MASIHKAH USAHA PERTANIAN DAPAT DIANDALKAN ?

Oleh: Deni Purwadi

Sudah sering kita mendengar keterpurukan nasib para petani Indonesia menghadapi berbagai permasalahan dalam gerak langkah usahanya. Memang ada cerita beberapa petani yang sukses sehingga dapat memperoleh keuntungan yang menggiurkan dan ujung-ujungnya menjadi meningkat taraf atau derajat sosial ekonomi kehidupannya.
Namun sebagian besar cerita tentang petani akan berkisar pada kesulitan, hambatan, serta permasalahan lainnya yang menggambarkan betapa tidak menariknya usaha di bidang pertanian. Semuanya terlihat dan terasa suram sehingga tidak bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan keluarga.
Pada akhirnya, ini yang sangat dikhawatirkan, para petani mulai beralih status dari petani menjadi pelaku usaha di bidang lainnya. Bagaimana dengan lahan pertaniannya ? tidak ada pilihan lain pasti dijual untuk dijadikan modal usaha tanpa analisis usaha atau perhitungan yang jelas.


Ada cerita menarik dari salah seorang kerabat yang tinggal di daerah Subang Jawa Barat. Daerah yang semula terkenal sebagai sentra rambutan, durian, mangga, dan buah-buahan musiman lainnya. Tiba-tiba daerah tersebut berubah menjadi sentra industry karena kebetulan dekat dengan exit Tol Cipali.
Kerabat saya ini awalnya adalah petani buah rambutan dan memiliki kebun dengan 50 batang pohon. Setiap musim rambutan hasil panennya cukup menjanjikan sehingga dapat ditabung untuk melaksanakan ibadah haji.
Memang tidak setiap panen bagus, terkadang hasilnya menurun akibat serangan hama ulat atau bunga dan buah mudanya rontok akibat angin kencang serta gangguan perubahan iklim lainnya.
Setelah pabrik-pabrik mulai berdiri di sekitar tempat tinggalnya dan tentu saja memerlukan lahan untuk pembangunan gedung-gedungnya, pada akhirnya kerabat saya pun menjual kebun rambutannya. Selanjutnya berubah usahanya dengan membuka kos-kosan untuk karyawan pabrik. Dari semula memiliki 20 pintu sekarang sudah berkembang menjadi 50 pintu kamar kos.
Ketika ditanya kenapa kebun rambutannya dijual dan dijadikan modal membuka usaha kos-kosan, jawabannya sangat sederhana dan pragmatis : “Kalau rambutan mah panennya setahun sekali tapi kos-kosan setiap bulan menghasilkan uang”.
Entah berapa petani berpikiran seperti itu di daerah Subang. Ditambah lagi entah berapa lagi para petani di daerah lain di negara kita ini yang berpikiran sama.
Sehingga jangan kaget jika suatu saat nanti kita terpaksa harus impor buah rambutan akibat sudah sangat sedikit hasil panen dari tanah sendiri.
Ini harus menjadi PR bersama antara pihak pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada petani dan juga pihak akademisi kampus untuk bisa melahirkan lulusannya yang bisa mengatasi hal tersebut.


Di kampus Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem, yang memiliki Program Studi Teknologi Pangan dan Agribisnis, para mahasiswa dibekali keilmuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dari hulu ke hilir.
Dengan program Praktik Lapangan setiap akhir semester genap, para mahasiswa dilatih untuk mengenal, menganalisis, dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang real terjadi di bidang pertanian.
Kita adalah negara agraris dan seharusnya sector pertanian menjadi andalan yang dapat hidup serta menghidupi rakyatnya.

Jangan lewatkan kesempatan untuk berkontribusi bagi pertanian bangsa! Segera daftarkan diri Anda secara online melalui tautan di bawah ini:

Link Pendaftaran: https://pmb.masoemuniversity.ac.id/

WhatsApp: 081385501914

Website Resmi: https://masoemuniversity.ac.id/