Bagi mahasiswa penghafal Al-Qur’an, mempertahankan hafalan selama menjalani perkuliahan di jurusan umum bisa menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas akademik yang padat, tugas kuliah yang menumpuk, hingga kegiatan organisasi sering kali membuat waktu untuk muraja’ah (mengulang hafalan) menjadi terbatas.
Namun, mahasiswa Hafidz di kampus seperti Universitas Ma’soem menunjukkan bahwa tetap mungkin menjaga hafalan dengan cara yang konsisten dan terencana.
1. Jadwalkan Waktu Muraja’ah Secara Konsisten
Pilih waktu yang paling tenang dan bisa dilakukan rutin setiap hari, misalnya setelah Subuh atau sebelum tidur malam. Cukup 15–30 menit setiap hari untuk membaca kembali hafalan lama agar tidak mudah hilang.
2. Bawa Mushaf Kecil atau Aplikasi Al-Qur’an
Saat menunggu kelas dimulai, dalam perjalanan, atau waktu istirahat, mahasiswa bisa memanfaatkan momen tersebut untuk membaca satu halaman hafalan. Konsistensi lebih penting daripada jumlah.
3. Gunakan Hafalan Saat Ibadah
Gunakan ayat-ayat hafalan saat salat, baik salat wajib maupun sunah. Ini akan membantu hafalan lebih melekat karena diulang dalam kondisi tenang dan fokus.
4. Cari Teman Sesama Hafidz untuk Saling Menyimak
Memiliki partner sesama penghafal Qur’an sangat membantu untuk saling menyimak, mengoreksi, dan saling menyemangati. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa penerima beasiswa Tahfidz biasanya tinggal di asrama pesantren dan aktif dalam pembinaan bersama.
5. Ikut Kajian dan Komunitas Islam di Kampus
Bergabung dengan komunitas atau organisasi keagamaan di kampus bisa jadi ruang pengingat dan penguat dalam menjaga hafalan. Diskusi dan kegiatan kajian juga bisa menjadi sarana untuk memperdalam makna dari ayat-ayat yang dihafal.
6. Tetap Niatkan untuk Menjaga Al-Qur’an
Aktivitas akademik tak boleh jadi alasan untuk lalai menjaga hafalan. Sebaliknya, niat menjaga Al-Qur’an harus jadi bagian dari motivasi kuliah. Ketika hafalan terjaga, biasanya fokus belajar juga ikut meningkat.
Dengan strategi yang tepat, mahasiswa di jurusan umum seperti Teknologi Pangan, Informatika, hingga Manajemen Bisnis Syariah tetap bisa menjaga dan memperkuat hafalannya, bahkan sambil membangun karier akademik yang gemilang.





