Tugas yang seharusnya dikerjakan hari ini akhirnya ditunda hingga besok. Besok ditunda lagi, sampai akhirnya dikerjakan ketika batas pengumpulan sudah semakin dekat.
Kebiasaan menunda seperti ini dikenal sebagai prokrastinasi.
Prokrastinasi bukan sekadar persoalan malas. Ada berbagai faktor yang dapat membuat seseorang menunda pekerjaan, mulai dari kesulitan memulai, merasa tugas terlalu berat, kurangnya pengelolaan waktu, hingga keinginan untuk menghindari sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan.
Karena itu, memahami penyebab prokrastinasi menjadi langkah penting sebelum mencari cara untuk mengatasinya.
Apa Itu Prokrastinasi?
Prokrastinasi adalah kecenderungan untuk menunda melakukan suatu tugas atau aktivitas yang sebenarnya perlu dikerjakan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa tugas tersebut penting, tetapi tetap memilih melakukan aktivitas lain terlebih dahulu.
Misalnya, seorang siswa memiliki tugas yang harus dikumpulkan beberapa hari lagi. Alih-alih mulai mengerjakannya, ia memilih bermain, menonton video, menggunakan media sosial, atau melakukan aktivitas lainnya.
Awalnya mungkin terasa lebih menyenangkan. Namun, semakin lama tugas ditunda, semakin dekat pula batas waktu yang harus dihadapi.
Mengapa Siswa Sering Menunda Tugas?
Setiap siswa dapat memiliki alasan yang berbeda. Beberapa faktor yang mungkin berperan antara lain:
1. Tugas Terasa Terlalu Berat
Ketika melihat tugas yang banyak atau sulit, siswa mungkin merasa bingung harus mulai dari mana.
Perasaan tersebut dapat membuat seseorang memilih menundanya daripada segera memulai.
2. Takut Hasilnya Tidak Sesuai Harapan
Ada siswa yang menunda karena merasa hasil pekerjaannya harus sempurna.
Ketika merasa belum mampu menghasilkan sesuatu yang dianggap cukup baik, siswa justru kesulitan memulai.
3. Kurang Memahami Cara Mengatur Waktu
Tanpa perencanaan yang jelas, siswa dapat kesulitan menentukan tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
Akibatnya, beberapa tugas menumpuk dan akhirnya dikerjakan dalam waktu yang berdekatan.
4. Mudah Terdistraksi
Gawai, media sosial, permainan, video, atau aktivitas lain dapat membuat siswa kehilangan waktu tanpa menyadarinya.
Awalnya hanya berniat menggunakan gawai sebentar, tetapi akhirnya waktu belajar justru terlewat.
5. Kurangnya Ketertarikan
Tugas yang dianggap membosankan atau tidak menarik dapat membuat siswa lebih mudah menundanya.
Namun, tetap perlu dicari strategi agar kewajiban tersebut dapat diselesaikan.
Apakah Prokrastinasi Sama dengan Malas?
Tidak selalu.
Malas dan prokrastinasi sering dianggap sama, padahal menunda tugas dapat memiliki berbagai penyebab.
Seseorang mungkin sebenarnya ingin menyelesaikan tugas, tetapi merasa bingung, kewalahan, takut melakukan kesalahan, atau kesulitan mengatur waktu.
Karena itu, daripada langsung mengatakan “kamu malas”, akan lebih membantu jika siswa diajak mencari tahu:
“Apa yang membuat kamu sulit mulai mengerjakannya?”
Pertanyaan tersebut dapat membuka kesempatan untuk memahami masalah dengan lebih baik.
Dampak Kebiasaan Menunda
Menunda tugas sesekali mungkin terjadi pada siapa saja. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat mengganggu proses belajar.
Beberapa dampaknya antara lain:
- Tugas menumpuk.
- Waktu pengerjaan menjadi semakin terbatas.
- Proses belajar menjadi kurang teratur.
- Pekerjaan dilakukan secara terburu-buru.
- Kesempatan untuk mengevaluasi pekerjaan menjadi lebih sedikit.
- Siswa dapat merasa semakin terbebani ketika tugas semakin banyak.
Karena itu, penting bagi siswa untuk mulai mengenali pola menunda yang terjadi pada dirinya.
Bagaimana Cara Mengurangi Prokrastinasi?
Mengatasi kebiasaan menunda tidak harus langsung dilakukan dengan perubahan besar. Siswa dapat memulainya dari langkah sederhana.
Mulai dari Tugas yang Paling Kecil
Ketika tugas terasa terlalu berat, pecah menjadi beberapa bagian.
Daripada berpikir, “Aku harus menyelesaikan semuanya,” coba ubah menjadi:
“Aku mulai dari satu bagian dulu.”
Memulai sering kali menjadi bagian yang paling sulit.
Buat Daftar Prioritas
Catat tugas yang perlu dikerjakan dan tentukan mana yang memiliki batas waktu paling dekat atau membutuhkan waktu paling banyak.
Dengan begitu, siswa dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang harus dilakukan.
Gunakan Target Waktu yang Realistis
Siswa dapat menentukan waktu khusus untuk mengerjakan tugas, kemudian memberikan jeda setelah menyelesaikan satu sesi.
