Oleh : Lenny Amelia HK
“Ketika mendengar kata croissant, hampir semua orang langsung teringat pada Prancis. Aroma mentega yang harum, lapisan pastry yang renyah, dan bentuk bulan sabit yang khas menjadikan croissant simbol sarapan ala Prancis. Namun, tahukah Anda bahwa asal-usul croissant justru bukan dari Prancis? Kisah di balik roti legendaris ini membawa kita ke kota Wina, Austria, pada abad ke-17, dalam sebuah cerita yang memadukan sejarah, budaya, dan inovasi teknologi pangan.”
Croissant merupakan salah satu produk bakery paling terkenal di dunia. Hidangan ini identik dengan kafe-kafe di Paris, hotel berbintang, hingga toko roti artisan. Dengan tekstur berlapis yang renyah di luar dan lembut di dalam, croissant menjadi contoh sempurna bagaimana teknik pengolahan adonan dapat menghasilkan produk dengan kualitas sensori yang luar biasa.
Namun, meskipun populer sebagai ikon kuliner Prancis, sejarah croissant ternyata berakar dari Austria. Transformasi dari roti tradisional Austria menjadi pastry khas Prancis merupakan hasil perpaduan budaya, migrasi, dan inovasi dalam teknologi pengolahan pangan.
Awal Mula: Kipferl dari Austria
Jauh sebelum nama croissant dikenal, masyarakat Austria telah menikmati roti berbentuk bulan sabit yang disebut kipferl. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kipferl telah dibuat sejak abad ke-13. Berbeda dengan croissant modern, kipferl memiliki tekstur yang lebih padat, tidak berlapis-lapis, dan dibuat dari adonan roti biasa.
Kipferl disajikan dalam berbagai variasi, baik manis maupun gurih, dan menjadi makanan populer di wilayah Kekaisaran Austria.
Legenda Pengepungan Wina
Salah satu cerita paling terkenal mengenai asal-usul bentuk bulan sabit berasal dari Pengepungan Wina tahun 1683. Menurut legenda, pasukan Kesultanan Ottoman berusaha memasuki kota Wina dengan menggali terowongan pada malam hari. Para pembuat roti yang mulai bekerja sejak dini hari mendengar suara penggalian tersebut dan segera memberi tahu pasukan kota. Serangan itu berhasil digagalkan.
Sebagai bentuk perayaan kemenangan, para pembuat roti kemudian membuat roti berbentuk bulan sabit, menyerupai lambang pada bendera Ottoman. Bentuk ini menjadi simbol kemenangan sekaligus dikenang sebagai asal-usul kipferl.
Walaupun kisah ini sangat populer, sebagian sejarawan berpendapat bahwa bentuk bulan sabit telah ada jauh sebelum peristiwa tersebut. Namun, legenda ini tetap menjadi bagian menarik dari sejarah croissant.
Dari Wina ke Paris
Perjalanan croissant menuju Prancis dimulai pada abad ke-19. Seorang perwira artileri Austria bernama August Zang membuka toko roti Boulangerie Viennoise di Paris pada tahun 1839. Di toko inilah masyarakat Prancis mulai mengenal berbagai produk bakery khas Austria, termasuk kipferl. Para pembuat roti Prancis kemudian memodifikasi resep tersebut dengan menggunakan adonan berlapis mentega (laminated dough), sehingga menghasilkan tekstur yang jauh lebih ringan, renyah, dan berlapis. Dari sinilah lahir croissant modern.
Mengapa Disebut Croissant?
Kata croissant berasal dari bahasa Prancis yang berarti “bulan sabit”. Nama ini mengacu pada bentuk khas pastry tersebut yang menyerupai bulan sabit. Seiring waktu, croissant berkembang menjadi bagian penting dari budaya sarapan masyarakat Prancis dan menjadi simbol keahlian dalam dunia pastry.
Mengapa Croissant Memiliki Banyak Lapisan?
Rahasia utama croissant terletak pada proses laminasi. Lapisan mentega yang terperangkap di antara adonan akan menghasilkan uap ketika dipanaskan. Uap tersebut memisahkan setiap lapisan sehingga terbentuk struktur berongga (honeycomb structure) yang menjadi ciri khas croissant berkualitas tinggi. Semakin baik proses laminasi, semakin halus dan merata struktur lapisan yang dihasilkan.




