BENARKAH MAKANAN KITA AMAN? MEMBONGKAR JEJAK BAHAYA YANG TAK TERLIHAT

Oleh: Lenny Amelia HK

Sepiring nasi, semangkuk bakso, segelas es teh, atau makanan yang dibeli dari toko mungkin tampak baik-baik saja. Tidak ada warna aneh, tidak berbau busuk, dan rasanya normal. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan:

Apakah makanan tersebut benar-benar aman untuk dikonsumsi?

MAKANAN TERLIHAT AMAN, TAPI BENARKAH?

Bayangkan Anda membeli makanan siap santap. Makanannya masih hangat. Aromanya menggugah selera. Warnanya menarik. Tidak ada jamur atau perubahan tekstur yang mencurigakan. Secara kasatmata, makanan tersebut terlihat aman. Namun, keamanan pangan tidak selalu bisa dinilai menggunakan mata, hidung, atau lidah. Beberapa mikroorganisme patogen dapat berada di dalam makanan tanpa menyebabkan perubahan yang jelas pada warna, aroma, maupun rasa. Inilah yang membuat keamanan pangan menjadi persoalan serius.

Makanan dapat mengalami kontaminasi pada berbagai tahap, bahkan sebelum sampai ke tangan konsumen. Dengan kata lain: Makanan yang terlihat bersih belum tentu bebas dari bahaya pangan.

Bahan baku dapat terkontaminasi sejak dari lingkungan produksi. Setelah itu, kontaminasi dapat terjadi selama transportasi, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, hingga penyajian.

Secara umum, bahaya pangan dapat dikelompokkan menjadi bahaya biologis, kimia, dan fisik.

🦠 1. Bahaya Biologis

Bahaya biologis berkaitan dengan mikroorganisme atau agen biologis lain yang dapat menyebabkan penyakit. Contohnya adalah bakteri patogen, virus, parasit, maupun kapang tertentu. Bakteri dapat berkembang ketika makanan berada pada kondisi yang mendukung, misalnya suhu dan waktu penyimpanan yang tidak tepat. Menariknya, keberadaan mikroorganisme tersebut tidak selalu membuat makanan langsung terlihat rusak. Karena itu, keamanan pangan membutuhkan pendekatan ilmiah, bukan hanya mengandalkan penampilan makanan.

🧪 2. Bahaya Kimia

Bahaya pangan juga dapat berasal dari senyawa kimia yang tidak semestinya terdapat dalam pangan atau berada pada kadar yang tidak aman. Contohnya dapat berkaitan dengan residu pestisida, cemaran logam berat, senyawa hasil reaksi tertentu, atau penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai. Di sinilah analisis laboratorium memiliki peranan penting. Para ahli pangan dapat menggunakan berbagai metode analisis untuk mengetahui karakteristik dan keamanan suatu produk.

🪨 3. Bahaya Fisik

Bahaya fisik mungkin lebih mudah dibayangkan. Potongan logam, pecahan kaca, batu, plastik, tulang, atau benda asing lainnya dapat masuk ke dalam makanan selama proses produksi maupun penanganan. Walaupun terlihat sederhana, bahaya fisik dapat menyebabkan cedera dan menjadi masalah serius bagi produsen pangan. Karena itu, industri pangan membutuhkan sistem pengendalian yang dirancang secara sistematis.

Salah satu faktor penting dalam keamanan pangan adalah suhu. Makanan tertentu membutuhkan pengendalian suhu selama penyimpanan maupun distribusi. Jika makanan berada terlalu lama pada kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme, jumlah mikroorganisme dapat meningkat. Karena itu, pengendalian suhu bukan sekadar persoalan “makanan masih hangat atau sudah dingin”. Food Detective perlu melihat hubungan antara suhu + waktu + jenis pangan + kadar air + kondisi penyimpanan. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi stabilitas dan keamanan produk. Inilah salah satu alasan mengapa ilmu pangan membutuhkan pendekatan multidisiplin.