Tujuannya bukan belajar selama mungkin, tetapi menggunakan waktu secara lebih terarah.
Kurangi Distraksi
Jika gawai tidak diperlukan untuk mengerjakan tugas, siswa dapat menjauhkannya sementara atau mematikan notifikasi.
Lingkungan yang lebih minim gangguan dapat membantu proses pengerjaan menjadi lebih fokus.
Jangan Menunggu Mood
Salah satu jebakan prokrastinasi adalah menunggu sampai merasa benar-benar ingin mengerjakan tugas.
Padahal, terkadang motivasi justru muncul setelah seseorang mulai melakukan pekerjaannya.
Peran Guru BK dalam Membantu Siswa
Bimbingan dan Konseling memiliki peran dalam membantu siswa memahami berbagai hambatan yang muncul dalam proses belajar.
Ketika seorang siswa sering menunda tugas, Guru BK dapat membantu mengeksplorasi penyebabnya.
Apakah berkaitan dengan pengelolaan waktu? Kesulitan memahami materi? Kurangnya tujuan? Distraksi? Atau faktor lain?
Setelah memahami penyebabnya, siswa dapat diajak menyusun strategi yang lebih sesuai dengan kondisinya.
BK Tidak Hanya Memberikan Nasihat
Pendampingan dalam Bimbingan dan Konseling bukan sekadar mengatakan:
“Jangan malas.”
Nasihat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi belum tentu membantu siswa memahami penyebab kebiasaannya.
Guru BK dapat membantu siswa melakukan refleksi, mengenali pola perilaku, menentukan tujuan, dan mengevaluasi strategi yang telah dicoba.
Dengan begitu, siswa tidak hanya mengetahui bahwa menunda tugas bukan kebiasaan yang baik, tetapi juga memahami bagaimana membangun kebiasaan yang lebih efektif.
Layanan BK yang Dapat Mendukung Siswa
Prokrastinasi berkaitan dengan bidang perkembangan belajar sehingga dapat menjadi bagian dari layanan Bimbingan dan Konseling.
Guru BK dapat menggunakan berbagai bentuk layanan, seperti:
- Bimbingan klasikal, untuk memberikan informasi dan keterampilan belajar kepada siswa secara bersama-sama.
- Bimbingan kelompok, untuk membahas pengalaman dan strategi belajar bersama.
- Konseling individual, ketika siswa membutuhkan ruang yang lebih personal untuk mengeksplorasi hambatan yang dialami.
Bentuk layanan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Belajar Mengelola Waktu Sejak Remaja
Kemampuan mengatur waktu merupakan keterampilan yang bermanfaat tidak hanya selama sekolah.
Ketika memasuki perguruan tinggi, siswa akan menghadapi berbagai tugas, kegiatan organisasi, proyek, dan tanggung jawab lainnya.
Karena itu, kebiasaan mengatur waktu dan menyelesaikan tugas secara bertahap dapat menjadi bekal penting untuk kehidupan akademik selanjutnya.
Mengapa Topik Prokrastinasi Dipelajari dalam BK?
Bagi mahasiswa Bimbingan dan Konseling, memahami kebiasaan belajar peserta didik merupakan bagian penting dalam mempelajari perkembangan siswa.
Mahasiswa BK perlu memahami berbagai faktor yang dapat memengaruhi proses belajar, termasuk motivasi, pengelolaan waktu, kebiasaan belajar, dan hambatan yang mungkin dialami siswa.
Selain teori, mahasiswa juga mengembangkan keterampilan komunikasi, observasi, asesmen, serta kemampuan merancang layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Cocok untuk Calon Mahasiswa yang Tertarik pada Dunia Pendidikan
Bimbingan dan Konseling tidak hanya membahas bagaimana membantu siswa ketika menghadapi masalah.
Lebih luas dari itu, mahasiswa BK belajar memahami individu, mendukung perkembangan peserta didik, serta membantu mereka mengembangkan kemampuan dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Bagi calon mahasiswa yang senang memahami perilaku manusia, tertarik dengan dunia pendidikan, dan ingin berkontribusi dalam perkembangan remaja, bidang Bimbingan dan Konseling dapat menjadi pilihan yang menarik.
Prokrastinasi merupakan kebiasaan menunda tugas yang dapat dialami oleh pelajar. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu berarti siswa malas.
Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi seseorang dalam menunda pekerjaan. Karena itu, memahami penyebabnya merupakan langkah penting sebelum menentukan strategi yang tepat.
Bimbingan dan Konseling dapat membantu siswa mengenali hambatan belajar, mengembangkan keterampilan pengelolaan waktu, menetapkan tujuan, dan membangun kebiasaan belajar yang lebih terarah.
Bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai perkembangan siswa dan berbagai bentuk layanan pendampingan, Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Ma’soem dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan tersebut.
Karena mengatasi kebiasaan menunda bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang belajar memulai, menyelesaikan, dan terus memperbaiki diri.
Segera daftarkan diri Anda melalui link berikut:https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
Untuk informasi lebih lanjut kunjungi juga website resmi kami di:https://masoemuniversity.ac.id/
- Nama Prodi: Bimbingan dan Konseling
- Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
- Kontak/WhatsApp: 022 7798340 / +62 851 8563 4253
- Website Resmi:https://masoemuniversity.ac.id/




