Pengalaman pertama mengajar menjadi momen yang tidak terlupakan bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Bagi mahasiswa FKIP, praktik mengajar bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan langkah awal untuk mengenal dunia pendidikan secara nyata. Hal inilah yang dirasakan oleh mahasiswa FKIP di Ma’soem University, ketika menjalani Program Pengenalan Lapangan (PPL) di semester 2.
Sejak awal perkuliahan, mahasiswa FKIP Ma’soem University telah dibekali berbagai teori kependidikan, mulai dari psikologi belajar, strategi pembelajaran, hingga pengelolaan kelas. Namun, semua teori tersebut benar-benar diuji saat mahasiswa terjun langsung ke sekolah dan berdiri di depan peserta didik dengan karakter yang beragam.
PPL Semester 2 sebagai Gerbang Awal Dunia Mengajar
Salah satu keunggulan FKIP Ma’soem University adalah pelaksanaan PPL sejak semester 2. Program ini berlangsung selama kurang lebih satu minggu dan difokuskan pada lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal. Penempatan PPL diutamakan di sekolah-sekolah, sehingga mahasiswa dapat merasakan atmosfer dunia pendidikan yang sesungguhnya sejak dini.
Mahasiswa FKIP Ma’soem University mendapatkan kesempatan mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini menjadi pengalaman berharga karena setiap jenjang memiliki tantangan dan pendekatan pembelajaran yang berbeda.
Di tingkat sekolah dasar, mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan komunikatif agar siswa tetap fokus dan antusias. Sementara itu, di tingkat menengah pertama dan atas, mahasiswa belajar mengelola diskusi, menyampaikan materi secara sistematis, serta menghadapi siswa dengan pola pikir yang lebih kritis.
Tantangan dan Pembelajaran Selama Mengajar
Pengalaman pertama mengajar tentu tidak selalu berjalan mulus. Banyak mahasiswa FKIP Ma’soem University yang mengaku merasa gugup saat pertama kali memasuki kelas. Berhadapan langsung dengan siswa, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), hingga mengatur waktu mengajar menjadi tantangan tersendiri.
Namun, dari situlah proses pembelajaran sesungguhnya terjadi. Mahasiswa belajar bagaimana cara membuka pelajaran dengan menarik, mengondisikan kelas, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter siswa. Kesalahan kecil yang terjadi selama PPL justru menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kompetensi mengajar di masa depan.
Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan bimbingan dari guru pamong dan dosen pembimbing. Evaluasi yang diberikan membantu mahasiswa memahami kekuatan dan kelemahan mereka sebagai calon pendidik.
Membentuk Karakter Calon Pendidik Profesional
Melalui PPL, mahasiswa FKIP Ma’soem University tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga membangun karakter sebagai pendidik. Sikap disiplin, tanggung jawab, empati, dan kemampuan berkomunikasi menjadi nilai penting yang diasah selama kegiatan berlangsung.
Interaksi langsung dengan siswa dan lingkungan sekolah membuat mahasiswa lebih memahami peran guru sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan. Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa percaya diri serta motivasi untuk terus mengembangkan diri di bidang pendidikan.
FKIP Ma’soem University dan Komitmen pada Pendidikan Berkualitas
Sebagai bagian dari FKIP Ma’soem University, mahasiswa didorong untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun ke dunia kerja. Program PPL sejak semester awal menjadi bukti komitmen FKIP Ma’soem University dalam mencetak calon guru yang adaptif dan profesional.
Dengan kurikulum yang aplikatif serta dukungan lingkungan akademik yang kondusif, mahasiswa FKIP Ma’soem University memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan. Pengalaman pertama mengajar melalui PPL menjadi fondasi penting dalam perjalanan mereka sebagai calon pendidik yang berkompeten dan berkarakter.
Pengalaman pertama mengajar bagi mahasiswa FKIP Ma’soem University melalui PPL semester 2 merupakan langkah awal yang sangat berarti. Melalui praktik langsung di sekolah dasar hingga menengah atas, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan teori, tetapi juga belajar memahami realitas dunia pendidikan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam membentuk calon guru yang profesional, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia.





