“Anak ini memang susah diatur.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah terdengar ketika seorang siswa menunjukkan perilaku yang dianggap mengganggu. Ketika seorang siswa sering terlambat, tidak mengerjakan tugas, berbicara ketika pembelajaran berlangsung, atau menarik diri dari lingkungan, perilakunya sering kali menjadi pusat perhatian.
Padahal, perilaku yang terlihat belum tentu menjelaskan keseluruhan kondisi siswa.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, perilaku perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Bukan berarti setiap perilaku harus dibenarkan, tetapi setiap perilaku dapat menjadi pintu masuk untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Perilaku adalah Bagian dari Cerita
Seorang siswa yang kehilangan motivasi belajar mungkin sedang menghadapi kesulitan akademik. Siswa yang mudah marah mungkin sedang mengalami tekanan tertentu. Siswa yang menarik diri mungkin sedang membutuhkan dukungan sosial.
Tentu saja, satu perilaku tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu. Diperlukan proses memahami kondisi siswa secara menyeluruh.
Inilah mengapa pendekatan BK tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana membuat siswa berubah?”, tetapi juga mempertimbangkan pertanyaan, “Apa yang membuat perubahan tersebut dibutuhkan?”
Mengubah Cara Pandang terhadap Siswa
Memberikan label dapat membuat masalah menjadi lebih sederhana untuk dipahami, tetapi belum tentu membantu siswa berkembang.
Ketika siswa terus-menerus disebut “malas”, “nakal”, atau “sulit diatur”, ia berpotensi melihat dirinya berdasarkan label tersebut. Sebaliknya, pendekatan yang berorientasi pada perkembangan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami perilakunya dan belajar membangun alternatif yang lebih adaptif.
Konselor dapat membantu siswa mengeksplorasi situasi yang dihadapi, mengenali pola perilaku, memahami konsekuensi dari pilihan, serta menemukan strategi yang lebih sesuai.
BK Tidak Membela Kesalahan, tetapi Memahami Manusia
Memahami bukan berarti membenarkan.
Jika seorang siswa melakukan kesalahan, tetap diperlukan batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi yang sesuai. Namun, proses tersebut dapat dilakukan tanpa menghilangkan penghargaan terhadap siswa sebagai individu yang sedang belajar dan berkembang.
Perspektif inilah yang membuat BK memiliki peran penting dalam lingkungan pendidikan. Konselor membantu membangun jembatan antara kebutuhan siswa, tuntutan sekolah, dan proses perkembangan individu.
Membentuk Calon Konselor yang Humanis dan Profesional
Untuk menjalankan peran tersebut, calon konselor membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling mempelajari berbagai aspek perkembangan individu, teknik konseling, asesmen, bimbingan sosial, akademik, dan karier, serta prinsip profesional dalam memberikan layanan.
Karena menjadi konselor bukan hanya tentang mengetahui teori mengenai manusia, tetapi juga tentang belajar melihat manusia secara utuh.
Di balik sebuah perilaku, ada konteks yang perlu dipahami. Di balik seorang siswa, ada individu yang sedang belajar bertumbuh. Dan BK hadir untuk membantu proses tersebut.
“Anak ini memang susah diatur.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah terdengar ketika seorang siswa menunjukkan perilaku yang dianggap mengganggu. Ketika seorang siswa sering terlambat, tidak mengerjakan tugas, berbicara ketika pembelajaran berlangsung, atau menarik diri dari lingkungan, perilakunya sering kali menjadi pusat perhatian.
Padahal, perilaku yang terlihat belum tentu menjelaskan keseluruhan kondisi siswa.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, perilaku perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Bukan berarti setiap perilaku harus dibenarkan, tetapi setiap perilaku dapat menjadi pintu masuk untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Perilaku adalah Bagian dari Cerita
Seorang siswa yang kehilangan motivasi belajar mungkin sedang menghadapi kesulitan akademik. Siswa yang mudah marah mungkin sedang mengalami tekanan tertentu. Siswa yang menarik diri mungkin sedang membutuhkan dukungan sosial.
Tentu saja, satu perilaku tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu. Diperlukan proses memahami kondisi siswa secara menyeluruh.
Inilah mengapa pendekatan BK tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana membuat siswa berubah?”, tetapi juga mempertimbangkan pertanyaan, “Apa yang membuat perubahan tersebut dibutuhkan?”
Mengubah Cara Pandang terhadap Siswa
Memberikan label dapat membuat masalah menjadi lebih sederhana untuk dipahami, tetapi belum tentu membantu siswa berkembang.
Ketika siswa terus-menerus disebut “malas”, “nakal”, atau “sulit diatur”, ia berpotensi melihat dirinya berdasarkan label tersebut. Sebaliknya, pendekatan yang berorientasi pada perkembangan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami perilakunya dan belajar membangun alternatif yang lebih adaptif.
