Mengapa Kerupuk Bisa Mengembang Saat Digoreng? Mengungkap Rahasia Renyah di Balik Camilan Favorit Indonesia

Oleh ; Lenny Amelia HK

Kerupuk merupakan salah satu makanan pendamping yang hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Indonesia. Berbagai jenis kerupuk, seperti kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk bawang, hingga kerupuk kulit, memiliki satu kesamaan, yaitu mengembang secara dramatis ketika digoreng.

Apa Itu Kerupuk?

Kerupuk adalah produk pangan kering yang umumnya dibuat dari campuran:

  • Tepung tapioka atau tepung sagu.
  • Air.
  • Garam.
  • Bumbu.
  • Bahan tambahan seperti udang, ikan, bawang, atau rempah-rempah.

Adonan kemudian dikukus hingga matang, didinginkan, diiris tipis, lalu dikeringkan hingga kadar airnya sangat rendah. Dalam kondisi kering, kerupuk tampak keras, padat, dan tidak menarik. Namun, justru kondisi inilah yang menjadi “kunci” agar kerupuk dapat mengembang saat digoreng.

Mengapa Kerupuk Tidak Langsung Digoreng Setelah Dibuat?

Salah satu tahap terpenting dalam pembuatan kerupuk adalah pengeringan. Setelah dikukus, kadar air dalam adonan masih tinggi. Jika langsung digoreng, air yang terlalu banyak akan menyebabkan kerupuk sulit mengembang, bahkan dapat menyerap minyak secara berlebihan.

Oleh karena itu, kerupuk harus dikeringkan hingga kadar airnya berkisar sekitar 8–12%, tergantung jenis produknya. Pada kondisi ini, air yang tersisa cukup untuk membentuk uap ketika dipanaskan, tetapi tidak berlebihan sehingga struktur kerupuk tetap stabil.

Rahasia Utama: Pati dan Air

Bahan utama sebagian besar kerupuk adalah pati, terutama dari tapioka. Pati tersusun atas dua komponen utama:

  • Amilosa
  • Amilopektin

Kedua komponen ini memiliki sifat yang berbeda dan sangat memengaruhi kemampuan kerupuk untuk mengembang. Tepung tapioka memiliki kandungan amilopektin yang tinggi. Senyawa ini mampu membentuk struktur yang elastis sehingga ketika dipanaskan, kerupuk dapat mengembang dengan baik tanpa mudah pecah.

Apa yang Terjadi Saat Kerupuk Digoreng?

Ketika kerupuk dimasukkan ke dalam minyak bersuhu sekitar 170–190°C, serangkaian proses terjadi hampir secara bersamaan.

1. Panas Masuk ke Dalam Kerupuk

Minyak panas menghantarkan energi ke seluruh permukaan kerupuk. Karena kerupuk sangat tipis, panas dengan cepat mencapai bagian dalam

2. Air Berubah Menjadi Uap

Air yang masih tersisa di dalam kerupuk langsung berubah menjadi uap. Perubahan ini sangat cepat karena suhu minyak jauh lebih tinggi daripada titik didih air. Volume uap air jauh lebih besar dibandingkan air cair. Akibatnya, tekanan di dalam kerupuk meningkat secara drastis

3. Struktur Pati Melunak

Pada saat yang sama, struktur pati menjadi lebih lunak karena menerima panas. Lapisan pati yang sebelumnya padat mulai bersifat plastis sehingga mampu meregang.

4. Kerupuk Mengembang

Tekanan uap air mendorong struktur pati dari dalam. Karena pati masih lentur, kerupuk membesar seperti balon kecil yang dipenuhi udara panas. Proses ini hanya berlangsung beberapa detik.

Begitu kadar air habis dan pati mengeras kembali, bentuk kerupuk “terkunci” sehingga tetap mengembang meskipun sudah diangkat dari minyak.

Mengapa Kerupuk Menjadi Renyah?

Setelah proses penggorengan selesai, hampir seluruh air di dalam kerupuk telah menguap. Akibatnya terbentuk jutaan rongga udara berukuran kecil. Rongga-rongga inilah yang menyebabkan kerupuk:

  • Ringan.
  • Berpori.
  • Mudah dipatahkan.
  • Menghasilkan suara “kriuk” saat digigit.

Semakin banyak rongga yang terbentuk secara merata, semakin renyah kualitas kerupuk tersebut.

Mengapa Ada Kerupuk yang Tidak Mengembang?

Tidak semua kerupuk berhasil mengembang sempurna. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

Kadar Air Terlalu Tinggi

Kerupuk yang belum cukup kering akan menyerap lebih banyak minyak dan sulit membentuk rongga udara yang stabil.

Suhu Minyak Terlalu Rendah

Jika minyak belum cukup panas, air menguap secara perlahan sehingga tekanan yang terbentuk tidak cukup untuk mengembangkan kerupuk.

Suhu Minyak Terlalu Tinggi

Sebaliknya, suhu yang terlalu tinggi dapat membuat bagian luar kerupuk mengeras lebih cepat sebelum bagian dalam sempat mengembang.

Akibatnya, kerupuk menjadi keras atau hanya mengembang sebagian.

Komposisi Tepung Tidak Tepat

Jenis tepung dan perbandingan amilosa serta amilopektin sangat memengaruhi kemampuan kerupuk untuk mengembang.

Mengapa Kerupuk Menyerap Minyak?

Selama penggorengan, sebagian minyak masuk ke dalam rongga-rongga yang terbentuk setelah uap air keluar. Semakin banyak pori yang terbuka, semakin besar peluang minyak terserap. Inilah sebabnya kerupuk memiliki kandungan lemak yang relatif tinggi setelah digoreng. Saat ini, industri pangan terus mengembangkan teknologi untuk mengurangi penyerapan minyak, seperti:

  • Vacuum frying.
  • Air frying.
  • Pelapisan (coating) berbasis hidrokoloid.
  • Optimasi formulasi pati.