Oleh: Tia Anggraeni
Industri pengolahan pangan saat ini menuntut standarisasi kualitas yang konsisten, terutama pada produk-produk berbasis buah-buahan seperti selai. Sebagai produk pangan semi basah (Intermediate Moisture Foods), selai memiliki karakteristik tekstur dan daya simpan yang sangat bergantung pada keseimbangan komponen penyusunnya, yaitu gula, pektin, dan asam. Namun, dalam perspektif teknologi pangan, kunci utama keberhasilan pembuatan selai tidak hanya terletak pada resep, melainkan pada pengendalian parameter kimia fisika selama proses termal (pemasakan).
Salah satu konsep fundamental kimia fisika yang menjadi pilar dalam proses ini adalah sifat koligatif larutan, khususnya mengenai kenaikan titik didih (ΔTb). Secara teoretis, air murni mendidih pada suhu 100°C pada tekanan 1 atm. Namun, penambahan sukrosa dalam konsentrasi tinggi sebagai zat terlarut non-volatil akan menurunkan tekanan uap pelarut. Fenomena ini memaksa larutan memerlukan energi panas yang lebih besar untuk mencapai titik didihnya, sehingga suhu didih campuran akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi gula akibat penguapan air.
Kenaikan titik didih ini bukan sekadar indikator suhu, melainkan parameter kritis yang mengontrol dua aspek utama kualitas selai yaitu reologi (kekentalan) dan stabilitas mikrobiologis. Dari sisi reologi, pencapaian suhu didih yang spesifik menandakan bahwa konsentrasi padatan terlarut telah mencapai titik jenuh yang memungkinkan terjadinya interaksi polimer pektin untuk membentuk struktur gel yang kokoh namun tetap elastis. Jika suhu didih yang dicapai terlalu rendah, jaringan gel tidak akan terbentuk sempurna (encer). Sebaliknya, suhu yang terlalu tinggi dapat memicu degradasi termal dan karamelisasi yang merusak tekstur.
Selain itu, kenaikan titik didih berkorelasi langsung dengan penurunan aktivitas air (aw). Dalam disiplin ilmu kimia fisika pangan, aktivitas air adalah indikator ketersediaan air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk tumbuh. Dengan memantau kenaikan titik didih hingga mencapai standar tertentu (biasanya 104°C – 105°C), produsen dapat memastikan bahwa nilai aw telah turun ke level yang aman untuk menghambat pembusukan, sehingga memperpanjang daya simpan produk tanpa ketergantungan penuh pada pengawet sintetik.
Kenaikan Tititk Didih (ΔTb)
Kenaikan titik didih adalah fenomena di mana titik didih suatu pelarut (seperti air) akan meningkat ketika ditambahkan zat terlarut (seperti gula atau pektin). Dalam pembuatan selai, air dalam buah menguap selama proses pemanasan, sehingga konsentrasi gula meningkat. Semakin tinggi konsentrasi gula, semakin tinggi pula suhu yang dibutuhkan untuk mendidihkan campuran tersebut.
Secara termodinamika, penambahan zat terlarut non-volatil menyebabkan kenaikan titik didih yang dirumuskan sebagai:
ΔTb = m . Kb
Di mana m adalah molalitas dan Kb adalah tetapan ebulioskopik. Dalam selai, ΔTb digunakan untuk mengukur progres penguapan air hingga mencapai konsentrasi gula yang diinginkan.
Kolerasi dengan Kekentalan (Viskositas)

Hubungan antara titik didih dan kekentalan pada selai bersifat berbanding lurus. Berikut adalah proses yang terjadi:
1. Evaporasi Air: Selama pemanasan, air keluar dari jaringan buah dalam bentuk uap.
2. Konsentrasi Padatan: Berkurangnya air menyebabkan padatan terlarut (gula, asam, dan pektin) menjadi lebih pekat.
3. Pembentukan Gel: Ketika mencapai titik didih tertentu (biasanya sekitar 104°C hingga 105°C), konsentrasi gula mencapai titik optimal untuk membentuk ikatan dengan pektin. Hal inilah yang menciptakan tekstur kental atau viskositas yang pas—tidak terlalu cair namun tetap mudah dioleskan.
Pengaruh terhadap Daya Simpan
Pengaturan titik didih sangat krusial bagi keawetan selai karena terletak pada Aktivitas Air (aw).
1. Pengikatan Air: Dengan meningkatnya titik didih, kadar air dalam selai menurun. Gula dalam konsentrasi tinggi bertindak sebagai pengikat air.
2. Hambatan Mikroba: Ketika air bebas dalam selai berkurang (nilai a_w rendah), mikroorganisme seperti bakteri dan kapang akan sulit tumbuh.
3. Stabilitas Produk: Selai yang dimasak hingga mencapai titik didih yang tepat akan memiliki daya simpan yang lebih lama meski tanpa pengawet buatan, asalkan dikemas dalam wadah yang steril.
Kesimpulan dari fenomena ini adalah bahwa kenaikan titik didih berfungsi sebagai indikator presisi dalam menentukan titik akhir pemasakan selai, di mana peningkatan suhu didih mencerminkan peningkatan konsentrasi padatan terlarut yang secara langsung memicu pembentukan struktur gel pektin untuk menghasilkan viskositas atau kekentalan yang ideal. Secara simultan, proses ini menyebabkan penurunan aktivitas air (aw) yang signifikan, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan secara efektif memperpanjang daya simpan produk tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan pengawet sintetik. Dengan demikian, pengendalian suhu didih yang akurat merupakan kunci integratif untuk menyeimbangkan aspek fisikawi tekstur dengan aspek keamanan pangan pada produk akhir.
Sumber:
Buckle, K. E. (2010). Ilmu pangan . jakarta.
Fellows, P. (2016). Food Processing Technology. Principles and Practice: Woodhead
Publisher. H, M. (2013). Pengiolahan Buah untuk Selai & Jelly. Jakarta: Granmedia Pustaka Utama.
Winarno, F. (2008). Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mari Bergabung dengan Jurusan Teknologi Pangan Ma’soem University!
Apakah Anda tertarik untuk menjadi ahli dalam menciptakan inovasi pangan sehat? Bergabunglah dengan Program Studi Teknologi Pangan Ma’soem University. Di sini, Anda akan belajar cara mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dengan fasilitas laboratorium yang lengkap dan bimbingan dosen ahli.
Jangan lewatkan kesempatan untuk berkontribusi bagi ketahanan pangan bangsa! Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:
Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
WhatsApp: 081385501914
Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/





