Di tengah meningkatnya tren usaha kuliner dan produk makanan lokal, kebutuhan akan konsultan pangan makin meningkat. Konsultan ini bertugas membantu pelaku usaha—termasuk UMKM—untuk memahami proses produksi yang higienis, uji mutu, perizinan, hingga pengemasan.
Mahasiswa jurusan Teknologi Pangan, seperti di Ma’soem University, mulai dikenalkan pada peran ini sejak masa kuliah. Mereka tak hanya belajar soal pengolahan bahan pangan, tetapi juga bagaimana mengelola kualitas, memberi edukasi ke pelaku usaha, serta menyusun strategi peningkatan produk dari sisi kesehatan dan keamanan.
Apa Saja yang Dikerjakan Konsultan Makanan?
Membimbing UMKM Kuliner
Konsultan membantu pelaku usaha memahami standar BPOM, label informasi gizi, hingga cara menyimpan bahan pangan agar tahan lama.
Menganalisis dan Meningkatkan Mutu Produk
Produk yang sering rusak, basi cepat, atau kurang konsisten akan dianalisis dan diberi solusi berdasarkan ilmu pangan.
Membantu Proses Sertifikasi dan Izin Usaha
Termasuk membantu membuat SOP, dokumentasi HACCP, dan cara mengajukan izin edar produk makanan.
Di Ma’soem University, kemampuan ini diperkuat dengan praktik langsung dalam program mentoring startup, serta proyek lapangan yang melibatkan mahasiswa dengan komunitas usaha lokal. Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan magang yang mempertemukan mereka langsung dengan dunia industri dan wirausaha kuliner.
Dosen Teknologi Pangan menambahkan, menjadi konsultan bukan sekadar profesi, tapi juga bentuk pengabdian masyarakat. “Dengan ilmu yang mereka punya, mahasiswa bisa bantu banyak usaha kecil untuk naik kelas secara kualitas dan legalitas,” ujarnya.
Dengan pemahaman menyeluruh soal pangan, teknologi, dan edukasi konsumen, lulusan Teknologi Pangan berpeluang luas menjadi konsultan pangan profesional yang dapat menjembatani ilmu kampus dan kebutuhan pelaku usaha di lapangan.





