Oleh: Deni Purwadi
Entah sejak kapan kita semua menganggap bahwa masak makanan yang enak itu harus digoreng (tentu saja menggunakan minyak goreng).
Mulai dari ayam goreng, ikan goreng, tempe goreng, tahu goreng, bakwan alias bala-bala, sampai ada makanan batagor alias baso tahu goreng. Bahkan ada istilah jukut goreng, yaitu lalapan (selada air) yang sekarang ini sangat disukai kalau sebelum disajikan harus digoreng terlebih dahulu.
Ironisnya lagi proses penggorengannya pun menggunakan minyak jelantah (minyak bekas pakai menggoreng) dengan alasan katanya akan terasa lebih gurih. Ya tentu saja karena sisa-sisa bumbu dari bahan makanan sebelumnya sudah terkumpul di situ. Entah sudah digunakan menggoreng berapa kali minyak tersebut sampai warnanya pun berubah menjadi coklat kehitaman. Rekomendasi dari para ahli bahwa maksimal penggunaan minyak goreng adalah hanya untuk 2-3 kali penggorengan saja.
Padahal kita semua tahu akan bahaya dari penggunaan minyak jelantah tersebut. Minyak tersebut telah mengalami mengalami kerusakan struktur kimia akibat proses pemanasan tinggi yang terus-menerus. Mengonsumsi atau membuang minyak jelantah secara sembarangan membawa bahaya serius, baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Apakah berbahaya? Ya, berikut dampak berbahaya yaa..
- Bahaya Bagi Kesehatan
– Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Kolesterol:
Pemanasan berulang mengubah lemak tak jenuh menjadi lemak trans dan meningkatkan kadar lemak jenuh. Konsumsi rutin dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL), memicu penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung.
– Memicu Radikal Bebas dan Risiko Kanker:
Proses pemanasan tinggi memicu pembentukan senyawa radikal bebas serta zat karsinogenik seperti akrilamida, peroksida, dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH). Senyawa ini dapat merusak sel-sel tubuh dan meningkatkan risiko kanker (seperti kanker usus dan hati).
– Kerusakan Organ (Hati dan Ginjal):
Hasil oksidasi dan senyawa beracun pada minyak jelantah terakumulasi dalam tubuh dan memperberat kerja organ hati serta ginjal saat menyaring racun.
– Gangguan Pencernaan:
Minyak jelantah menjadi sarang berkembangnya mikroorganisme jika disimpan terlalu lama. Penggunaannya dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan, mual, diare, hingga keracunan makanan.
- Bahaya Bagi Lingkungan
– Penyumbatan Saluran Air:
Membuang minyak jelantah langsung ke wastafel atau selokan akan menyebabkan minyak menggumpal dan mengeras di dalam pipa, memicu penyumbatan dan bau tidak sedap.
– Pencemaran Tanah dan Air:
Minyak yang terbuang ke lingkungan akan membentuk lapisan tipis di permukaan air atau tanah, menutupi pakan dan oksigen. Hal ini merusak mikroorganisme tanah serta membahayakan ekosistem perairan.
Apakah ada cara lain masak enak tanpa minyak (goreng)?
Tentu saja ada. Karuhun (nenek moyang) dari Tatar Pasundan memiliki banyak kearifan local untuk hal ini. Mari kita lihat beberapa cara masak bahan makanan yang tanpa digoreng ala karuhun Tatar Sunda.
- Diseupan (dikukus)
- Dipais (dikukus)
- Dibubuy (dimasukkan ke dalam hawu/tungku)
- Dibeuleum (dibakar)
- Dipanggang
- Disangray (digoreng tanpa minyak)
Ada yang mau menambahkan? di daerah tempat anda tinggal mungkin ada cara unik memasak bahan makanan yang tidak ditemukan di daerah lain. Ayo kita saling berbagi cerita.
Baiklah, untuk pembahasan tentang kelebihan atau keunggulan tentang masing-masing kearifan local tersebut beserta contohnya, akan kita bahas pada artikel berikutnya.
Yang masih penasaran dengan bahaya minyak jelantah dan cara-cara memasak bahan makanan warisan karuhun (leluhur) kita, silahkan mengikuti studi di Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem. Ada 2 (dua) program studi yang bisa dipilih, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis.
Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:
Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
WhatsApp: 081385501914
Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/




