Oleh : Deni Purwadi
Pada dasarnya tempe adalah hasil fermentasi bahan pangan (terutama kacang-kacangan atau produk sampingannya) menggunakan kapang/ragi tempe (Rhizopus sp.). Namun memang kedelai adalah bahan yang paling populer dan umum dikenal masyarakat kita.
Di sisi lain produksi kedelai negara kita setiap tahun selalu lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhannya. Perbandingan antara kebutuhan kedelai nasional dan hasil produksi lokal Indonesia menunjukkan ketimpangan yang sangat besar.
Sebagian besar kebutuhan kedelai dalam negeri masih harus dipenuhi melalui impor (terutama dari Amerika Serikat dan Brasil).
Apakah untuk membuat tempe harus selalu menggunakan kedelai ?
Berikut adalah beberapa jenis tempe non-kedelai yang cukup populer di Indonesia:
- Tempe Tradisional Non-Kedelai
Tempe Gembus: Terbuat dari ampas tahu. Teksturnya sangat empuk dan lembut, sering diolah jadi tempe goreng tepung.
Tempe Benguk: Terbuat dari biji koro benguk (Mucuna pruriens). Populer di daerah Kulon Progo dan Yogyakarta, biasanya diolah menjadi tempe bacem.
Tempe Lamtoro / Mlanding: Terbuat dari biji lamtoro (petai cina). Banyak ditemukan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tempe Menjes: Terbuat dari campuran ampas tahu dan bungkil kacang tanah, khas daerah Malang dan sekitarnya.
Tempe Bongkrek: Terbuat dari ampas kelapa (khas Banyumas). - Variasi Tempe Modern & Alternatif
Di era modern, ragi tempe juga sering diaplikasikan ke berbagai jenis bahan lain, seperti:
Kacang Arab (Chickpeas)
Kacang Hijau & Kacang Merah
Kacang Tanah
Biji-bijian (Grains): Seperti quinoa, barley, atau oat. Rasa, tekstur, dan kandungan gizi tempe non-kedelai akan berbeda-beda tergantung bahan baku yang digunakan.
Kemungkinan masih ada beberapa jenis bahan baku non kedelai lainnya di daerah anda yang bisa dibuat menjadi tempe.
Permasalahan ini menjadi bahasan tersendiri di kampus kampus Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem. Para mahasiswa di kedua Program Studi yang ada, Program Studi Teknologi Pangan
dan Agribisnis, diajak untuk mengenal secara teori serta mempraktikkannya dalam pembuatan jenis-jenis tempe tersebut.
Anda tertarik dengan studi dan bahasan tentang tempe ini ? Silahkan bergabung dengan Fakultas Pertanian Universitas Ma’soem. Tidak hanya sekedar membuat jenis-jenis tersebut tetapi juga membantu negara kita agar tidak selalu bergantung pada impor kedelai. Dengan demikian devisa negara untuk biaya impor kedelai bisa dialihkan ke pembangunan sector lain yang lebih urgen seperti Pendidikan dan Kesehatan.




