap renyah berminggu-minggu? Atau bagaimana makanan instan bisa tetap segar hingga berbulan-bulan? Di balik itu semua, ada proses riset dan pengujian yang dilakukan oleh para ahli—termasuk mahasiswa Teknologi Pangan.
Di Ma’soem University, proses ini sudah menjadi bagian dari kegiatan rutin di laboratorium dan mata kuliah riset produk. Mahasiswa diajak tidak hanya menciptakan makanan baru, tapi juga mengujinya secara ilmiah.
Beberapa tahapan yang dilalui antara lain:
1. Formulasi Produk
Mahasiswa merancang resep berdasarkan kebutuhan nutrisi, preferensi pasar, dan potensi bahan lokal.
2. Uji Fisik dan Kimia
Mengukur tekstur, kadar air, nilai gizi, dan stabilitas produk menggunakan alat laboratorium.
3. Uji Sensorik
Melibatkan responden untuk mencicipi dan menilai aspek rasa, aroma, warna, dan tampilan makanan.
4. Uji Daya Simpan (Shelf Life)
Produk diuji untuk mengetahui seberapa lama bisa bertahan sebelum basi atau rusak.
5. Analisis dan Dokumentasi
Mahasiswa membuat laporan hasil uji dan menyusun perbaikan formula jika dibutuhkan.
“Kami ingin mahasiswa nggak hanya bisa bikin makanan yang enak, tapi juga paham secara ilmiah kenapa makanan itu bisa aman, awet, dan sesuai selera pasar,” ujar dosen Teknologi Pangan Ma’soem University.
Hasil dari proses ini sering dijadikan:
-
Proyek akhir atau skripsi
-
Prototipe untuk dipamerkan di expo kampus
-
Produk awal untuk rintisan bisnis mahasiswa
-
Pendampingan UMKM makanan lokal
Melalui praktik langsung seperti ini, mahasiswa Teknologi Pangan tak hanya jadi pengguna ilmu, tapi juga produsen solusi pangan yang siap bersaing di dunia industri dan wirausaha.





