Oleh : Lenny Amelia HK
“Donat adalah salah satu camilan paling populer di dunia. Bentuknya yang bulat dengan lubang di tengah sudah begitu melekat di benak kita hingga hampir tidak pernah dipertanyakan. Namun, pernahkah Anda berpikir, mengapa harus ada lubang? Mengapa tidak dibuat bulat utuh seperti roti biasa? Ternyata, lubang pada donat bukan sekadar desain yang unik, melainkan hasil dari inovasi untuk mengatasi masalah dalam proses pengolahan pangan. Di balik bentuk sederhana tersebut tersimpan cerita sejarah dan penjelasan ilmiah yang sangat menarik.”
Sejarah Singkat Donat
Cikal bakal donat diperkirakan berasal dari kue goreng yang dibawa para imigran Belanda ke Amerika pada abad ke-17. Makanan tersebut dikenal sebagai olykoeks atau “kue minyak”. Bentuk awalnya masih bulat tanpa lubang. Masalah mulai muncul ketika adonan digoreng. Bagian luar telah berwarna cokelat keemasan, tetapi bagian tengah sering kali masih mentah atau lembek karena panas belum sempat mencapai pusat adonan.
Siapa yang Menemukan Lubang pada Donat?
Salah satu kisah paling terkenal menyebutkan bahwa seorang pelaut Amerika bernama Hanson Gregory memperkenalkan donat berlubang pada tahun 1847. Menurut cerita, Gregory merasa kesal karena donat yang ia makan selalu memiliki bagian tengah yang belum matang Ia kemudian membuat lubang di bagian tengah adonan sebelum digoreng. Hasilnya ternyata jauh lebih baik. Donat menjadi matang secara merata, teksturnya lebih ringan, dan proses penggorengan berlangsung lebih cepat. Meskipun terdapat beberapa versi sejarah lainnya, kisah Hanson Gregory menjadi cerita yang paling populer mengenai asal-usul donat berlubang.
Mengapa Lubang Membuat Donat Lebih Cepat Matang?
Jawabannya berkaitan dengan perpindahan panas. Ketika donat digoreng, panas dari minyak masuk melalui seluruh permukaan adonan. Pada donat bulat tanpa lubang, panas harus menembus hingga ke bagian tengah yang cukup tebal. Semakin tebal adonan, semakin lama waktu yang dibutuhkan agar bagian dalam mencapai suhu matang. Dengan adanya lubang, ketebalan donat menjadi lebih tipis dan merata. Akibatnya:
- Panas lebih cepat mencapai seluruh bagian adonan.
- Risiko bagian tengah masih mentah berkurang.
- Waktu penggorengan menjadi lebih singkat.
- Warna donat menjadi lebih seragam.




