Indonesia dikenal sebagai megabiodiversitas dunia, memiliki ribuan spesies tanaman yang secara turun-temurun dipercayai memiliki khasiat kesehatan luar biasa. Di pasar global, fenomena “Superfood” atau pangan fungsional dengan padat nutrisi tengah menjadi tren gaya hidup sehat yang masif. Namun, banyak komoditas lokal kita yang masih diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah.
Di sinilah peran krusial mahasiswa Teknologi Pangan, khususnya di Universitas Ma’soem. Melalui riset inovatif, mahasiswa memiliki peluang untuk mengubah tanaman lokal seperti kelor, porang, sorgum, hingga buah-buahan eksotis menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi yang siap menembus rak supermarket di Eropa maupun Amerika.
1. Identifikasi Senyawa Bioaktif pada Komoditas Lokal
Langkah pertama dalam riset superfood adalah pembuktian ilmiah. Banyak tanaman lokal diklaim sehat, namun pasar internasional membutuhkan data kuantitatif. Mahasiswa Teknologi Pangan belajar melakukan ekstraksi dan karakterisasi senyawa bioaktif seperti antioksidan, polifenol, atau serat pangan fungsional.
Sebagai contoh, riset mengenai daun kelor (Moringa oleifera) tidak lagi hanya seputar pengeringan, tetapi bagaimana mengekstraksinya menjadi bubuk mikronisasi yang stabil atau suplemen cair yang mudah diserap tubuh. Dengan data laboratorium yang akurat, produk tersebut memiliki daya tawar tinggi di pasar ekspor karena didukung oleh bukti keamanan dan profil nutrisi yang jelas.
2. Teknologi Pengolahan: Menjaga Nutrisi dan Memperpanjang Masa Simpan
Tantangan terbesar produk ekspor adalah jarak dan waktu tempuh. Mahasiswa belajar menerapkan teknologi pascapanen dan pengolahan mutakhir seperti Freeze Drying (pengeringan beku), ekstrusi, atau teknik enkapsulasi.
Teknik Freeze Drying, misalnya, memungkinkan buah-buahan tropis seperti manggis atau nangka diolah menjadi camilan sehat tanpa kehilangan warna, rasa, dan yang terpenting, kandungan vitaminnya. Mahasiswa juga meneliti sistem pengemasan aktif (active packaging) yang mampu menjaga kesegaran produk tanpa menggunakan pengawet kimia sintetis—sebuah persyaratan utama bagi produk pangan yang masuk ke pasar Uni Eropa.
3. Diversifikasi Produk dan Adaptasi Selera Global
Riset mahasiswa tidak hanya berhenti pada teknis pengolahan, tetapi juga inovasi bentuk produk. Agar komoditas lokal seperti sorgum atau porang bisa diterima secara global, produk tersebut harus diolah menjadi bentuk yang akrab dengan konsumen internasional.
Mahasiswa Teknologi Pangan bereksperimen mengubah tepung sorgum menjadi pasta bebas gluten (gluten-free pasta) atau mengolah porang menjadi beras tiruan (shirataki) dengan tekstur yang disempurnakan. Kemampuan melakukan reformulasi produk agar sesuai dengan standar rasa internasional namun tetap mempertahankan identitas nutrisi lokal adalah inti dari riset pangan yang berorientasi ekspor.
4. Kepatuhan terhadap Regulasi Internasional (Food Safety & Quality)
Riset di Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem juga menekankan pada aspek legalitas dan standar keamanan. Mahasiswa belajar tentang Codex Alimentarius, standar FDA (Amerika), atau EFSA (Eropa).
Mereka meneliti parameter residu pestisida, batas cemaran logam berat, hingga pelabelan nilai gizi yang sesuai standar internasional. Pemahaman ini memastikan bahwa hasil riset mahasiswa bukan hanya sekadar prototipe laboratorium, melainkan produk yang benar-benar layak dan aman secara hukum untuk diperdagangkan di pasar global.
Membentuk Peneliti yang “Pinter dan Bageur”
Menjadi peneliti pangan yang sukses menembus pasar ekspor membutuhkan integritas selain kepintaran. Universitas Ma’soem melalui prinsip “Pinter dan Bageur” membimbing mahasiswanya untuk:
- Pinter (Cerdas): Mampu mengoperasikan instrumen laboratorium canggih dan melakukan analisis data riset yang valid untuk menciptakan produk inovatif.
- Bageur (Berperilaku Baik): Memiliki keberpihakan pada petani lokal. Riset yang dilakukan harus bertujuan untuk mengangkat derajat komoditas petani Indonesia dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Peluang riset superfood lokal bagi mahasiswa Teknologi Pangan sangatlah terbuka lebar. Dengan mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah, mahasiswa tidak hanya berkontribusi pada kemajuan sains, tetapi juga menjadi pahlawan devisa bagi negara.
Di Universitas Ma’soem, Anda akan dibimbing untuk melihat potensi besar di balik kekayaan alam Indonesia. Dengan riset yang tepat, komoditas yang awalnya dipandang sebelah mata di desa dapat bertransformasi menjadi produk premium yang menghiasi meja makan dunia. Masa depan pangan fungsional global ada di tangan para peneliti muda yang bangga akan kekayaan tanah airnya sendiri.





