INSIDE FOOD INDUSTRY #1 Siapa yang Menciptakan Rasa Keripik Kentang Balado, Keju, hingga Rumput Laut? Ternyata Ada Profesi yang Jarang Diketahui!

Oleh : Lenny Amelia HK

Pernahkah Anda Memikirkan Hal Ini?

Masuk ke minimarket. Di depan rak camilan, Anda melihat puluhan pilihan keripik. Ada rasa:

🧀 Keju.

🌶 Balado.

🌿 Rumput laut.

🥩 Barbeque.

🌽 Jagung bakar.

🍗 Ayam panggang.

🦐 Udang pedas.

Semuanya memiliki rasa yang khas. Yang menarik… Siapa sebenarnya yang menciptakan rasa-rasa tersebut? Apakah muncul begitu saja? Ataukah ada seseorang yang memang pekerjaannya “menciptakan rasa”? Jawabannya adalah… Ya, ada.

Rasa Tidak Lahir Secara Kebetulan

Di balik setiap produk makanan terdapat proses panjang. Sebelum sebuah keripik dijual, perusahaan dapat melakukan puluhan hingga ratusan percobaan. Tim pengembang produk akan menguji:

  • Komposisi bumbu.
  • Tingkat rasa asin.
  • Tingkat rasa manis.
  • Intensitas pedas.
  • Aroma.
  • Warna.
  • Kerenyahan.
  • Daya tahan rasa selama penyimpanan.

Semua harus sesuai dengan selera konsumen.

Profesi yang Jarang Dikenal

Di industri pangan terdapat profesi seperti:

✅ Food Product Developer

✅ Food Technologist

✅ Research and Development (R&D) Specialist

Mereka bertugas mengembangkan produk baru, memperbaiki formula, serta memastikan makanan memiliki rasa, tekstur, dan mutu yang konsisten. Pekerjaan ini membutuhkan kreativitas sekaligus dasar ilmu yang kuat.

Satu Rasa Bisa Dicoba Puluhan Kali

Bayangkan sebuah perusahaan ingin meluncurkan keripik rasa rendang. Tim R&D tidak langsung menemukan formula yang tepat. Mereka harus menguji:

  • Apakah aroma rendangnya sudah terasa?
  • Apakah rasa pedasnya sesuai?
  • Apakah bumbu tetap menempel setelah pengemasan?
  • Apakah rasanya masih sama setelah tiga bulan disimpan?
  • Apakah konsumen menyukainya?

Sering kali diperlukan banyak percobaan sebelum satu formula dinyatakan siap diproduksi.

Tidak Hanya Enak, Tetapi Juga Aman

Produk yang lezat belum tentu siap dipasarkan. Sebelum diproduksi massal, berbagai aspek harus dipastikan, antara lain:

  • Keamanan pangan.
  • Nilai gizi.
  • Stabilitas produk.
  • Umur simpan.
  • Kesesuaian dengan regulasi.
  • Label pangan.
  • Jika ditujukan untuk konsumen Muslim, pemenuhan persyaratan jaminan produk halal sesuai ketentuan yang berlaku.

Inilah alasan mengapa pengembangan produk pangan melibatkan banyak bidang ilmu.

Teknologi Pangan adalah Perpaduan Sains dan Kreativitas

Banyak orang membayangkan teknolog pangan hanya bekerja di laboratorium. Padahal, mereka juga:

💡 Menciptakan produk baru.

💡 Mengembangkan makanan berbahan pangan lokal.

💡 Mengurangi penggunaan gula, garam, atau lemak tanpa mengorbankan cita rasa.

💡 Merancang kemasan yang menjaga kualitas produk.

💡 Mengembangkan pangan fungsional dan pangan sehat.

Artinya, Teknologi Pangan bukan sekadar ilmu tentang makanan, tetapi juga tentang inovasi.

Belajar Menjadi Inovator Pangan di Universitas Ma’soem

Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ma’soem membekali mahasiswa dengan kompetensi di bidang teknologi pengolahan pangan, keamanan pangan, analisis sensori, sistem jaminan mutu, inovasi produk, pangan halal, kewirausahaan, serta pengembangan pangan berbasis potensi lokal.

Melalui praktikum, proyek inovasi, dan kegiatan penelitian, mahasiswa didorong untuk menghasilkan produk yang aman, bergizi, berkualitas, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat serta industri.