Oleh: Rhennata Naisya Zhahara
Produksi keju merupakan salah satu teknik pengawetan dan transformasi susu tertua yang melibatkan interaksi biokimiawi yang sangat kompleks. Di masa modern, fokus industri keju tidak lagi hanya terbatas pada aspek daya simpan dan rasa, melainkan telah bergeser ke arah peningkatan nilai fungsional produk.
Tantangan Utama dalam pembuatan keju adalah hilangnya sebagian mikronutrien penting, seperti vitamin larut air, yang seringkali ikut terbuang bersama limbah whey selama proses koagulasi. Oleh karena itu, strategi penggunaan kultur starter spesifik muncul sebagai solusi inovatif untuk memodifikasi profil nutrisi keju secara alami langsung di dalam matriks pangan tersebut. Selama fase pematangan (ripening), terjadi proses metabolisme sekunder yang sangat dinamis, dimana enzim proteolitik memegang peranan sentral. Enzim-enzim ini, yang sebagian besar disekresikan oleh bakteri asam laktat (BAL) seperti Lactococcus lactis, Lactobacillus helveticus, atau Streptococcus thermophilus, bekerja memecah makromolekul kasein menjadi fragmen-fragmen peptida dan asam amino yang lebih sederhana. Transformasi ini tidak hanya krusial bagi pembentukan tekstur yang elastis dan aroma yang khas, tetapi juga menciptakan lingkungan mikrobiologis yang mendukung sintesis vitamin.
Fenomena “bio-fortifikasi” atau pengayaan nutrisi secara biologis ini menjadi sangat menarik karena melibatkan kemampuan genetik tertentu dari mikroorganisme starter untuk melakukan biosintesis vitamin B-kompleks, seperti folat dan kobalamin, selama masa inkubasi. Dengan demikian, pemahaman mendalam mengenai kinetika aktivitas enzim proteolitik dan pola perubahan profil vitamin selama masa pematangan menjadi esensial. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan sinergi antara kualitas organoleptik yang unggul dengan profil nutrisi yang lebih kaya, sehingga keju yang dihasilkan dapat dikategorikan sebagai produk pangan fungsional yang mampu memberikan manfaat kesehatan tambahan bagi konsumen.
A. Dinamika Aktivitas Enzim Proteolitik
Proteolisis merupakan proses biokimia paling krusial selama pematangan keju. Aktivitas ini dikatalisis oleh sistem enzim kompleks yang berasal dari kultur starter spesifik.
- Mekanisme Degradasi Kasein: Bakteri seperti Lactococcus lactis dan Lactobacillus helveticus melepaskan enzim proteinase yang menempel pada dinding sel untuk memutus protein kasein menjadi makropeptida.
- Sistem Peptidase: Peptida tersebut kemudian didegradasi lebih lanjut oleh enzim peptidase intraseluler menjadi asam amino bebas.
- Dampak Sensoris: Hasil akhir proteolisis ini menentukan tekstur keju (menjadi lebih lembut) dan menghasilkan senyawa flavor seperti asam glutamat yang memberikan rasa gurih alami.
B. Modifikasi dan Biosintesis Profil Vitamin In-Situ
Berbeda dengan anggapan umum bahwa keju rendah vitamin B karena larut dalam air (whey), penggunaan kultur starter spesifik justru mampu meningkatkan konsentrasi vitamin tertentu melalui jalur metabolisme mikroba.
- Vitamin B9 (Asam Folat)
Beberapa galur Streptococcus thermophilus memiliki gen yang lengkap untuk mensintesis folat secara mandiri. Selama fase pematangan awal, bakteri ini aktif melakukan sekresi folat ke dalam matriks keju, sehingga meningkatkan densitas gizi produk akhir.
- Vitamin B12 (Kobalamin)
Penggunaan bakteri propionat seperti Propionibacterium freudenreichii (umum pada keju tipe Swiss) sangat efektif dalam memodifikasi profil vitamin B12. Bakteri ini menggunakan prekursor dalam susu untuk memproduksi kobalamin yang stabil, yang sangat penting untuk kesehatan sistem saraf konsumen.
- Vitamin B2 (Riboflavin)
Bakteri asam laktat tertentu, khususnya dari kelompok Lactobacillus plantarum, diketahui mampu melakukan bio-fortifikasi riboflavin. Modifikasi ini memberikan keunggulan pada keju sebagai sumber energi yang lebih baik bagi tubuh.
C. Mikroba dan Kontribusinya

D. Sinergi Metabolisme Bakteri terhadap Kualitas Nutrisi
Interaksi antara aktivitas proteolitik dan biosintesis vitamin menciptakan ekosistem mikrobial yang saling menguntungkan (mutualistik). Asam-asam amino yang dilepaskan melalui proteolisis seringkali menjadi sumber nitrogen yang diperlukan oleh bakteri untuk melakukan metabolisme dan sintesis vitamin.
Data penelitian menunjukkan bahwa keju yang diproduksi dengan kultur starter spesifik memiliki profil vitamin yang 20-30% lebih tinggi dibandingkan dengan keju yang hanya menggunakan starter komersial standar. Selain itu, stabilitas vitamin-vitamin ini selama masa simpan juga lebih terjaga karena terlindungi di dalam matriks protein yang telah terhidrolisis secara parsial.
Secara komprehensif, pematangan keju dengan bantuan kultur starter spesifik merupakan proses teknologi pangan yang menggabungkan aspek tekstural dan nutrisional. Aktivitas enzim proteolitik secara fundamental mengubah struktur fisikokimia protein kasein, yang pada gilirannya melepaskan komponen rasa yang kompleks. Di sisi lain, modifikasi profil vitamin melalui jalur metabolisme bakteri seperti Lactobacillus, Streptococcus, dan Propionibacterium membuktikan bahwa keju dapat direkayasa menjadi produk pangan fungsional. Integrasi antara kematangan organoleptik dan pengayaan vitamin B-kompleks ini memberikan nilai tambah yang signifikan, baik dari sudut pandang pemenuhan gizi masyarakat maupun inovasi industri pengolahan susu.
Mari Bergabung dengan Jurusan Teknologi Pangan Ma’soem University!
Apakah Anda tertarik untuk menjadi ahli dalam menciptakan inovasi pangan sehat? Bergabunglah dengan Program Studi Teknologi Pangan Ma’soem University. Di sini, Anda akan belajar cara mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dengan fasilitas laboratorium yang lengkap dan bimbingan dosen ahli.
Jangan lewatkan kesempatan untuk berkontribusi bagi ketahanan pangan bangsa! Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:
Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
WhatsApp: 081385501914
Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/