Konselor dapat membantu siswa mengeksplorasi situasi yang dihadapi, mengenali pola perilaku, memahami konsekuensi dari pilihan, serta menemukan strategi yang lebih sesuai.
BK Tidak Membela Kesalahan, tetapi Memahami Manusia
Memahami bukan berarti membenarkan.
Jika seorang siswa melakukan kesalahan, tetap diperlukan batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi yang sesuai. Namun, proses tersebut dapat dilakukan tanpa menghilangkan penghargaan terhadap siswa sebagai individu yang sedang belajar dan berkembang.
Perspektif inilah yang membuat BK memiliki peran penting dalam lingkungan pendidikan. Konselor membantu membangun jembatan antara kebutuhan siswa, tuntutan sekolah, dan proses perkembangan individu.
Membentuk Calon Konselor yang Humanis dan Profesional
Untuk menjalankan peran tersebut, calon konselor membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling mempelajari berbagai aspek perkembangan individu, teknik konseling, asesmen, bimbingan sosial, akademik, dan karier, serta prinsip profesional dalam memberikan layanan.
Karena menjadi konselor bukan hanya tentang mengetahui teori mengenai manusia, tetapi juga tentang belajar melihat manusia secara utuh.
Di balik sebuah perilaku, ada konteks yang perlu dipahami. Di balik seorang siswa, ada individu yang sedang belajar bertumbuh. Dan BK hadir untuk membantu proses tersebut.
“Anak ini memang susah diatur.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah terdengar ketika seorang siswa menunjukkan perilaku yang dianggap mengganggu. Ketika seorang siswa sering terlambat, tidak mengerjakan tugas, berbicara ketika pembelajaran berlangsung, atau menarik diri dari lingkungan, perilakunya sering kali menjadi pusat perhatian.
Padahal, perilaku yang terlihat belum tentu menjelaskan keseluruhan kondisi siswa.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, perilaku perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Bukan berarti setiap perilaku harus dibenarkan, tetapi setiap perilaku dapat menjadi pintu masuk untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Perilaku adalah Bagian dari Cerita
Seorang siswa yang kehilangan motivasi belajar mungkin sedang menghadapi kesulitan akademik. Siswa yang mudah marah mungkin sedang mengalami tekanan tertentu. Siswa yang menarik diri mungkin sedang membutuhkan dukungan sosial.
Tentu saja, satu perilaku tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu. Diperlukan proses memahami kondisi siswa secara menyeluruh.
Inilah mengapa pendekatan BK tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana membuat siswa berubah?”, tetapi juga mempertimbangkan pertanyaan, “Apa yang membuat perubahan tersebut dibutuhkan?”
Mengubah Cara Pandang terhadap Siswa
Memberikan label dapat membuat masalah menjadi lebih sederhana untuk dipahami, tetapi belum tentu membantu siswa berkembang.
Ketika siswa terus-menerus disebut “malas”, “nakal”, atau “sulit diatur”, ia berpotensi melihat dirinya berdasarkan label tersebut. Sebaliknya, pendekatan yang berorientasi pada perkembangan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami perilakunya dan belajar membangun alternatif yang lebih adaptif.
Konselor dapat membantu siswa mengeksplorasi situasi yang dihadapi, mengenali pola perilaku, memahami konsekuensi dari pilihan, serta menemukan strategi yang lebih sesuai.
BK Tidak Membela Kesalahan, tetapi Memahami Manusia
Memahami bukan berarti membenarkan.
Jika seorang siswa melakukan kesalahan, tetap diperlukan batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi yang sesuai. Namun, proses tersebut dapat dilakukan tanpa menghilangkan penghargaan terhadap siswa sebagai individu yang sedang belajar dan berkembang.
Perspektif inilah yang membuat BK memiliki peran penting dalam lingkungan pendidikan. Konselor membantu membangun jembatan antara kebutuhan siswa, tuntutan sekolah, dan proses perkembangan individu.
Membentuk Calon Konselor yang Humanis dan Profesional
Untuk menjalankan peran tersebut, calon konselor membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling mempelajari berbagai aspek perkembangan individu, teknik konseling, asesmen, bimbingan sosial, akademik, dan karier, serta prinsip profesional dalam memberikan layanan.
Karena menjadi konselor bukan hanya tentang mengetahui teori mengenai manusia, tetapi juga tentang belajar melihat manusia secara utuh.
Di balik sebuah perilaku, ada konteks yang perlu dipahami. Di balik seorang siswa, ada individu yang sedang belajar bertumbuh. Dan BK hadir untuk membantu proses tersebut.
Segera daftarkan diri Anda melalui link berikut:https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
Untuk informasi lebih lanjut kunjungi juga website resmi kami di:https://masoemuniversity.ac.id/
- Nama Prodi: Bimbingan dan Konseling
- Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/
- Kontak/WhatsApp: 022 7798340 / +62 851 8563 4253
- Website Resmi:https://masoemuniversity.ac.id/




