FOOD FACTS, Mengapa Roti Bisa Mengembang? Rahasia Ilmiah di Balik Adonan yang Lembut

Oleh : Lenny Amelia HK

Dari Adonan Lengket Menjadi Roti yang Mengembang

Pernahkah Anda melihat adonan roti sebelum dipanggang? Bentuknya kecil, padat, dan lengket. Namun, setelah melalui proses fermentasi dan dipanggang di dalam oven, adonan tersebut berubah menjadi roti yang mengembang, empuk, dan beraroma harum. Perubahan ini bukanlah keajaiban, melainkan hasil kerja mikroorganisme dan proses ilmiah yang dipelajari dalam Teknologi Pangan.

Peran Ragi yang Sangat Penting

Rahasia utama roti yang mengembang terletak pada ragi (yeast). Ragi merupakan mikroorganisme hidup yang memanfaatkan gula dalam adonan sebagai sumber energi. Selama proses fermentasi, ragi menghasilkan dua senyawa penting, yaitu:

  • Karbon dioksida (CO₂)
  • Sedikit etanol

Gas karbon dioksida akan terperangkap di dalam adonan sehingga terbentuk banyak rongga kecil. Rongga inilah yang membuat adonan mengembang dan menghasilkan tekstur roti yang lembut.

Mengapa Adonan Harus Didiamkan?

Dalam resep roti sering dijumpai langkah “diamkan adonan selama 30–60 menit”. Tahapan ini disebut proofing atau fermentasi. Pada tahap ini, ragi bekerja menghasilkan gas secara perlahan. Jika adonan langsung dipanggang tanpa proses fermentasi, roti akan menjadi padat dan keras. Sebaliknya, jika fermentasi berlangsung terlalu lama, struktur adonan bisa melemah sehingga roti kehilangan bentuknya.

Gluten, “Kerangka” yang Menahan Gas

Selain ragi, ada komponen penting lain, yaitu gluten. Gluten terbentuk ketika protein dalam tepung terigu bercampur dengan air dan diuleni. Gluten membentuk jaringan elastis yang berfungsi seperti balon, yaitu menahan gas karbon dioksida yang dihasilkan ragi. Semakin baik pembentukan gluten, semakin baik pula kemampuan adonan mengembang. Inilah alasan mengapa proses menguleni adonan tidak boleh dilakukan secara asal.

Apa yang Terjadi Saat Dipanggang?

Ketika adonan masuk ke dalam oven, suhu mulai meningkat. Pada tahap awal, gas di dalam adonan mengembang sehingga volume roti bertambah. Fenomena ini dikenal sebagai oven spring. Selanjutnya, panas akan:

  • Menghentikan aktivitas ragi.
  • Memadatkan struktur gluten.
  • Mengubah pati menjadi tekstur yang lembut.
  • Membentuk kulit roti yang berwarna kecokelatan melalui reaksi Maillard.

Hasil akhirnya adalah roti yang empuk di bagian dalam dan memiliki aroma khas yang menggugah selera.

Mengapa Tidak Semua Roti Memiliki Tekstur yang Sama?

Pernah membandingkan roti tawar, baguette, dan donat? Ketiganya memiliki tekstur yang berbeda meskipun menggunakan bahan dasar yang hampir sama. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:

  • Jenis tepung.
  • Jumlah air.
  • Lama fermentasi.
  • Jenis ragi.
  • Suhu pemanggangan.
  • Kandungan gula dan lemak.

Inilah yang membuat pembuatan roti menjadi perpaduan antara ilmu pengetahuan dan seni.

Mari Bergabung dengan Jurusan Teknologi Pangan Ma’soem University!

Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:

Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/

WhatsApp: 081385501914

Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/