Oleh : Lenny Amelia HK
“Setiap pagi, miliaran orang memulai hari dengan secangkir kopi. Aromanya yang khas mampu membangkitkan semangat, menghangatkan suasana, bahkan menjadi teman lahirnya berbagai ide besar. Namun, di balik secangkir kopi tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari pegunungan Ethiopia, melintasi jazirah Arab, hingga akhirnya menjadi salah satu komoditas paling berharga di dunia.”
Saat ini, kopi merupakan salah satu komoditas perdagangan terbesar di dunia setelah minyak bumi untuk kelompok komoditas tertentu. Industri kopi melibatkan jutaan petani, pelaku usaha, peneliti, hingga barista yang bekerja sama menghasilkan secangkir kopi berkualitas.
Legenda Kaldi: Awal Mula Penemuan Kopi
Sejarah kopi sering dikaitkan dengan sebuah legenda yang berasal dari Ethiopia. Konon, sekitar abad ke-9, seorang penggembala kambing bernama Kaldi memperhatikan perilaku kambing-kambingnya yang menjadi sangat aktif setelah memakan buah merah dari sebuah pohon.
Karena penasaran, Kaldi membawa buah tersebut kepada seorang pertapa. Awalnya buah itu dianggap tidak berguna dan dibuang ke dalam api. Namun, biji yang terbakar justru mengeluarkan aroma harum yang belum pernah tercium sebelumnya.
Biji tersebut kemudian ditumbuk, diseduh dengan air panas, dan menghasilkan minuman yang dipercaya membantu para pertapa tetap terjaga saat beribadah.
Walaupun kisah ini belum dapat dibuktikan secara historis, legenda Kaldi tetap menjadi cerita paling terkenal mengenai asal-usul kopi.
Ethiopia: Tanah Kelahiran Kopi
Secara ilmiah, tanaman kopi diyakini berasal dari dataran tinggi Ethiopia, khususnya wilayah Kaffa, yang bahkan diduga menjadi asal nama “coffee”. Di kawasan ini, masyarakat telah memanfaatkan buah kopi jauh sebelum dikenal sebagai minuman. Beberapa cara pemanfaatan pada masa awal antara lain:
- Buah kopi dimakan langsung.
- Biji kopi dicampur dengan lemak hewan sebagai bekal perjalanan.
- Buah difermentasi menjadi minuman sederhana.
Perkembangan teknik pengolahan kemudian mengubah kopi menjadi minuman yang kita kenal saat ini.
Perjalanan Kopi ke Jazirah Arab
Dari Ethiopia, kopi dibawa menyeberangi Laut Merah menuju Yaman sekitar abad ke-15. Di wilayah inilah kopi mulai dibudidayakan secara luas. Masyarakat Arab mengembangkan teknik:
- Pengeringan biji.
- Penyangraian.
- Penggilingan.
- Penyeduhan.
Mereka menyebut minuman tersebut sebagai qahwa, yang kemudian menjadi asal berbagai istilah seperti coffee, café, dan kopi. Pelabuhan Mocha di Yaman kemudian menjadi pusat perdagangan kopi dunia. Hingga kini istilah mocha masih digunakan sebagai salah satu karakter rasa kopi maupun minuman berbasis kopi.
Kopi Menaklukkan Eropa
Pada abad ke-17, kopi mulai memasuki Eropa melalui pelabuhan Venesia. Awalnya, minuman ini sempat mendapat penolakan karena dianggap berasal dari dunia Islam. Namun setelah Pope Clement VIII mencicipinya dan menyatakan bahwa kopi layak dinikmati, popularitas kopi meningkat pesat. Dalam waktu singkat, kedai kopi berkembang di berbagai kota besar seperti:
- London.
- Paris.
- Wina.
- Amsterdam.
Coffee house menjadi tempat berkumpul para ilmuwan, filsuf, penulis, dan pedagang. Bahkan, beberapa perusahaan besar dunia lahir dari diskusi yang berlangsung di kedai kopi.
Kopi Masuk ke Indonesia
Sejarah kopi di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-17 ketika pemerintah kolonial Belanda membawa bibit kopi Arabika dari Yaman.
Bibit tersebut pertama kali ditanam di daerah Batavia (Jakarta) sebelum kemudian dikembangkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Keberhasilan budidaya membuat kopi dari Jawa terkenal di pasar internasional.
Istilah “Java Coffee” bahkan masih digunakan hingga saat ini sebagai salah satu sebutan untuk kopi berkualitas.
Setelah serangan penyakit karat daun (coffee leaf rust) pada abad ke-19, budidaya kopi Robusta mulai dikembangkan karena lebih tahan terhadap penyakit.




