Bayangkan seseorang membuka sebuah website karena ingin mencari informasi produk. Ia sudah memiliki tujuan yang jelas, tetapi setelah halaman terbuka, yang terlihat justru terlalu banyak menu, tulisan panjang, atau tampilan yang membuat bingung. Akhirnya, pengunjung memilih keluar sebelum menemukan informasi yang dibutuhkan.
Situasi seperti ini bukan sekadar persoalan tampilan. Website pada dasarnya dibuat untuk membantu pengunjung mendapatkan informasi dengan mudah. Jika pengguna harus “berburu” terlebih dahulu untuk menemukan sesuatu, ada kemungkinan struktur dan pengalaman pengguna pada website belum dirancang dengan baik.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Menu navigasi terlalu banyak dan tidak terkelompok dengan jelas.
- Informasi penting sulit ditemukan.
- Tombol atau tautan tidak menunjukkan tujuan yang jelas.
- Pengunjung harus membuka terlalu banyak halaman.
- Fitur pencarian tidak memberikan hasil yang relevan.
Masalahnya Bisa Berawal dari Struktur Website
Kesalahan yang sering terjadi adalah semua informasi dimasukkan ke dalam website tanpa mempertimbangkan bagaimana pengunjung akan mencarinya. Padahal, banyaknya informasi tidak otomatis membuat website menjadi lebih informatif.
Contohnya, sebuah toko online memiliki halaman untuk produk, promo, ukuran, pembayaran, pengiriman, dan kontak. Namun, seluruh menu tersebut ditampilkan sekaligus tanpa pengelompokan. Pengunjung akhirnya harus mencoba satu per satu untuk menemukan informasi yang dibutuhkan.
Masalah tersebut dapat diatasi dengan membuat struktur website yang lebih sederhana. Informasi perlu dikelompokkan berdasarkan kebutuhan pengguna sehingga perjalanan dari satu halaman ke halaman lain terasa masuk akal.
Website yang Baik Membantu Pengunjung Menebak Langkah Berikutnya
Pengunjung tidak seharusnya menghabiskan banyak waktu untuk memahami cara menggunakan sebuah website. Mereka perlu mendapatkan petunjuk secara alami melalui menu, tombol, kategori, maupun susunan konten.
Misalnya, ketika seseorang sedang melihat produk, tombol “Beli Sekarang”, “Tambah ke Keranjang”, atau “Lihat Detail” harus mudah dikenali. Sebaliknya, jika tombol hanya menggunakan tulisan yang samar atau tidak memiliki penempatan yang jelas, pengguna dapat ragu menentukan langkah berikutnya.
Dalam konteks ini, website perlu memperhatikan pengalaman pengguna atau user experience. Tujuannya sederhana: membuat pengunjung dapat menyelesaikan kebutuhannya tanpa merasa tersesat.
Bagaimana Sistem Informasi Membantu Memahami Kebutuhan Website?
Pemahaman mengenai sistem informasi tidak hanya berkaitan dengan membuat sebuah website dapat berjalan. Di dalamnya terdapat proses memahami kebutuhan pengguna, mengelola data, merancang alur informasi, hingga memastikan sistem mampu mendukung tujuan organisasi atau bisnis.
Ma’soem University menyediakan program studi S1 Sistem Informasi dan S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin memahami hubungan antara sistem, data, teknologi, dan kebutuhan bisnis. Melalui bidang tersebut, mahasiswa dapat mempelajari bagaimana sebuah solusi digital dirancang berdasarkan permasalahan yang benar-benar terjadi, bukan hanya mengejar tampilan yang menarik.
Saat Fitur Pencarian Justru Membuat Pengunjung Makin Bingung
Fitur pencarian sering dianggap sebagai penyelamat ketika sebuah website memiliki banyak informasi. Namun, fitur tersebut juga dapat menjadi masalah jika hasil pencarian tidak relevan atau pengguna tidak mendapatkan apa yang mereka maksud.
Misalnya, pengunjung mengetik nama produk tertentu, tetapi sistem menampilkan halaman yang tidak berkaitan. Pengunjung mungkin akan mencoba sekali lagi. Jika hasilnya tetap tidak sesuai, kemungkinan untuk meninggalkan website menjadi semakin besar.
Karena itu, fitur pencarian perlu dirancang dengan mempertimbangkan kata yang biasa digunakan pengguna. Kategori, filter, dan pengelompokan informasi juga dapat membantu mempersempit hasil pencarian.
Jangan Lupakan Tampilan di Layar Ponsel
Masalah pencarian informasi juga dapat muncul karena website tidak nyaman digunakan melalui perangkat seluler. Menu yang terlalu kecil, teks sulit dibaca, tombol berdekatan, atau halaman yang membutuhkan terlalu banyak gerakan dapat membuat pengunjung kesulitan.
Padahal, banyak aktivitas pencarian informasi dilakukan melalui ponsel. Website perlu memiliki tampilan yang dapat menyesuaikan ukuran layar agar fungsi utama tetap mudah digunakan.
Jika bisnis sedang merancang website, beberapa hal berikut dapat diperiksa:
- Apakah menu mudah ditemukan?
- Apakah informasi utama langsung terlihat?
- Apakah tombol dapat digunakan dengan nyaman?
- Apakah halaman tetap mudah dipahami melalui ponsel?
Ada Masalah, Ada Proses untuk Mencari Solusinya
Ketika pengunjung tidak menemukan informasi yang dicari, jangan langsung menyalahkan pengguna. Bisa jadi website memang belum memberikan jalur yang cukup jelas.
Solusinya dapat dimulai dengan mengamati perjalanan pengguna. Cari tahu halaman mana yang sering ditinggalkan, informasi apa yang paling banyak dicari, dan bagian mana yang membuat pengguna harus melakukan terlalu banyak langkah. Dari sana, struktur website dapat diperbaiki secara bertahap.
Pemahaman seperti ini dapat dipelajari lebih mendalam melalui bidang Sistem Informasi dan Bisnis Digital. Bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari bagaimana teknologi digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nyata, Ma’soem University dapat menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Informasi mengenai program studi dan pendaftaran dapat ditanyakan melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.
Website Bukan Sekadar Tempat Menaruh Informasi
Sebuah website bisa memiliki desain yang menarik dan informasi yang lengkap, tetapi tetap tidak efektif jika pengunjung kesulitan menemukan apa yang mereka butuhkan. Di sinilah struktur informasi, navigasi, fitur pencarian, serta pengalaman pengguna memiliki peran penting.
Jadi, ketika pengunjung datang lalu pergi karena tidak menemukan informasi yang dicari, pertanyaannya bukan hanya “Apa yang mereka cari?”, tetapi juga “Apakah website sudah membantu mereka menemukannya?”
Semakin mudah pengguna memahami isi dan arah sebuah website, semakin kecil kemungkinan mereka merasa tersesat. Karena itu, membangun website yang baik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat halaman—dibutuhkan pemahaman tentang sistem, pengguna, data, dan tujuan bisnis.




