MAKANAN VIRAL DI MEDIA SOSIAL — AMAN, SEHAT, ATAU HANYA MENARIK DI KAMERA?

Oleh : Lenny Amelia HK

Warnanya mencolok. Bentuknya unik. Cara makannya ekstrem. Videonya ditonton jutaan kali. Dalam hitungan hari, sebuah makanan yang sebelumnya tidak dikenal bisa menjadi tren. Media sosial membuat dunia kuliner berubah sangat cepat. Satu video dapat membuat makanan tertentu tiba-tiba diburu konsumen. Muncul berbagai istilah viral food, food challenge, makanan ekstrem, makanan jumbo, makanan super pedas, minuman warna-warni, makanan dengan klaim kesehatan, hingga produk “unik” yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Salah satu tempat pertama yang dapat diperiksa adalah label produk. Label memberikan informasi penting mengenai produk pangan. Tergantung jenis produknya, konsumen dapat menemukan informasi seperti:

  • nama produk;
  • komposisi;
  • informasi nilai gizi;
  • berat atau volume;
  • informasi produsen;
  • kode atau nomor tertentu;
  • tanggal dan informasi terkait masa simpan;
  • serta informasi lain sesuai ketentuan yang berlaku.

Food Detective tidak hanya melihat gambar makanan. Ia membaca informasi yang menyertainya. Karena kadang-kadang fakta paling penting bukan berada di dalam foto. Tetapi berada dalam tulisan kecil di kemasan.

100% ALAMI

Kata “alami” terdengar sangat meyakinkan. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud? Apakah alami otomatis berarti aman? Apakah sintetis otomatis berarti berbahaya? Tidak sesederhana itu. Keamanan suatu bahan pangan tidak semata-mata ditentukan oleh apakah bahan tersebut berasal dari alam atau dibuat secara sintetis. Yang perlu diperhatikan adalah jenis bahan → jumlah → cara penggunaan → paparan → karakteristik produk → dan aspek keamanan lainnya. Inilah mengapa Food Detective tidak menggunakan slogan sebagai bukti. Ia menggunakan data.

TANPA BAHAN KIMIA

Ini adalah salah satu klaim yang sering menarik perhatian. Namun secara ilmiah, ada satu pertanyaan sederhana Bukankah semua makanan tersusun atas bahan kimia? Air adalah senyawa kimia. Gula adalah senyawa kimia. Protein adalah molekul. Vitamin juga merupakan senyawa kimia. Jadi, istilah “tanpa bahan kimia” perlu dipahami secara kritis. Kemungkinan yang dimaksud sebenarnya adalah tanpa bahan tambahan tertentu atau tanpa bahan tertentu yang menjadi perhatian konsumen. Food Detective harus mampu membedakan antara bahasa pemasaran dan bahasa ilmiah.

WARNA YANG TERLALU MENARIK

Sekarang perhatikan makanan dengan warna yang sangat mencolok. Merah menyala. Biru elektrik. Hijau neon. Ungu pekat. Apakah warna tersebut berasal dari bahan alami? Atau menggunakan pewarna pangan? Atau merupakan kombinasi keduanya? Pewarna dapat digunakan untuk memberikan atau mengembalikan karakter warna tertentu pada produk pangan.