Sejarah Teh: Dari Penemuan Tak Sengaja di Tiongkok hingga Menjadi Minuman Favorit Dunia

Oleh: Lenny Amelia HK

Secangkir teh hangat telah menemani manusia selama ribuan tahun. Di pagi hari, teh menjadi pembuka aktivitas. Di sore hari, teh menjadi teman berbincang. Bahkan di beberapa negara, teh telah berkembang menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya. Namun, tahukah Anda bahwa kisah teh bermula dari sebuah kejadian yang tidak disengaja lebih dari 5.000 tahun yang lalu?”

Di balik kesederhanaannya, teh memiliki sejarah yang sangat panjang. Dari legenda di Tiongkok kuno, penyebarannya melalui Jalur Sutra, tradisi minum teh di Jepang, hingga kebiasaan afternoon tea di Inggris, teh telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia.

Legenda Kaisar Shennong

Menurut legenda Tiongkok, sejarah teh dimulai sekitar 2737 SM pada masa pemerintahan Shennong, seorang tokoh yang dikenal sebagai ahli pertanian dan pengobatan tradisional.

Suatu hari, ketika Shennong sedang merebus air di bawah pohon liar, beberapa helai daun jatuh ke dalam panci berisi air panas. Air yang semula bening berubah menjadi kekuningan dan mengeluarkan aroma yang harum.

Karena penasaran, Shennong mencicipinya. Ia merasakan minuman tersebut menyegarkan dan memberikan sensasi yang berbeda. Sejak saat itu, daun tersebut mulai dimanfaatkan sebagai minuman.

Walaupun kisah ini bersifat legenda, cerita tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah dan budaya teh di Tiongkok.

Tanaman Camellia sinensis

Secara ilmiah, seluruh teh asli berasal dari satu spesies tanaman, yaitu Camellia sinensis. Perbedaan antara teh hijau, teh hitam, teh putih, teh oolong, maupun teh pu-erh bukan berasal dari jenis tanaman yang berbeda, melainkan dari cara pengolahannya. Tanaman teh tumbuh baik di daerah dengan:

  • Curah hujan tinggi.
  • Suhu sejuk.
  • Tanah yang subur.
  • Ketinggian tertentu.

Kondisi lingkungan tersebut sangat memengaruhi kualitas daun teh yang dihasilkan.

Teh Menyebar ke Asia

Popularitas teh berkembang pesat di Tiongkok selama Dinasti Tang (618–907 M). Pada masa ini, teh tidak hanya menjadi minuman sehari-hari, tetapi juga bagian dari seni, sastra, dan filosofi hidup. Melalui para biksu Buddha, teh kemudian menyebar ke Jepang sekitar abad ke-8. Di Jepang, budaya minum teh berkembang menjadi upacara minum teh (Chanoyu) yang menekankan kesederhanaan, ketenangan, dan penghormatan kepada tamu. Hingga kini, upacara minum teh masih menjadi salah satu warisan budaya Jepang yang terkenal di dunia.

Teh Menjadi Minuman Favorit Inggris

Pada abad ke-17, teh mulai diperkenalkan ke Inggris melalui para pedagang. Awalnya, teh merupakan minuman mewah yang hanya dapat dinikmati oleh keluarga kerajaan dan bangsawan. Popularitas teh meningkat pesat setelah Catherine of Braganza membawa kebiasaan minum teh dari Portugal ke istana Inggris. Seiring waktu, tradisi minum teh berkembang menjadi budaya Afternoon Tea, yaitu kebiasaan menikmati teh pada sore hari bersama kue, roti, dan camilan ringan. Tradisi ini masih menjadi salah satu ikon budaya Inggris hingga saat ini.

Teknologi Pangan di Balik Secangkir Teh

Kualitas teh sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan setelah panen.

Pemetikan

Daun teh dipetik secara selektif, biasanya terdiri dari satu pucuk dan dua daun muda untuk memperoleh kualitas terbaik.

Pelayuan (Withering)

Daun dibiarkan kehilangan sebagian kadar air agar lebih lentur dan siap diproses.

Penggulungan (Rolling)

Daun digulung untuk memecahkan dinding sel sehingga enzim dan senyawa kimia dapat bereaksi.

Oksidasi Enzimatis

Tahap ini sering disebut fermentasi dalam industri teh. Proses oksidasi menghasilkan perubahan warna, aroma, dan cita rasa. Semakin lama oksidasi berlangsung, semakin gelap warna teh yang dihasilkan.

Pengeringan

Pengeringan menghentikan aktivitas enzim dan menurunkan kadar air sehingga teh dapat disimpan lebih lama.

Sortasi dan Pengemasan

Teh dipisahkan berdasarkan ukuran dan kualitas sebelum dikemas untuk menjaga kesegaran serta aroma.