Oleh : Deni Purwadi
Akhir—akhir ini kita dikagetkan dengan kenaikan harga plastic yang biasa digunakan untuk
bungkus/kemasan makanan. Maklumlah kita sudah terlanjur amat sangat tergantung pada sang
plastic ini. Yang paling populer tentu saja kantong keresek, penggunaannya sudah sangat menyebar
dan meluas terutama untuk menggantikan fungsi tas belanja, baik belanja makanan maupun non
makanan.
Kepraktisan dan harga yang murah menjadi alasan utama dari penggunaan plastic ini. Orang-orang
sudah tidak peduli lagi dengan dampak negative pada lingkugan akibat dari limbah plastic. Para
ilmuwan dan aktivis lingkungan berteriak-teriak bahwa perlu waktu di atas seratus tahun untuk
menguraikannya.
Sudah tidak dianggap aneh lagi jika kita belanja ke pasar atau warung di dekat rumah setiap jenis
belanjaan yang dibeli pasti dibungkus atau dikemas dengan kantung plastic. Bahkan sekedar beli
cabe rawit 1 ons saja pasti dibungkus dengan kantung plastic.
Yang paling ironis adalah sudah tidak aneh lagi jika melihat bungkus tempe pun tidak lagi
menggunakan daun pisang saat akan difermentasi. Plastic sudah menggantikannya.
Tukang sate ayam dan kupat tahu pun sudah menggunakan kantung plastic untuk membuat lontong
atau kupatnya.
Para produsen plastic beralasan bahwa kenaikan harga tersebut disebabkan oleh kenaikan harga
bahan baku plastic yang masih diimpor dari negara lain. Ooohhh……. Ternyata industry plastic kita
masih bergantung pada bahan baku impor !!!!
Haruskah kita bergantung pada plastic untuk keperluan-keperluan tersebut ?
Mari kita perhatikan beberapa kearifan local berkaitan dengan bahan pembungkus atau kemasan
makanan khususnya yang ada di Tatar Sunda.
- Daun Pisang
Dari sekian banyak bahan pembungkus makanan, benda yang satu ini kelihatannya paling
populer dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan, seperti :
a. Pembungkus kacang kedele saat akan difermentasi menjadi tempe.
b. Pembungkus beras saat akan direbus menjadi lontong
c. Pembungkus kue basah Nagasari, bugis, bubur lolos
d. Pembungkus lotek dan karedok - Keranjang Bambu (Bongsang)
Sampai saat ini tinggal penjual tahu goreng Sumedang yang masih konsisten menggunakannya
untuk mengemas dagangannya. Namun apabila kita membeli tahu Sumedang dalam partai
kecil/sedikit (senilai 5 – 10 ribu) pedagang akan menggunakan kantong keresek untuk
mengemasnya. - Besek (Pipiti)
Saat mengemas bingkisan makanan kenduri atau pengajian dahulu biasanya orang
menggunakan besek, sebelum akhirnya tergeser oleh dus sehingga dikenal sebagai nasi dus
atau nasi kotak. Padahal akan terasa eksentrik kalau menjadi nasi besek ya. - Daun Waru, Daun Jati dan Daun Tisuk
Dahulu daun-daun ini digunakan untuk mengemas daging dan tape/peuyeum. Kelebihannya
adalah permukaan daun ini ada bulu-bulu halusnya yang akan menyerap air dari daging dan
tape sehingga menjadi kering. Nasi Jamblang Cirebon dulu pada awalnya menggunakan Daun Jati untuk membungkus nasinya tetapi sekarang sudah diganti dengan kertas nasi. - Daun Jambu Air dan Daun Kemiri (Muncang)
Kedua daun ini biasanya digunakan untuk membungkus nasi ketan yang sudah ditaburi ragi saat akan difermentasi. Hasil tape ketannya akan beraroma khas, berwarna kehijauan dan relative lebih kenyal serta kering. - Daun/kelopak Jagung
Biasanya digunakan untuk membungkus wajik atau angleng dan masih konsisten dilakukan oleh pengrajin wajik Cililin Kabupaten Bandung Barat.
Tentu saja bahan-bahan pembungkus tersebut amat sangat ramah lingkungan dan mudah terurai oleh mikroorganisma. Tidak perlu khawatir dengan bahan-bahan toksik bersifat karsinogenik seperti yang terkandung pada plastic.
Masih banyak kearifan local yang berkaitan dengan bahan pembungkus atau pengemas ini.
Ada yang mau menambahkan ?
Nah …. kalau ingin tahu lebih banyak lagi tentang jenis-jenis pembungkus atau kemasan warisan karuhun (leluhur) kita, silahkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem yang memiliki 2 (dua) Program Studi yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis.
Mari Bergabung dengan Jurusan Teknologi Pangan Ma’soem University!
Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:
Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
WhatsApp: 081385501914
Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/




