Saat dunia usaha makin kompetitif, banyak yang lupa pada nilai dan etika. Tapi berbeda bagi mahasiswa Hafidz. Bagi mereka, hafalan Al-Qur’an bukan hanya ibadah, tapi bekal penting dalam membangun bisnis yang jujur, adil, dan penuh tanggung jawab.
Di Universitas Ma’soem, nilai-nilai Qur’ani bukan hanya disampaikan lewat ceramah, tapi dihidupkan dalam kegiatan pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa.
1. Hafalan Al-Qur’an Jadi Pedoman Moral dalam Mengambil Keputusan
Dalam bisnis, setiap keputusan punya risiko. Mahasiswa Hafidz yang terbiasa meresapi isi Al-Qur’an biasanya lebih hati-hati dalam menentukan langkah.
Mereka cenderung menolak praktik curang, menghindari riba, dan lebih memilih sistem bisnis yang menguntungkan semua pihak secara adil.
2. Kejujuran Jadi Prinsip Utama dalam Usaha
Ayat-ayat tentang kejujuran dan larangan menipu dalam Al-Qur’an membuat mahasiswa Hafidz sadar bahwa kepercayaan pelanggan adalah aset utama.
Hal ini terlihat dari cara mereka membangun bisnis—transparan dalam harga, jujur dalam kualitas, dan terbuka dalam komunikasi.
3. Bertanggung Jawab secara Sosial
Hafalan Al-Qur’an yang dihayati tidak hanya melahirkan etika bisnis, tetapi juga rasa tanggung jawab terhadap masyarakat.
Banyak mahasiswa Hafidz yang membuat usaha berbasis pemberdayaan, seperti mengangkat UMKM lokal, membuka lapangan kerja, atau berdonasi dari sebagian keuntungan.
4. Memegang Amanah Pelanggan dan Mitra
Nilai-nilai seperti “menunaikan amanah” dan “bertransaksi dengan niat baik” bukan sekadar hafalan, tapi menjadi prinsip hidup.
Mahasiswa Hafidz yang menjalankan bisnis sering kali dikenal sebagai partner yang bisa diandalkan.
5. Berani Berkembang, tapi Tetap Taat Nilai
Meski dunia digital menuntut adaptasi, mahasiswa Hafidz tetap berusaha menjaga batasan syar’i dalam strategi pemasaran dan konten usaha.
Mereka menunjukkan bahwa berkembang di era modern bukan berarti meninggalkan prinsip dasar dalam agama.
Universitas Ma’soem menjadi tempat tumbuhnya banyak mahasiswa yang memadukan hafalan Qur’an dengan semangat wirausaha. Bagi mereka, sukses tak hanya soal omzet, tapi juga berkarya dengan nilai dan memberi manfaat seluas-luasnya.





