Minat generasi muda untuk menjadi wirausaha terus meningkat, terutama di bidang kuliner. Banyak yang ingin punya produk makanan sendiri, tapi belum tahu bagaimana caranya mengembangkan produk yang aman, inovatif, dan siap dijual. Nah, di jurusan Teknologi Pangan, mahasiswa justru dibekali ilmu tersebut sejak awal kuliah.
Seperti di Ma’soem University, kurikulum Teknologi Pangan sudah memasukkan materi tentang entrepreneurship, inovasi produk, dan riset pasar sebagai bagian penting dari pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya belajar memasak, tetapi juga:
-
Merancang produk makanan baru dengan formula yang tepat
-
Melakukan riset daya tahan produk dan kemasan
-
Menguji kualitas rasa, tekstur, dan kandungan gizi
-
Membuat studi kelayakan usaha makanan
-
Belajar strategi branding dan pemasaran produk pangan
Bahkan, banyak tugas kuliah dan proyek akhir mahasiswa yang menghasilkan produk makanan siap jual, seperti: cemilan sehat berbasis umbi lokal, minuman fungsional dari fermentasi buah, atau camilan tinggi protein untuk anak-anak.
“Kita ingin mahasiswa punya bekal untuk buka usaha sendiri. Mereka harus bisa membuat produk yang bukan hanya enak, tapi juga aman, bergizi, dan laku di pasaran,” ujar dosen pembimbing kewirausahaan Teknologi Pangan di Ma’soem University.
Didukung dengan program seperti:
-
Magang di UMKM dan industri pangan
-
Program mentoring startup
-
Pameran produk mahasiswa
-
Kegiatan kolaborasi pengembangan bisnis lokal
…mahasiswa punya ruang nyata untuk mengembangkan usaha kuliner sejak di bangku kuliah.
Setelah lulus, mahasiswa Teknologi Pangan tak hanya siap bekerja di industri, tapi juga mampu:
-
Mendirikan usaha makanan kemasan sendiri
-
Membuka kafe dengan konsep makanan sehat atau unik
-
Menjadi konsultan pengembangan produk kuliner lokal
-
Menjadi bagian dari pelaku UMKM ekspor pangan





