Oleh : Deni Purwadi
Ada beberapa alasan mendasar mengapa produksi kedelai dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan nasional:
- Kalah Saing dengan Komoditas Lain (Secara Ekonomi)
Bagi petani lokal, menanam padi atau jagung jauh lebih menguntungkan ketimbang menanam kedelai karena harga jualnya yang cenderung kurang kompetitif dibandingkan kedelai impor. - Ketersediaan dan Luas Lahan yang Menurun
Luas lahan tanam dan panen kedelai lokal terus menyusut dari tahun ke tahun. - Karakteristik Produk (Kedelai Impor vs Lokal)
Kedelai Impor: Ukurannya seragam, bijinya lebih besar, dan kadar airnya relatif konsisten—sehingga sangat disukai oleh para pengrajin tempe dan tahu.
Kedelai Lokal: Lebih unggul dari segi rasa (gurih dan tidak gampang basi), namun bijinya cenderung lebih kecil dan pasokannya fluktuatif. - Faktor Iklim dan Produktivitas
Indonesia adalah negara tropis basah dengan kelembapan tinggi, sementara produktivitas rata-rata tanaman kedelai lokal masih berkisar 1,6 – 2 ton per hektare. Rendah jika dibandingkan dengan negara produsen subtropis yang bisa menghasilkan di atas 3 ton per hectare.
Permasalahan-permasalahan di atas tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja dan harus diupayakan solusinya. Negara kita tidak bisa selamanya impor kedelai untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara di sisi lain kita memiliki produk unggulan yang original berasal dari tanah air Indonesia yaitu tempe. Dalam struktur kurikulum Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem, dengan Program Studi Teknologi Pangan dan Agribisnis, permasalahan ini dibahas dalam mata kuliah tersendiri. Para mahasiswa diberikan wawasan pengetahuan agar dapat memahami dan jika memungkinkan ikut mencarikan solusinya.




